Beranda Views Kopi Pagi Kebijaksanaan ala Win Malukaya

Kebijaksanaan ala Win Malukaya

306
BERBAGI
Slamet Samsoerizal*
Pernah
dengar nama Win Malukaya? Kalau belum
pernah ya sangat wajar!  Berselencar
menyusuri jejak langkah sosoknya, lewat tol Om Google pun tak akan mampu melacak jatidirinya.
Dia
cuma salah satu sahabat Mas Nakurat yang terpaksa memilih profesi sebagai kuli
tenaga (sangat) murah di perusahaan kopra di kebunan, di daerah kelahiran
tercintanya. Tegasnya, tugas Mas Win cuma bagian angkutangkut, jika ada kelapa
turun dan dengan slongkro (gerobak)
khasnya, dia angkat angkut ke gudang pabrik.
Sebelumnya,
selama belasan tahun, ia merintis sebagai laskar mandiri. Ah,  sebutan indah negara kepadanya nan tak elok
disandang.
Anda
pasti masih ingat, betapa era Orde Baru banyak fakta miris dibuat manis. Mau
contoh? Gelandangan, disapa sebagai tunawisma;
pembantu rumah tangga, disebut pramuwisma;
dan pemulung disebutnya sebagai laskar
mandiri.
Lalu di zaman serba canggih penuh gombal, atas nama Hak Asasi
Manusia, para pekerja kasar wong cilik pun supaya lebih mentereng dipadanpadankan dengan bahasa Inggris. Maka, sapaan OB (office
boy
), CS (cleaning service) cuma untuk menyebut pesuruh digunakan kedua istilah tersebut.
***
Kembali
ke Mas Malukaya … Apa yang salah dari tindakan Mas Win? Jika ini menyangkut
soal pilihan hidup, tak perlu kita hakimi. Jika itu soal kaitan ijasah yang dia
punya dan jenis pekerjaan yang dia alami, tentu tak sepadan. Mas Win berijasah
SMA lho! Masa hanya jadi kuli tarik slongkro? Jika ini soal nasib, kriteria
macam apa yang digunakan untuk bincang soal peruntungan baik-tidak baik
menyangkut pekerjaan?
Mas
Nakurat masih ingat, ketika pernah bersamanya di bangku sekolah menengah. Sosok
yang selalu tampil nyentrik nyeni ya
Mas Win seorang. Nama yang selalu tampil menulis di majalah dinding dengan ragam
tulisan dari esai hingga puisi, ya Mas Win. Melukis, oke .. menyanyi pun, sempat menggegerkan sekolah saat pentas seni
berlangsung.
Mas
Win ternyata pelantun lagu-lagu dangdut beraroma sentimental romantis.
Lagu-lagu Mansyur S, Megy Z, Mashabi, dan tentu saja semua lagu raja dangdut
Rhoma Irama dia kuasai dengan cengkok yang menawan.
Mas
Win bahkan sempat mengamen dari kampung ke kampung baik sendiri dari rumah ke
rumah maupun ikut naik pentas jika ada hajatan, nikah atau khitanan. Menurut
selera penonton, kehadirannya selalu dirindukan karena komunikasinya pun selalu
bikin renyah.  
Entah,
sejak kapan dia memutuskan untuk tak ambil peran lagi di pentas musik
perdangdutan, hingga Mas Nakurat mendengar dia sudah menikah dan tinggal di
perkampungan samrel (samping rel
kereta api). Profesinya pun beralih menjadi pemulung.
“Hidup
memang mesti nrimo ing pandum” begitu
ujarnya suatu saat sua Mas Nakurat. Maka, tanpa sungkan ia mengambili limbah ke
rumah yang ia kenal sebagai sahabat dan kerabat. Mas Win menyikapi sukses
sahabat dan kerabat alihalih takdir nan elok.
Hidup
selalu berwajah paradoks. Ada gelap dan terang. Maka, tontonlah bagaimana riuh
orang kaya dengan agenda buang uang dan si miskin gaduh dengan perutnya yang
sudah pukul 11:00, tapi kerja sudah dilakukan dan sarapan tak mampu ia santap.
***
“Masih
sempat bersajak, Mas?”
Mana sempat? Raga serasa remuk tiap pulang
nguli. Mimpi pengin disentuh tangan halus berwajah ayu di panti pijat, tapi upah
yang diterima gak  mencukupi,
hahahahaha!”
“Berdangdut
ria dengan goyang dumang?”
Pernah, tapi Chita Chitata, ternyata bohong.
Katanya kalau dengan bergoyang dumang masalah jadi hilang .. Faktanya? Masalah
gak hilang malah beranakpinak …
Nyanyi
maksudmu? Bersiul pun udah gak minat. Nafas makin megapmegap tiap angkutangkut
nguli.
(Mas
Nakurat dan Mas Win, koor ngakak)

Mas
Win Malukaya, yang paham hidup tak wajib maksa, ternyata lebih bijak dalam
bersikap. Nyatanya: ia paham pula menikmati, kapan saat mengeluh dan tidak! Ia bangga
punya slongkro:  alat yang membantunya jadi
kuli dengan status outsourching tanpa
teken kontrak! Ia tak berminat korupsi, karena korupsi cuma dilakukan oleh
mereka yang mengaku (masih) miskin harta!
* Pendidik dan peneliti pada Pusat Kajian Darindo
Loading...