Beranda News Kesehatan Kematian Mendadak Bisa Dicegah*

Kematian Mendadak Bisa Dicegah*

1306
BERBAGI
Oleh Dr. Handrawan Nadesul
Otot jantung yang rusak (dok Handrawan Nadesul)
Sudden death bisa saja judul film, atau lagu. Tapi yang kita
bicarakan soal kematian mendadak yang acap terjadi sekarang ini. Makin banyak
dan sering orang sekarang yang mati mendadak. Saat di meja makan, sedang pidato,
atau sewaktu berhubungan seks. Apa lagi kalau bukan masalah jantung penyebabnya.

Dunia medik
mengenalkematian prematur (premature death). Sebagian besar kematian prematur
berkategori mati mendadak. Di luar kasus kecelakaan, mati mendadak kebanyakan masalah
jantung penyebabnya. Namun tentu, bukan setiap penyakit jantung harus berujung
mati mendadak. Stroke perdarahan juga bisa berujung mati mendadak.

Cardiac arrest

Ya, hanya bila jantung
mengalami henti berdenyut atau cardiac arrest, yang lazimnya berakhir dengan
mati mendadak. Namun tidak semua penyakit atau gangguan jantung akan berakibat
jantung langsung berhenti berdegup. Apabila terjadi gangguan listrik jantung,
salah satunya.

Kita tahu jantung
berdegup secara tetap berirama berkat listrik jantung. Gangguan pada sistem
listrik jantung yang menyebabkan jantung bisa stop berdegup, atau berdegup tapi
iramanya kacau.

Semua gangguan irama
jantung, baik yang berasal dari serambi jantung terlebih dari bilik jantung,
berisiko untuk mati mendadak. Mereka yang memakai pacu jantung (pace maker),
yang jantungnya berdetak oleh mesin pacu, yang menyelamatkannya dari ancaman
mati mendadak.

Kalau
ditanyakan siapa yang berisiko mati mendadak, ya barang tentu yang jantungnya
sudah mulai, atau pernah terganggu. Kita tahu penyakit jantung beragam mulai
dari sumbatan koroner, pembengkakan jantung, gangguan katup, infeksi, sampai
kelainan bawaan. Sebagian besar berisiko sewaktu-waktu bisa mengalami mati
mendadak.

Perlu
waspada bila punya masalah koroner. Mereka yang lemak darahnya tinggi
(hyperlipidemia), dan bila ditambah dengan diabetes, hipertensi, merokok,
kegemukan, serta gaya hidup kurang gerak (sedentary life style), berpeluang
terserang mati mendadak gara-gara masalah koroner. Bukan langsung disebabkan
oleh penyakit jantungnya, melainkan oleh komplikasi yang ditimbulkannya.

Akibat
sumbatan koroner, ada bagian otot jantung yang mati, lalu kemampuan jantung
memompa di bagian yang ototnya mati menjadi lemah, atau berkurang. Begitu juga
apabila hipertensi dibiarkan puluhan tahun bikin otot jantung melar meregang,
lalu jantung membengkak. Pada satu titik saat jantung sudah tak mampu lagi
berkompensasi, mati mendadak pun bisa terjadi.

Khusus
keadaan otot jantung menua, yang sudah mengalami proses menua, otot jantung
mengalami fibrosis atau berubah sifat, sehingga fungsi memompanya menurun.
Apabila daya pompanya di bawah kecukupan, sehingga darah tak memadai untuk
kebutuhan seluruh sel tubuh, mati mendadak akan terjadi.

Keluhan dan Gejala

Penyakit
jantung yang mana pun tentu memunculkan keluhan dan gejala. Gangguan koroner
jarang sampai mematikan. Pada gangguan koroner keluhannya nyeri dada yang khas
menjalar ke lengan, leher, dan punggung. Namun, serangan koroner yang berulang,
yang kian luas merusak otot jantung, sehingga pada akhirnya bisa mengalami mati
mendadak juga.

Juga bila
jantung sudah membengkak akibat hipertensi lama, tidak harus selalu mematikan.
Namun pembengkakan otot jantung yang menjadikan kemampuan memompanya di bawah
separuhnya (ejection fraction 30-35%)) yang bisa berujung mati mendadak. 

Demikian
pula bila ada gangguan katup jantung sehingga pemompaan jantung tidak efisien.
Akibatnya, kerja jantung semakin berat, lama-lama jantung membengkak juga.
Kelainan jantung bawaan yang tidak dikoreksi berakibat sama pada otot jantung.

Keluhan
jantung bengkak bukan nyeri dada melainkan sesak napas dan berdebar cepat
sekali. Bisa hanya sekadar berdebar (palpitation), bisa sampai hanya gemeletar
(fibrilation) dan paling berat hanya getar belaka (flutter). Ujungnya mati
mendadak juga.

Waspada
juga apabila sering jatuh pingsan tanpa sebab jelas, tensi darah tiba-tiba
turun, dan lekas lelah, sejatinya itu semua menjadi petunjuk kalau fungsi
jantung sudah tidak mampu menjalankan tugas memompanya dengan penuh. 

Orang
dengan bakat dan berisiko stroke bisa mati mendadak apabila jenis strokenya
tergolong stroke perdarahan. Stroke sebab pecahnya salah satu pembuluh darah
otak,sehingga darah tumpah membanjiri otak, lalu koma saat serangan kelumpuhan
mematikan itu terjadi.

Itulah sebabnya kita perlu mendengarkan suara keluhan tubuh itu, lalu melakukan koreksi, mengendalikan
semua faktor risiko, barangkali masih ada kesempatan untuk membatalkan tidak
sampai harus mengalami mati mendadak, siapa pun yang menjadi penyebabnya.***

Catatan: Ini juga alasan mengapa saya terus bermimpi memberikan pencerahan kepada semakin banyak teman sahabat kerabat dan masyarakat. Secara logika medik kita bisa mencegah semua kejadian terburuk,di luar ajal dan maut. Kalau seseorang jantungnya sudah bermasalah, tidak bisa diatasi hanya dengan berdoa. Harus ada upaya keras sampai yang paling optimal, karena membiarkan masalah badan, berujung kematian juga. Angka mati muda (premature death) makin bertambah banyak, saya kira bukan maunya Yang Maha Khalik. Tawaran saya memberikan pencerahan maksudnya memberdayakan masyarakat mampu membatalkan jatuh sakit, termasuk mati prematurnya. Namun sedih kalau tawaran saya memberikan pencerahan kurang bersambut.—Dr. Handrawan Nadesul

Loading...