Beranda Views Jejak Kegigihan Radin Imba II dan Pasukannya Melawan Tentara Belanda

Kegigihan Radin Imba II dan Pasukannya Melawan Tentara Belanda

194
BERBAGI
Pedang Kemala Bumi, salah satu senjata Radin Inten II (Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin)

Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (3)

Zainal Asikin | Teraslampung

LAMPUNG SELATAN — Anggapan Belanda ternyata keliru, saat Belanda mengirimkan ekspedisi kapal perang justru disambut perlawanan hebat oleh rakyat dari enam daerah Lampung dibawah pimpinan Radin Imba II. Ekspedisi Belanda mengalami kegagalan, dan itu tertuang dalam buku yang ditulis oleh seorang Belanda bernama Dr. R. Broersma yang berjudul “De Lampongsche Districten”.

Setelah mengalami kegagalan pada ekspedisi Belanda tahun 1828, Belanda mulai melakukan siasat yang biasa digunakan didaerah lain apabila mulai terdesak yakni menawarkan perjanjian sama halnya yang dilakukan terhadap Radin Imba II. Sedangkan Radin Imba II yang mewarisi tahta sebagai Ratu (Raja) di Keratuan Ratu Darah Putih mempuyai sifat seperti ayahandanya Radin Inten I yang anti terhadap penjajahan Belanda dan berusaha melawannya.

Sifat dan sikap dari Radin Imba II tersebut didukung juga oleh ayah mertuanya yakni Kyai Arya Natabraja dan Kepala Marga Teratas Batin Mengunang, serta rakyat daerah Semangka. Selain itu, Radin Imba II berhubungan dengan pihak luar istana yakni dengan Sultan Lingga yang diwujudkan dengan perkawinan saudara perempuan Radin Imba II dengan Sultan Lingga.

BACA: Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (1)

Tidak hanya itu, Radin Imba II berhubungan baik dengan pelaut Bugis dan Sulu. Maka dengan itu semua, membuat Belanda semakin khawatir dan menduga kalau Radin Imba II akan menyerang Belanda dan dugaan itu benar.

Pasukan Radin Imba II melakukan penyerangan ke Teluk Lampung dan berhasil mengalahkan pasukan Belanda di dekat Kampung Muton.

“Serangan yang dilakukan Radin Imba II tersebut, membuat kerugian besar pihak Belanda. Sehingga asisten Residen Belanda J.A Dubois meminta bantuan ke Batavia (Jakarta), untuk mengirimkan bala tentara kembali melakukan penyerangan,”terangnya.

Tak lama kemudian, bala bantuan tersebut datang dengan kekuatan 5 kapal perang Alexander dan Dourga, 300 serdadu Belanda, 100 serdadu Bugis semua pasukan itu di bawah pimpinan Kapten Hoffman dan Letda Kobold. Pasukan Belanda tersebut mendarat di Kalianda, lalu menuju Kampung Kesugihan dan Negara Ratu pada tanggal 8 Agustus 1832. Namun tempat tersebut, telah ditinggalkan oleh Radin Imba II dan pasukannya.

Karena tidak ditemukannya Radin Imba II yang dianggap Belanda sebagai pemberontak, membakar habis Kampung tersebut. Mengetahui tempat tinggalnya dibakar Belanda, Radin Imba II bersama pasukannya membangun kubu pertahanan yang tersebar di beberapa daerah di antaranya adalah Raja Gepeh, Pari, Bendulu, Hawi Bekhak, Merambung, Katimbang dan Sakti. Selain itu juga, Randin Imba II membangung lumbung-lumbung persediaan makanan dan menambah persenjataan dengan cara barter dengan Inggris yang saat itu berkuasa di Bengkulu.

Rumah tempat penyimpanan benda peninggalan Radin Inten I di Desa Jondong, Kalianda, Lampung Selatan.

Pada tanggal 9 September 1832, terjadi pertempuran melawan pasukan Belanda di daerah Gunung Tanggamus. Dalam pertempuran itu, Radin Imba II mengalami kemenangan dan pimpinan Belanda Kapten Hoffman mengalami luka-luka dan pasukan Belanda banyak yang tewas dalam pertempuran itu.

