Beranda Teras Berita Kecurangan Pemilu 2014 Bisa Terjadi di TPS Melibatkan KPPS

Kecurangan Pemilu 2014 Bisa Terjadi di TPS Melibatkan KPPS

808
BERBAGI

Mas Bowo, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Pemilu dan Pilgub Lampung: KPPS menghitung suara hingga tengah malam. (teraslampung.com)

Bandarlampung—Berbagai strategi bisa dilakukan untuk berbuat curang. Itulah yang diduga dapat terjadi pada pemilihan legislative (pileg) dan pemilihan gubernur (pilgub), Rabu (9/4). Perbuatan curang ini, di antaranya dilakukan di TPS dan melibatkan anggota KPPS.

Kecurangan antara lain dilakukan dengan mencoblos sejumlah surat suara sebelum pemilihan. Hal ini ditandai dengan terbukanya segel pada gembok kotak berisi surat suara sebelum waktunya, tanpa kehadiran saksi.

Kecurangan seperti ini sangat mungkin terjadi, mengingat kotak suara sudah berada di TPS atau di rumah salah satu anggota KPPS tanpa pengawasan, sejak malam sebelum pemungutan suara keesokan paginya.

Di beberapa tempat, seperti  Bumi Setia, Kecamatan Seputih Mataram, khusunys di TPS 4 Bumi Asih. Di TPS 4 ini, kotak suara dititp di rumah salah seorang anggota KPPS.

Bagi orang awam, sulit mengetahui apa yang terjadi dengan kotak suara yang ada di dalam rumah. Panwas, Linmas maupun aparat kepolisian, juga tidak selalu berada di tempat.
Tanpa bermaksud menuduh terjadi kecurangan di TPS tersebut, setidaknya peluang kecurangan terbuka.

Cara curang berikutnya, dapat dilakukan dengan memberi surat suara lebih dari satu kepada pemilih tertentu yang dipastikan akan mencoblos calon tertentu.

Meja KPPS yang diletakkan berhadapan dengan tempat saksi dan pemilih menjadi kuncinya. Setiap pemilih yang dipanggil akan maju dan otomatis membelakangi para saksi. Selain itu, lima jenis surat suara berbeda juga menjadi keuntungan tersendiri. Sebab jika ditambah satu jenis surat suara saja, tak ada yang tahu. modus curang yang lain, dua surat suara dalam satu lipatan.

Untuk memuluskan cara ini maka saat penghitungan suara, waktu kotak baru dibuka tidak dilakukan penghitungan jumlah surat suara dan jumlah undangan untuk membandingkan antara pemilih yang menggunakan haknya dan jumlah surat suara di dalam kotak.

di setiap metode itu, asumsi mengenai adanya golput akan menjadi acuan, berapa surat suara yang bisa dimainkan.

Kecurangan lainnya adalah saat penghitungan suara. Biasanya, ketua RT atau ketua Lingkungan sangat memengaruhi dan “disegani” oleh para saksi. Misalnya, para saksi adalah remaja atau usianya jauh di bawah ketua RT dan Lingkungan.

Saat penghitungan, anggota KPPS akan menyebut satu nama berturut-turut lalu secepatnya dimasukkan ke dalam kotak. Begitu seterusnya, sehingga para saksi tak sempat untuk menanyakan ataupun memrotes.

Kecepatan menyebut nama—khususnya pada pemilihan gubrnur—lalu memasukkan ke kotak tanpa memperlihatkan lembar surat suara pemilih kepada saksi, sangat terbuka kecurangan terjadi. Sehingga menguntungkan salah satu pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub).

Kecurangan pada penghitungan suara pilgub terjadi di salah satu TPS di Kelurahan Enggal. Ketua Lingkungan setempat mengakui hal ini, Jumat (11/4) siang. “Ah, semua itu bisa diatur. Para saksi kan anak-anak kecil, mana berani mereka protes apalagi menggugat,” katanya tersenyum.

Di TPS ini, karena keinginan ketua RT, pasangan Herman-Zainudin mengungguli tiga kandidat lainnya. Duduk di posisi kedua adalah cagub-cawagub Ridho-Bakhtiar, kemudian Alzier-Lukman, dan terakhir Berlian-Mukhlis.

“Perolehan suara antara Herman dan Ridho hanya selisih 16 suara. Herman meraup 95 suara, dan Ridho 79 suara,” katanya lagi.

Hal ini diperkuat laporan salah satu calon legislatif (caleg) untuk DPRD Provinsi Lampung dari daerah pemilihan (dapil) Lampung Timur. Sang caleg mengatakan, di beberapa TPS setempat dapat memainkan perolehan suara caleg asalkan si caleg mau membayar uang.

“Soal nominal uangnya memang relatif dan bervariasi,” kata caleg itu yang meminta namanya tidak ditulis. “Kalau kita bayar, anggota KPPS bisa mengubah jumlah perolehan suara untuk kita,” katanya lagi.

Namun, Ketua KPUD Lampung Timur Syamsul Arifien dengan tegas membantah adanya dugaan jual-beli perolehan suara caleg di Lampung Timur. “Pada prinsifnya KPU Lamtim tidak pernah punya frame untuk berbuat curang,” kata Syamsul.

Berita terkait:Di Lampung Timur, Diduga Suara Pemilu Bisa Dibeli

Loading...