Beranda News Pers Kecam Premanisme Oknum TNI AU Medan, Puluhan Jurnalis Lampung Berunjuk Rasa di...

Kecam Premanisme Oknum TNI AU Medan, Puluhan Jurnalis Lampung Berunjuk Rasa di Bundaran Tugu Adipura

55
BERBAGI

Zainal Asikin| Teraslampung.com 

BANDARLAMPUNG–Jurnalis Lampung baik dari media cetak, elektonik dan online, melakukan aksi solidaritas terkait tindakan kekerasan terhadap dua jurnalis Medan yang melakukan tugas peliputan kerusuhan antara warga dan pihak TNI AU di Medan. Aksi solidaritas tersebut, berlangsung di bundaran Tugu Adipura, Tanjungkarang Pusat, Selasa (16/8/2016) sore.

Puluhan jurnalis tersebut mengecam aksi kekerasan pemukulan yang dilakukan oknum anggota TNI AU terhadap dua wartawan medan, Array Argus (Tribun Medan) dan Andri Safrin (MNC TV). Selain menjadi korban keberingasan oknum TNI AU, kedua jurnalis tersebut diancam akan dibunuh oleh oknum TNI AU tersebut.

Aksi solidaritas tersebut dihadiri ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Lampung, Aris Susanto, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Wandi Barboy Silaban dan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Lampung, Perdiansyah serta puluhan jurnalis lainnya.

demo oknum tni 2Ketua IJTI Pengda Lampung, Aris Susanto Mengatakan, aksi oknum TNI AU yang sudah melakukan kekerasan terhadap jurnalis, tidak bisa ditolerir lagi. Karena pada saat dua jurnalis Tribun Medan dan MNC TV yang sedang meliput kericuhan warga yang mengaku bahwa tanah mereka telah diduduki TNI AU, memiliki identitas lengkap.

“Tindakan kekerasan serta tidak berprikemanusiaan ini, hingga kedua jurnalis yang menjadi korban harus dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Sejati. Hal tersebut, Merupakan sebuah tindakan premanisme yang harus dilawan,”ujar Aris, Selasa (16/8/2016).

Aris menyayangkan, menjelang hari kemerdekaan RI ke-71, justru dinodai dengan tindakan brutal dilakukan aparat negara, yang semestinya haruslah memberikan keamanan dan kenyamanan terhadap masyarakat.

“Hari ini kami dari IJTI Pengda Lampung, AJI Bandar Lampung dan PFI Lampung, menggelar aksi solidaritas dengan adanya kasus kekerasan yang menimpa kawan-kawan jurnalis kita dan warga yang terjadi di Medan, Sumatera Utara,”ujar kontributor Indosiar ini.

Aris juga meminta, agar Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), segera mengambil langkah kongkrit. Oknum TNI AU pelaku kekerasan tersebut, harus segera diadili baik secara militer ataupun pengadilan umum atas perbuatan pidananya yang telah melakukan penganiayaan.

demo oknum tni 4Menurutnya, kata-kata ancaman mau dibunuh, kukeluarkan isi perut kau ya! sembari memukulkan pentungan dengan keras kearah perut, rusuk, leher dan lainnya terhadap dua jurnalis itu, merupakan tindakan yang tak terpuji.

“Yang pukul saya itu, namanya Romel dia pakai seragam TNI AU. Saya masih ingat juga nama yang anianya saya, ada Retno dan Prasetyo kalau yang lainnya tidak bisa saya ingat,”ungkap Array seperti dirilis dari berbagai media. Menurut Aray, dia bertugas di Paskhas Lanud Suwondo Medan.

Sementara Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Wandi Barboy Silaban mengecam keras dan mengutuk aksi brutal dan arogansi oknum TNI AU yang merupakan aparat negara yang melakukan penganiayaan, intimidasi dan pengancaman terhadap Jurnalis yang sedang melakukan peliputan dan warga setempat yang ikut menjadi korban kekerasan.

“Tindakan arogansi tersebut, haruslah ditindak secara tegas dan jangan dibiarkan. Pelakunya meski mendapatkan hukuman sesuai dengan tindakan yang telah dilakukannya”tegasnya.

Menurutnya, kenapa masih ada jurnalis yang menjadi korban kekerasan dan intimidasi bahkan pengancaman.

Hal senada juga dikatakan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Lampung, Perdiansyah yang menyatakan mengutuk keras pelaku penganiayaan terhadap jurnalis yang dilakukan oleh oknum TNI AU tersebut.

“Penganiayaan dan intimidasi serta melakukan pelarangan terhadap jurnalis saat melakukan peliputan, sedah jelas merupakan pelanggaran hukum dan HAM,”ungkapnya.

Para jurnalis membawa kertas karton yang bertuliskan, kecaman terhadap oknum TNI AU yang melakukan kekerasan terhadap Jurnalis Medan.