Keliru, Narasi Berisi Klaim Ketua Umum AJI Sasmito Mendukung Bendungan Bener, Penangkapan Haris Azhar-Fatia, dan Pembubaran FPI

Tangkapan layar unggahan poster dan cuitan yang memuat foto Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim dengan narasi yang menyatakan bahwa Sasmito mendukung pembangunan bendungan Bener Purworejo (Wadas), penangkapan aktivis Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti serta pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI).
Tangkapan layar unggahan poster dan cuitan yang memuat foto Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim dengan narasi yang menyatakan bahwa Sasmito mendukung pembangunan bendungan Bener Purworejo (Wadas), penangkapan aktivis Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti serta pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI).
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM — Sejumlah poster yang memuat foto Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito, beredar di media sosial, 24 Februari 2022. Poster-poster itu berisi narasi bahwa Sasmito mendukung pembangunan bendungan Bener Purworejo, penangkapan aktivis Haris Azhar-Fatia Maulidiyanti serta pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI).

Poster yang memuat narasi dukungan terhadap pembangunan Bendungan Bener diunggah ke Twitter oleh akun ini. Pada hari yang sama, akun tersebut mengunggah poster klaim dukungan atas penangkapan aktivis Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti.

Kemudian akun yang berbeda Poster berikutnya memuat narasi Sasmito mendukung pembubaran FPI.

Tangkapan layar unggahan poster dan cuitan yang memuat foto Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim dengan narasi yang menyatakan bahwa Sasmito mendukung pembangunan bendungan Bener Purworejo (Wadas), penangkapan aktivis Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti serta pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI).

Hasil Pemeriksaan Fakta

Dalam siaran persnya, AJI Indonesia menyatakan bahwa ketiga pernyataan yang dimuat dalam poster-poster tersebut adalah palsu atau tidak pernah diucapkan Ketua Umum AJI Sasmito. Sebaliknya, AJI Indonesia adalah organisasi yang mendukung dan turut berjuang untuk kebebasan berkumpul dan berpendapat, kebebasan berekspresi, dan hak warga untuk mendapatkan informasi.

Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Erick Tanjung, menyatakan ketiga disinformasi tersebut, untuk mengadu domba AJI Indonesia dengan organisasi masyarakat sipil lainnya, termasuk membenturkan AJI dengan warga Wadas yang sedang berjuang menolak eksploitasi sumber daya alam di kampungnya.

“Serangan disinformasi terhadap Ketua Umum AJI adalah ancaman serius bagi kebebasan pers dan kebebasan berekspresi,” kata Erick melalui rilisnya, Kamis, 24 Februari 2022.

Penyebaran disinformasi itu adalah rangkaian serangan terhadap Ketua Umum AJI Sasmito. Sehari sebelumnya, Sasmito mendapatkan serangan peretasan di Whatsapp, Instagram, dan Facebook.

Terkait Klaim Dukungan Pembangunan Bendungan Bener

Hasil pemeriksaan fakta Tempo juga menunjukkan, tidak ada pernyataan Ketua Umum Sasmito mendukung bendungan bener. Sebaliknya, Sasmito dan AJI Indonesia menyoroti rencana pembangunan bendungan ini yang mengancam warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purwoharjo, Jawa Tengah.

Sejumlah warga Wadas menolak lahannya dibebaskan untuk penambangan batu andesit di seluas 124 hektar. Batu andesit tersebut yang akan digunakan sebagai bahan material pembangunan bendungan Bener. Pada 8 Februari 2022, aparat gabungan mendatangi Desa Wadas untuk mendampingi puluhan petugas BPN yang akan melakukan pengukuran tanah dari proyek Bendungan Bener.

Dalam peristiwa itu, AJI Indonesia justru mengeluarkan siaran pers yang mengkritik pemerintah dan aparat keamanan karena berupaya mendistorsi berita terkait pengamanan berlebihan, kekerasan dan penangkapan warga. Siaran pers AJI Indonesia yang ditandatangani Ketua Umum Sasmito tersebut bisa dibaca di tautan ini.

Rilis kedua yang dikeluarkan AJI terkait pembangunan Bendungan Bener diterbitkan pada 11 Februari 2022. Rilis tersebut mengecam tindakan intimidasi dan memaksa jurnalis menghapus rekaman video hasil liputannya di Wadas. Tindakan tersebut merupakan tindakan menghalang-halangi kerja-kerja jurnalistik yang dilindungi undang-undang.

Klaim mendukung penangkapan Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti

Fakta yang ditemukan Tempo, AJI Indonesia justru mengecam pelaporan dan pemanggilan terhadap aktivis HAM, Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti. Melalui Koalisi Masyarakat Sipil Serius Revisi UU ITE –di mana AJI bergabung didalamnya, mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Purnomo mendorong jajarannya untuk tidak menindaklanjuti pelaporan pidana terhadap keduanya.

Koalisi Masyarakat Sipil menilai pelaporan yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tersebut merupakan salah satu bentuk serangan pada para pembela hak asasi manusia oleh pejabat Indonesia dengan cara menyalahgunakan hukum untuk keperluan dirinya sendiri.

Siaran pers Koalisi Masyarakat Sipil diberitakan oleh Kompas.com.

Dalam video di akun Yayasan LBH Indonesia juga terlihat bahwa Ketua Umum AJI Sasmito, datang bersolidaritas saat Haris Azhar dan Fatia dipanggil oleh Polda Metro Jaya.

Klaim mendukung pembubaran FPI

Tempo mendapatkan fakta bahwa Ketua Umum AJI dan AJI Indonesia tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang mendukung pembubaran Front Pembela Islam. Sebaliknya, Komunitas Pers, termasuk AJI, mendesak Kapolri saat itu Jenderal Idham Azis mencabut pasal 2d dalam maklumat Polri tentang FPI.

Komunitas Pers menilai pasal 2d dalam maklumat tersebut tidak sejalan dengan demokrasi dan dapat mengancam tugas jurnalisme. “Salah satu isi maklumatnya, tepatnya di Pasal 2d, yang isinya menyatakan ‘masyarakat tidak mengakses, mengunggah, dan menyebarluaskan konten terkait FPI baik melalui website maupun media sosial’,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) periode 2017-2021 Abdul Manan dikutip dari Detik.com, Sabtu 2 Januari 2021.

Pernyataan sikap Komunitas Pers ini disepakati pada 1 Januari 2021. Selain AJI, pihak yang tergabung dalam Komunitas Pers adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Pewarta Foto Indonesia (PFI), Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred), dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, poster-poster berisi foto dan klaim Ketua Sasmito Madrim, Keliru. Tiga narasi dukungan terhadap pembangunan Bendungan Bener, penangkapan Hariz Azhar – Fatia, serta dukungan terhadap pembubaran FPI tidak pernah diucapkan oleh Ketua Umum Sasmito maupun AJI Indonesia sebagai organisasi.

TEMPO

You cannot copy content of this page