Pihak Belanda tidak begitu saja menerima kekalahannya, lalu Belanda yang saat itu di bawah pimpinan Kapten Hoffman kembali melakukan penyerangan kedua dengan kekuatan yang lebih besar dengan kekuatan pasukan 600 serdadu Belanda yang direkrut dari pasukan berpengalaman dalam bertempur saat melawan peperangan dengan Pangeran Diponegoro.

Pertempuran yang terjadi di Benteng Raja Gepeh tersebut, Kapten Hoffman mendapat bantuan dari pasukan pimpinan Letnan Vicq De Cumtick, Letnan Neuenborger, Letnan Huisemen, Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer. Pertempuran tersebut, merupakan pertempuran yang sangat besar hingga mengalami kerugian baik dari pihak Radin Imba II dan Belanda.

“Pada peperangan itu, Radin Imba II kehilangan sekitar 100 pasukan dan Belanda 65 orang pasukan yang tewas termasuk Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer. Namun Radin Imba II bersama pasukannya, dapat mempertahankan Benteng Raja Gepeh dari serangan Belanda,”ujarnya.

Belanda yang beberapakali mengalami kekalahan perang dengan Radin Imba II, lanjut Budiman, semakin membuat marah pemerintahan Belanda. Pada tanggal 23 September 1834, Belanda yang ada di Batavia (Jakarta) kembali mengirimkan bala bantuan tentaranya dengan kekuatan yang lebih besar lagi yakni 21 Opsir (Perwira) dan 800 pasukan tentara istimewa yang dipersenjatai dengan meriam besar dipimpin oleh Kolonel Elout.

Mereka menuju Benteng Raja Gepeh, Mereka langsung melakukan penyerangan dan berhasil diduduki dan menghancurkan Benteng tersebut. Namun Radin Imba II bersama mertuanya Kyai Arya Natabraja dan pasukannya berhasil meloloskan diri menuju ke Kesultanan Lingga dan meminta bantuan perlindungan.

Ternyata tempat persembunyian Radin Imba II itu diketahui oleh Belanda. Karena ditekan oleh Belanda yang akan menyerang ke Kerajaan Lingga, apabila tidak menyerahkan Radin Imba II bersama pasukannya. Dengan terpaksa, Raja Lingga pun dengan terpaksa menyerahkan Radin Imba II bersama ayah mertuanya dan pasukannya ke tangan Belanda.

Baca: Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (2)

Kemudian Belanda membawa Radin Imba II, ayah mertuanya, dan pasukannya ke Batavia. di Batavia, ayah mertuanya dan hulubalangnya Radin Mengunang meninggal dunia. Sedangkan Radin Imba II bersama dibuang oleh Belanda ke Pulau Timor dan disinilah Radin Imba II diperkirakan telah meninggal dunia. Sedangkan istrinya, Ratu Mas yang saat itu sedang hamil tua, dipulangkan lagi oleh Belanda ke Lampung.

“Sepeninggalnya Radin Imba II, sejak saat itulah kekuasaan Lampung kembali ada ditangan penjajah Belanda selama kurang lebih 15 tahun dan Lampung sepi dari pemberontakan. Hingga sampai akhirnya pada tahun 1834, Istri Radin Imba II yakni Ratu Mas melahirkan seorang anak laki-laki dan anak tersebut bernama Radin Inten II. Ia meneruskan jejak kakeknya, Radin Inten I dan ayahnya, Radin Imba II sebagai orang yang anti dengan penjajah Belanda,”jelasnya.

Menurut Budiman Yaqub, ada beberapa benda Peninggalan Radin Intan I di Desa Jondong, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Benda-benda peninggalan sejarah tersebut diantaranya adalah, Aksara Lampung Kuno, Kawai (Baju), Kotak Penawar Racun, Kotak Penyimpanan, Mangkok Susu Kerbau Putih, sebilah pedang dan peta perjalanan menuju ke tanah suci Mekah.

Itulah kilas sejarah Keratuan Ratu Darah Putih yang jejaknya bisa ditemukan di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan dan sosok Ayah dan Ibu serta kakek buyut dari Radin Inten II yang merupakan pahlawan nasional asal Lampung yang gigih berjuang menentang penjajah Belanda di tanah Lampung.

BACA JUGA: Jejak Keratuan Darah Putih, Minak Gejala Bidin dan Minak Gejala Ratu Menemui Ayahnya di Kesultanan Banten