Kejati Siap Selidiki Dugaan Korupsi Rp 2,5 di Dispenda Lampung

  • Bagikan

Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDAR LAMPUNG – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, mulai melakukan penyelidikan dugaan korupsi di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Lampung tahun anggaran 2013-2014 senilai Rp2,5 miliar. Saat ini Kejati sudah membentuk tim untuk melakukan pengumpulan data pengumpulan bahan dan keterangan.

Kasi Penerangan Hukum Kejati Lampung, Yadi Rahmad, mengatakan sejak adanya laporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Bersatu (LSMB) beberapa waktu lalu, pihaknya langsung menindaklanjuti. Namun, kata Yadi, hingga saat ini Kejaksaan belum memanggil atau meminta keterangan saksi.

“Baru pengkajian berkas laporan yang ada, termasuk menelaah bukti–bukti yang telah dilampirkan dalam laporan tersebut,” kata dia.

Kejati menduga beberapa proyek pengadaan di Dispenda Provinsi Lampung bermasalah. Antara lain, belanja modal meja dan kursi sebesar Rp770,6 juta, belanja perlengkapan kantor sebesar Rp139 juta, belanja kipas angin sebesar Rp87,5 juta, pengadaan perlengkapan kantor senilai Rp115 juta, pengadaan jasa sewa billboard senilai Rp730 juta, serta pengadaan Samsat Keliling dan perlengkapannya senilai Rp667,88 juta pada 2014. Total anggaran keseluruhan yang diduga telah diselewengkan mencapai Rp2,5 miliar.

Diduga, paket proyek pada Dispenda tersebut telah dikondisikan oleh oknum pejabat Dispenda, sehingga tender hanya formalitas belaka. Bahkan, ada indikasi beberapa item kegiatan paket yang ada, justru dikerjakan sendiri.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pendapatan Daerah, Rozali, saat dikonfirmasi mengatakan proyek pengadaan sebenarnya tidak ada masalah dan  proses lelangnya berjalan sebagaimana dengan semestinya.

“Tidak ada indikasi-indikasi penyimpangan, karena terbuka melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) dan bisa dilihat semua orang, Siapa pun bisa juga mendaftar di situ secara online,” kata Rozali.

Rozali juga membantah proyek dikelola sendiri oleh Dispenda. “Tidak mungkin. Itu kan mengada-ada. Bisa dibuktikan di internet, bahkan untuk lelang ini ada juga yang dari Semarang masuk. Kan dilihat nilai penawarannya, ada yang terbaik dan terendah. Semua tidak ada masalah,” ungkapnya.

Rozali mengaku tidak khawatir bila Kejati Lampung membentuk tim untuk mengusut proyek tersebut. Bahkan dirinya menilai, dugaan korupsi ini sengaja diembuskan oleh pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan pemenang lelang yang ada.

“Ini semua sudah ada prosedurnya, jadi tidak ada masalah,” katanya.

  • Bagikan