Beranda News Nasional Kemenkes Klarifikasi soal Pembalut dan Pantyliner yang Mengandung Klorin

Kemenkes Klarifikasi soal Pembalut dan Pantyliner yang Mengandung Klorin

225
BERBAGI
Ilustrasi (Foto: jpnn.com)

JAKARTA, Teraslampung.com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklarifikasi temuan YLKI terkait klorin yang terkandung dalam sejumlah merek pembalut. Menurut Kemenkes, klorin tidak berbahaya jika ditemukan dalam jumlah sedikit dan hanya beracun jika termakan atau terminum.

“Klorin itu berbahaya jika termakan atau terminum. Jadi klorin itu dilarang digunakan dalam makanan dan minuman,” tutur Dra Maura Linda Sitanggang, Apt, PhD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes, di Rumah Dinas Menteri Kesehatan, Jl Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2015).

Menurut  Linda,  pembalut yang saat ini beredar dan disinyalir berbahaya menurut YLKI pada dasarnya aman digunakan.

Linda  meluruskan soal Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No 472/1996 yang dikatakan melarang penggunaan klorin karena bersifat racun dan iritan.

Linda mengatakan,  Permenkes tersebut dimaksudkan untuk melarang penggunaan klorin dalam pembuatan obat dan makanan. Soal temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Linda beranggapan bahwa mungkin saja yang dimaksudkan adalah dioxine.

“Kalau klorin selama tidak tertelan ya tidak berbahaya. Mungkin yang dimaksud adalah dioxine, karena dioxine mudah menguap dalam suhu panas. Ini yang bisa menyebabkan kulit iritasi dan kanker,” katanya.

Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek mengatakan bahwa soal iritasi dan gatal-gatal akibat pembalut merupakan kasus individual. Artinya kasus ini hanya terjadi pada beberapa orang dan bukan akibat dari kesalahan suatu produk.

“Jadi masyarakat tenang saja. Pembalut yang sekarang beredar di masyarakat sudah lulus tes dan aman digunakan,” kata dia.

Sementara itu, beberapa jam setelah informasi YLKI beredar banyak pengguna media sosial–umumnya perepuan — sempat kebingungan. Sebab,  merek pembalut yang disinyalir YLKI sebagai merek yang mengandung klorin adalah merek yang sudah sangat famuliar bagi mereka.

“Masa hiya tidak ada satu pun merek yang aman? Terus para perempuan harus beli di mana? Merek apa? Apa  harus kembali je zaman dulu lagi, pakai handuk?” tulis seorang ibu muda di akun Facebooknya.

Bambang Satriaji/Dewira

Loading...