Beranda Views Opini Kebersamaan dalam Peristiwa Tari Melinting

Kebersamaan dalam Peristiwa Tari Melinting

688
BERBAGI
Bupati Lampung Timur Chusnanis Chalim menari Melinting bersama ribuan penari. (Foto: Wahab Mansur/Youtube)

Oleh Budi Hatees*

BEBERAPA waktu lalu, anak keturunan Keratuan Melinting—yang melahirkan karya budaya Tari Melinting—menaja hajat budaya yang kuat ditandai glorifikasi. Ribuan orang hadir dalam satu panggung (tanah lapang) dan mereka menampilkan Tari Melinting yang terlihat kolosal. Pasangan-pasangan penari itu begitu kompak, rapi, ritmik, dan menghibur.

“Apa perlu kita daftar ke MURI?” tanya Camat Gunung Pelindung, wakil Pemda Lampung Timur yang bersinergi dengan masyarakat pemilik budaya Melinting, untuk menggelar hajat kebudayaan itu.

“Tidak usah,” Sekretaris Kabupaten Lampung Timur memaparkan alasan, bahwa MURI hanya cocok untuk kegiatan yang syarat dengan gengsi.

Dan acara itu, berkumpulnya ribuan penari Melinting, memang bukan untuk gengsi. Acara itu sebagai penanda bahwa Kabupaten Lampung Timur memiliki ekspresi budaya yang khas, yang bisa menjadi identitas budaya untuk menguatkan fondasi nilai-nilai kebangsaan setiap warga. Sebab kebudayaan, yang jumlahnya ribuan di negeri ini, harus mampu menawarkan salah satu dari produknya agar bisa menjadi ekspresi bersama dan diterima secara luas di segala lapisan masyarakat.

Di Kabupaten Lampung Timur, ada banyak ekspresi budaya yang bisa diterima secara luas oleh seluruh masyarakat. Tapi, ekspresi budaya yang berakar dari nilai-nilai budaya Lampung, hampir tidak pernah ada yang menjelma jadi ekspresi bersama seluruh warga Lampung Timur. Tari Melinting, yang selama berpuluh-puluh tahun hanya ditarikan di lingkungan masyarakat ahli waris kebudayaan Melinting, sekarang sudah ditarikan secara kolosal dan ditampilkan di hadapan seluruh lapisan masyarakat yang beragam asal budayanya.

Dan, ternyata, dari ribuan penari Melinting yang tampil serentak, tidak sedikit para penari itu yang berlatar budaya dari luar kebudayaan Melinting. Artinya, peristiwa tari Melinting membuat Kabupaten Lampung Timur menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak punya pembeda sama sekali. Kebudayaan Melinting menjadi milik semua budaya.

Situasi ini terjadi karena di dalam peristiwa tari, seperti pernah disinggung Sardono W. Kusumo, kita selalu melihat etos yang sama, yaitu pentingnya memperhatikan ekspresi penari lain dan bahkan ekspresi penonton, agar tarian bersama itu menjadi suatu performance bersama yang menggabungkan secara harmonis dan kreatif ekspresi dari semua yang hadir dan ikut menari.

Dengan kata lain, Sardono menegaskan:” tari tak akan hidup bila masing-masing penari tak memperhatikan ekspresi orang-orang sekelilingnya (rekan penari, musikus, atau penonton). Tarian tak akan mantap berkembang bila seorang penari terlalu mengikuti ekspresi pribadinya. Itu akan membuat yang lain sulit menangkap dan mengembangkan tari sebagai peristiwa kebersamaan” (Sardono W Kusumo, Hanuman, Tarzan, Homo Erectus, 2004, halaman 109-110).

Di dalam peristiwa tari ada kebersamaan. Kebersamaan tidak akan tercipta jika semua yang terlibat tidak menurunkan standar diri atau melebur egoism pribadi, lalu menyamakan persepsi tentang apa tujuan dari kebersamaan itu.

Dalam peristiwa tari, kebersamaan itu berupa pertunjukan kesenian, dan di dalam tidak ada kekangan bagi ekspresi seseorang. Setiap penari berusaha menampilkan ekspresi terbaiknya, menggali potensi dirinya, dan penari lain akan belajar banyak dari penari lainnya. Setiap penari akan menjadi guru bagi penari lain, akan menjadi pengawas bagi penari lan.

Dengan begitu, dalam lanskap kebersamaan peristiwa tari, setiap individu dapat mewujudkan dirinya yang mungkin belum disadarinya. Artinya, kebersamaan para penari tak terbatas pada kebersamaan dalam ruang seperti dalam tarian bersama, tetapi juga kebersamaan dalam waktu.

Sebab itu, peristiwa tari, perlu mendapat perhatian serius. Pada tingkat nilai, kebersamaan dalam peristiwa tari bisa dipakai menyusun pranata social, menumbuhkan kebersamaan yang diikat oleh semacam orientasi bersama untuk menampilkan performance seni yang andal. Jika para penari Melinting yang berasal dari ragam budaya itu bisa padu, sangat mungkin mereka juga bisa padu dalam membangun daerahnya.

Mungkin, ini salah satu alasan kenapa Pemda Lampung Timur begitu sering mengapungkan potensi seni dan budaya masyarakat di lingkungannya dalam event-event kebudayaan dan pariwisata. Kita bisa menyikapinya sebagai momentum kebangkitan lokalitas sebagai ruh yang melekat pada semangat otonomi daerah. *

Budi Hatees, penyuka tari

Tari Melinting (Wahab Mansur//Youtube)

Loading...