Beranda Pendidikan Iptek Kenali Komponen Zat Berbahaya pada Mainan Bayi

Kenali Komponen Zat Berbahaya pada Mainan Bayi

156
BERBAGI
umekids.sg

PERLU  disadari bahwa sebagai orangtua, Anda dituntut untuk lebih selektif dalam memilih mainan bayi! Mengapa begitu? Jika asal pilih, bisa-bisa si Kecil mengalami hal-hal tidak diinginkan seperti tersedak, lecet pada kulit, iritasi, hingga terkena penyakit yang diakibatkan oleh paparan zat kimia berbahaya yang terkandung dalam mainan tersebut.

Ketelitian dalam memilih mainan yang aman bagi anak, sering kali dilupakan oleh para orang tua, apalagi sulit bagi orang tua atau orang awam untuk mengenal kandungan zat berbahaya pada mainan bayi. Tidak perlu khawatir, Anda hanya perlu memastikan keberadaan logo sertifikasi pada mainan. Logo sertifikasi ini berguna untuk menandakan bahwa mainan tersebut aman dan telah lulus berbagai kriteria pengujian, termasuk kadar aman kandungan bahan kimia. Menariknya, logo ini memiliki bentuk atau ciri khas yang berbeda-beda di setiap negara, seperti CE, ST, dan untuk Indonesia adalah SNI. Jika logo yang dimaksud tidak ada, lebih baik hindari memberinya mainan tersebut ya!

Hal ini juga turut menarik perhatian Ketua Asosiasi Importir & Distributor Mainan Indonesia, Eko Wibowo Utomo. Beliau berpendapat bahwa cara paling efektif dalam memilih mainan yang aman bagi si Kecil adalah dengan memerhatikan logo sertifikasi atau dengan mencermati perbedaan warna mainan.

“Untuk mainan berbahan plastik, beberapa menggunakan plastik daur ulang. Perbedaannya bisa dilihat dari warna mainan yang buram, tidak cerah. Harganya juga murah. Mainan berbahan plastik daur ulang ini berisiko mengandung merkuri, dan kami menyangsikan keamanannya,” ucap Eko Wibowo Utomo ketika diwawancarai oleh Kompas Health di Alam Sutera, Serpong, dan Tangerang Selatan (27/11/13).

Tony Sinambela – Kepasa Pusat Standardisasi Kementrian Perindustrian – menambahkan bahwa betul ada beberapa kriteria mainan yang berbahaya bagi anak, seperti kandungan zat kimia merkuri.

“Kriteria mainan yang tidak membahayakan berdasarkan standar SNI di antaranya tidak boleh berujung tajam, tidak muda terbakar, tidak ada unsur kimia tertentu seperti merkuri, tidak boleh ada migrasi bahan kimia dari mainan ke tubuh anak,” jelas Tony.

Sayangnya, zat berbahaya seperti merkuri dan timbal masih sering ditemui pada mainan bayi, khususnya pada produk yang tidak memiliki logo sertifikasi baik internasional CE, ST, ataupun sertifikasi lokal seperti SNI. Eko menerangkan bahwa data pada tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia hanya membatasi penggunaan delapan bahan kimia pada mainan anak. Sementara di sisi lain, Eropa telah melarang 18 zat kimia dalam pembuatan mainan anak. Perbandingan yang cukup mengkhawatirkan, bukan?

“Anak menjilat dan mengemut mainan sangat mungkin terjadi. Apalagi anak kurang dari tiga tahun yang tidak bisa dikontrol kebiasaannya memasukkan mainan ke mulut. Ini yang harus lebih diwaspadai,” tambah Eko. Permasalahan ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat paparan bahan kimia berbahaya ini dapat memberikan efek jangka panjang, seperti beberapa kasus yang ditemukan adalah pembesaran hati. Meski telah ditemukan beberapa kasus dampak dari paparan zat kimia pada mainan bayi, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) masih memerlukan kajian lebih lanjut terkait hal ini.

Tulus Abadi – pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia – mengatakan zat berbahaya seperti merkuri  dan timbal pada mainan dapat menyebabkan kanker pada anak. Ia juga menjelaskan bahwa efek dari zat berbahaya ini juga tidak terjadi secara langsung, melainkan dalam waktu lama. Untuk dapat mengkaji secara lebih dalam, pada tahun 2011, YLKI bekerja sama dengan Universitas Indonesia dalam mengembangkan uji lab terkait bahwa zat kimia pada mainan bayi.

“Namun uji lab ini hanya dilakukan pada mainan edukasi saja,” ucap Tulus. Sama halnya dengan Eko, Tulus juga sangat mendukung logo sertifikasi yang menandakan suatu produk mainan bayi telah lolos uji keamanan. Ini menjadi cara paling sederhana dan efisien untuk menghindari paparan zat kimia pada anak.