Kebijakan PPKM Darurat Perlu Berbasis Data

  • Bagikan
I.B. Ilham Malik

Oleh: Dr.-Eng. Ir. IB Ilham Malik, ST., MT., ATU
Dosen PWK-Institut Teknologi Sumatera

Hari ini, Rabu (3/7/2021), pemerintah secara resmi menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di wilayah Jawa dan Bali. Menurut Presiden Joko Widodo, kebijakan  PPKM Darurat tersebut diambil setelah melalui kajian dan mendapatkan banyak masukan dari para menteri, para ahli kesehatan, dan juga para kepala daerah. Menurut Presiden kebijakan ini sangat penting untuk keselamatan bangsa Indonesia di tengah situasi lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini.

Saya sangat berharap, pemerintah dapat mengajak para ahli di bidang transportasi, spasial, dan teknologi untuk membantu pemerintah membuat kebijakan tentang pembatasan pergerakan orang dan barang. Termasuk juga membuat kebijakan terkait mana zona yang bisa “dimerahkan” dan mana yang tidak bisa “dianggap merah”.

Pemerintah juga bisa dibantu oleh para ahli ini untuk melakukan pendeteksian asal-muasal orang yang saat ini dianggap mengidap penyakit wabah Covid-19 ini. Dengan menggunakan teknologi, kita bisa jadi tahu, mereka ini atau pasien yang sekarang ini kita anggap membawa wabah itu, selama beberapa hari kebelakang, bergeraknya dari mana dan ke mana saja.

Dengan melibatkan teknologi, kita bisa mengetahui pasien ini dari mana dan ke mana saja. Apalagi mereka menggunakan telepon seluler. Akan menjadi lebih mudah melakukan tracking-nya. Selama ini, data hanya dipasok  para tenaga kesehatan. Data mereka dari hasil pendataan administrasi saja. Dibutuhkan cara pengumpulan dan analisis data yang lebih advance dari para ahli teknologi, transportasi dan tata ruang.

Jika mereka dilibatkan, akan sangat membantu pemerintah untuk mendeteksi data pasien, pergerakannya ke mana saja selama sekian hari ke belakang, bisa membantu pemerintah mana sektor yang sesungguhnya menjadi pembangkit wabah dan mana yang tidak, dan juga termasuk utk penetapan zona merah dan tidak merah.

Pada saat sekarang ini, pendekatan yg dibuat masih gambling. Saya bisa pahami, penyekatan di mana-mana ini nanti, datanya berasal dari satlantas dan dishub. Mereka yg tahu mana yg ramai kendaraan dan mana yang tidak. Tetapi, jangan lupa, belum tentu hal itu menjadi bagian dari rantai wabah. Masih relatif. Penyebabnya, karena basis penyekatannya bukan dari penelusuran (tracking) dan analisis transportasi dan tata ruang. Semua masih bersifat hipotesis. Maka, jadinya banyak penyekatan. Tapi ada kegiatan tertentu yg masih boleh jalan dan ada juga yang ditutup.

Bisa jadi, kegiatan yang ditutup memang menularkan covid. Tapi bisa jadi juga, bukan. Sebab tracking pasien Covid-19 tidak berdasarkan basis data pergerakan orang yang dapat diketahui dari titik koordinat orang itu selama sekian hari ini berada dimana saja. Akibatnya, bisa saja, orang itu memang pernah ke pasar. Nanun,  ia tertular ketika ketika ia berada di mallsaat kumpul-kumpu di sana membeli pakaian. Tapi malah pasar yg ditutup. Bukan mal. Jika menggunakan tracking dengan teknologi, sumber-sumber penyebaran menjadi lebih jelas dan berbasis data beneran. Sehingga juga, kebijakan penanganan penyebaran Covid-19  lebih tepat.

Sekarang ini tenaga kesehatan dan aparat dikerahkan melakukan apa pun di lapangan untuk menangkap penyebaran Covid-19. Namun, kebijakan itu masih berasal dari hipotesis semata. Sudah saatnya ahli lain diminta terlibat, agar pendekatan penanganannya lebih mendekati kebenaran. Saya berharap, ahli teknologi cerdas, transportasi, dan tata ruang, dikerahkan juga dengan alasan kedaruratan. Dengan begitu, data nakes soal pasien ada penguatnya dari ahli lain. Itu artinya, klasifikasi zona penularan Covid-19, sektor apa saja yg harus ditutup, jalur mana saja yang harus disekat dan diperiksa, menjadi lebih tepat.

Kita harus mendukung PPKM Darurat ini dengan mematuhi semua aturan. Di sisi lain,  kita berharap  Satgas Nasional Penanggulangan Covid-19, Presiden, dan dan jajaran kementerian perlu melibatkan pendekatan lain agar bisa mendapatkan bahan analisis kebijakan yg lebih baik lagi. Salam sehat bagi kita semua.***

 

  • Bagikan