‘Kelebu’

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Kelebu merupakan bahasa Palembang yang artinya mendekati sama dengan kata tenggelam dalam bahasa Indonesi baku. Kosa kata ini digunakan untuk menyebut benda seperti perahu kecil hingga besar dan kapal yang hampir maupun sudah tenggelam.

Selain untuk menyebutkan benda yang tenggelam, kelebu juga termasuk ungkapan yang digunakan masyarakat untuk menyebut istilah kerugian secara tidak langsung, dan hal-hal tidak menguntungkan lainnya. Rasa bahasa akan terasa jika kita masukkan kedalam kalimat sebagai berikut: “Payo jangan banyak igo barang tu, kalu gek kelebu ketek kamu” terjemahannya kira-kira “Ayolah, jangan terlalu banyak barang-barangnya, nanti tenggelam perahu kecilmu itu”. Kalimat itu menunjukkan kondisi nyata, beda dengan contoh berikut ini “Ay mang amen cak itu modelnyo kelebu kito” terjemahannya kira-kira “Ay om, kalo caranya seperti itu rugi kita”.

Kelebu tampaknya bisa menjadi bahan humor tingkat tinggi bagi orang Palembang, karena mampu diberi muatan cita rasa bahasa yang tinggi. Kekhasan ini menjadi begitu kental jika sedikit diberi kesan ngibul. Oleh karena itu istilah ini memasyarakat disumatera selatan bagi pengguna bahasa Palembang, baik dari kalangan kebanyakan sampai pada pejabat. Uniknya istilah ini menjadi begitu popular bahkan melekat menjadi ciri khas keseharian “wong plembang”.  Lalu apa kerja kita membahas kata itu ? ternyata penggunaan istilah itu tepat sekali untuk penggambaran kondisi masyarakat pada saat tahun politik seperti sekarang ini.

Ambil contoh dalam pemilihan Pimpinan Perguruan Tinggi di Indonesia menganut pola calon di pilih oleh senat, namun siapa yang akan menjadi pimpinan itu ditetapkan oleh Menteri sebagai otoritas perwujudan pemerintah akan “saham” atas  perguruan tinggi negeri. Oleh karena itu penghimpun suara terbanyak tidak otomatis ditetapkan; bisa saja suara yang tidak signifikan junlahnya justru yang ditetapkan. Bagi mereka penghimpun suara terbanyak dan tidak ditetapkan inilah yang disebut “kelebu” atau ibarat Kapal dia karam. Banyaknya menghimpun suara justru bukan menjadi penentu kemenangan, malah bisa menjadi pemberat dan kemudian kelebu.

Kondisi seperti ini akan terus memakan korban, karena yang banyak belum tentu menang, malah bisa jadi pecundang. Sekalipun dasar pemikiran mayoritas belum tentu baik; namun agar orang tidak kelebu; seharusnya ada terobosan baru untuk menghargai nilai yang banyak dengan tidak mengabaikan yang sedikit. Pada posisi ini pasti akan terjadi perdebatan antara yang pro dan yang kontra; hal itu wajar saja, tetapi paling tidak sudah ada ruang untuk mencari formulasi terbaik yang menguntungkan semua fihak; dengan cara menemukenali parameter yang terbuka dan diketahui oleh public.

Untuk membuat terobosan baru di dunia yang berhubungan dengan kekuasaan, pada umumnya memakan waktu lama, bahkan bisa jadi menunggu pergantian kepemimpinan. Waktu yang ditempuh bisa sampai pada periodesasi generasi. Kecuali ada hal-hal yang bersifat luar biasa atau istimewa; karena kecenderungan untuk mempertahankan genggaman akan kekuasaan itu cenderung absolut, oleh karenanya tidak salah jika di dunia filosof ada jargon yang mengatakan segenggam kekuasaan itu jauh lebih penting dari sejuta kebenaran.

Ini baru satu wilayah sosial, belum wilayah yang lain, jika kita cermati unsur “mempertahankan”  atau lebih dikenal dengan status qua, lebih banyak kita jumpai, dan anehnya pemikiran kritis sering dipersepsikan sebagai anti kemapanan, atau lebih miris lagi diberi label “radikal”.  Diksi yang terakhir ini sekarang menjadi bahan dagangan yang laris di negeri ini. Bisa dijadikan “senjata sapu jagad” untuk memberangus mereka yang berpikiran beda atau berseberangan; serta bisa dijadikan “pembenaran” dari semua tindakan sekalipun tindakannya sendiri tidak benar. Ukuran kedekatan dengan “petinggi” pusat pemerintahan menjadi semacam “jimat sosial” yang menjadi andalan untuk suatu keberhasilan.

Ternyata “kelebu” sudah merambah kebanyak wilayah kehidupan; tentu sesuai dengan hakekat makna dasarnya yang memposisikan siapapun dia pada keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan kata lain kelebu adalah keadaan tidak baik-baik saja yang sedang berlangsung pada seseorang, atau sekelompok orang; yang diakibatkan dari kesalahan mengambil posisi atau keputusan dari suatu persoalan.

Siapapun dia tentu dalam perjalanan hidupnya pernah mengalami kondisi kelebu ini, hanya tingkat “kekaramannya” yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya, atau satu persoalan dengan persoalan lainnya. Namun perlu diingat bahwa kehidupan itu memiliki pasang-surut, hanya Orang Palembang memiliki prinsip dalam menghadapinya, yaitu “Kalu lagi pasang jangan sampek kelebu, kalau lagi surut jangan sampek tekandas”. Terjemahan bebasnya kalau sedang air pasang jangan sampai kelebu, dan kalau sedang surut hangan sampai kandas; maksudnya segala sesuatu dalam hidup ini harus diperhitungkan dengan cermat dan masak-masak, serta jangan gegabah.

Selamat ngopi pagi.