Kekayaan Orang Indonesia Menurut Bank Dunia

  • Bagikan
Moh Shobirienur Rasyid/Foto: Istimewa

Oleh: Moh Shobirienur Rasyid

Rubrik Nasional Majalah Kontan edisi Jumat 29 Oktober 2021 menurunkan tulisan berjudul “Bank Dunia Melaporkan, Rata-rata Kekayaan Orang Indonesia mencapai Rp.2 Miliar”. Kontan mengambil angka ini dari laporan Bank Dunia yang dirilis pada Rabu 27 Oktober 2021 dan mengkonversi dolar AS dengan harga Rp.14.427,00 per dolar AS.

Bila jumlah penduduk Indonesia sejumlah 250 juta, maka kekayaan yang ada di Indonesia itu senilai 250.000.000,00 x Rp.2.000.000.000,00. Total kekayaan Indonesia senilai Rp.500.000.000.000.000.000,00. (baca: 500 kuadrilyun, atau 500 dwiyar rupiah). Bilangan sebanyak ini tidak mampu ditampung oleh layar Kalkulator Standard, karena kalkulator Kalkulator Standard hanya mampu menampung hingga 9.999.999.999.999.999 (10 kuadrilyun dikurangi 1).

Angka 2 miliar rupiah itu adalah angka rata-rata saja. Angka rata-rata itu tidak dihasilkan dari “modus” dalam statistik, yakni bukan karena jumlah penduduk yang memiliki kekayaan Rp2 miliar sangat dominan di antara 250 juta penduduk.

Alhasil, angka itu sama sekali tidak menggambarkan realitas sosial yang sesungguhnya. Angka itu bukanlah indikator kesejahteraan sosial masyarakat keseluruhan telah meningkat dari periode-periode sebelumnya.

Angka Rp2 miliar rupiah itu lebih masuk akal jika dipahami dengan pendekatan Prinsip Pareto 80/20.

***

Vilfredo Federico Damaso Pareto (1848–1923) adalah seorang insinyur, sosiolog, pengamat politik, ekonom, dan filsuf kebangsaan Italia. Analisis ekonominya menggunakan pendekatan matematis yang mudah dinalar akal sehat, yang dikenal dengan Prinsip Pareto 80/20.

Dengan menggunakan Prinsip Pareto 80/20 ini, realitas kekayaan penduduk Indonesia yang rata-ratanya Rp.2 Miliar itu dapat dipahami sebagai realitas sosial yang menggambarkan dua hal:
[a] 80% kekayaan Indonesia itu dimiliki oleh 20% penduduk Indonesia, dan
[b] 80% penduduk Indonesia lainnya hanya memiliki kekayaan sebanyak 20% saja.

Bila kekayaan Indonesia adalah 500 kuadrilyun rupiah dan penduduk Indonesia adalah 250 juta jiwa, maka sebaran kekayaan itu adalah:
[a] 80% dari 500 kuadrilyun rupiah beredar pada 20% dari 250 juta penduduk. Dalam hasil penghitungan berarti kekayaan senilai Rp. 400 kuadrilyun beredar pada 5 juta penduduk saja. Angka kekayaan rata-rata 5 juta penduduk ini masing-masing Rp80 miliar.
[b] 20% dari 500 kuadrilyun rupiah beredar pada 80% dari 250 juta penduduk. Dalam hasil penghitungan berarti kekayaan senilai Rp. 100 kuadrilyun beredar pada 245 juta penduduk. Angka kekayaan rata-rata 245 penduduk Indonesia ini masing-masing adalah Rp400 juta.

Angka ini lebih masuk akal ketimbang angka Rp2 miliar terdistribusikan kepada seluruh penduduk. Atau, Anda dapat membacanya sebagai Rp1,6 miliar dari 245 juta penduduk tersedot untuk menggenapi kekayaan 5 juta penduduk lainnya.

***

Bila kekayaan sejumlah penduduk Indonesia tidak pernah mencapai Rp400 juta, maka gugatlah pendekatan matematis Prinsip Pareto 80/20. Bila tak hendak menggugatnya, tetapi kekayaan Anda tidak mencapai Rp400 juta, maka gunakanlah Prinsip Pareto 80/20 ini untuk menyelesaikannya.

Dari 100 kuadrilyun rupiah kekayaan Indonesia yang terbagi kepada 245 juta penduduk, secara Pareto dapat dipahami sebagai:
[a] 80% dari 100 kuadrilyun (berarti Rp.80 kuadrilyun) miliki oleh oleh 20% dari 245 juta penduduk. Angka rata-rata yang dihasilkan adalah Rp.1,63 miliar dimiliki oleh masing-masing 49 juta penduduk.
[b] 20% dari 100 kuadrilyun (berarti Rp.20 kuadrilyun) miliki oleh oleh 80% dari 245 juta penduduk. Angka rata-rata yang dihasilkan adalah Rp.102 juta dimiliki oleh masing-masing 196 juta penduduk.

Dengan demikian bisa dicatat bahwa:
[a] 196 juta penduduk memiliki kekayaan rata-rata Rp.102 juta
[b] 49 juta penduduk memiliki kekayaan rata-rata Rp.1,63 miliar
[c] 5 juta penduduk memiliki kekayaan rata-rata Rp. 80 miliar

Sebuah catatan yang fantastis tentang distribusi kekayaan penduduk Indonesia.

***
Bila Angka Rp102 juta pun masih tidak masuk akal buat Anda, maka silakan menghitung sendiri dengan Prinsip Pareto di atas. Saya tidak cerdas dalam soal hitung-menghitung.

Ketika disodori angka 2 miliar oleh Bank Dunia itu, saya sudah bermimpi macam-macam. Ketika saya terbangun dari mimpi, kesedihan dan kemarahan menggumpal menjadi satu. Hanya Tuhan yang tahu.****

*Moh Shobirienur Rasyid adalah pendidik

  • Bagikan