Beranda Kolom Sepak Pojok Kenapa Flo Mesti Ditahan?

Kenapa Flo Mesti Ditahan?

178
BERBAGI

Oleh Khairun Fajri Arief

Florence itu (mungkin) emang oon. Tapi oang Oon belum tentu bertindak kriminal. Urusan omongan kayak gitu mah bisa selesai di warung kopi ajalah lae! Kalau hanya karena ejek-ejekan semacam itu orang bisa dipenjara, 1/2 penduduk lampung ini bisa kena penjara semua karena sudah jadi kebiasaan penduduk setempat untuk ngenyek orang Jawa dengan sadistis sebagaimana orang Jawa juga kejam banget nyinyirnya terhadap etnis Lampung.

Belum lagi kalau kita masukkan variabel Bali, Ogan,Padang atau bahkan Batak ke dalamnya. Tapi biasanya, setelah semua ejekan itu, dunia kembali berputar seperti biasa antara mereka. Warung kopi tetap buka, gaple kembali di gelar dan obrolan kembali lagi berkisar tentang janda kembang dari kampung sebelah dan sama sekali bukan soal pelaporan tindakan kriminal di Polsek setempat.

Bagaimanapun, konteks sosial kita belakangan ini sepertinya konteks sosial yang segala sesuatunya mau di bakukan dalam bentuk serba formal sementara pendekatan kultural yang lentur, bergairah, spontan dan punya mekanisme jalan keluarnya sendiri justru semakin dikikis.

 Bersamaan dengan segala formalitas itu, masuk jugalah berbagai variabel dan analisis canggih-canggih yang kadang sama sekali tidak berpijak pada kebiasaan lokal yang membumi dan penuh pemakluman: isu gender, etnisitas, puritanisme agama, bahkan afiliasi politik.

Seperti biasa, semakin banyak pisau analisis dikembangkan, semakin tajam analisisnya namun sering kali juga semakin kita tidak berpijak langkah pada getaran perasaan sebagai pemandu jalan.

Bagaimanapun, saya dan kawan-kawan sering sekali saling sebut satu sama lain dengan redaksional “Oy jawa”, ” Semendo Ganas” atau bahkan becandaan kejam semacam ” tipe orang hanya ada 2, 1) orang baik 2) Orang Batak. Yang semua itu biasanya kami sudahi dengan begadang hingga selesai subuh..

Saat ini, tidak banyak lagi yang berani berkelakar demikian, karena ternyata, seiring semakin banyak isu kita tafsirkan, semakin banyak bahasa kita temukan, semakin padat analisis, kata-kata semacam itu kita tafsirkan juga dengan segenap kecurigaan, ketidak percayaan dan tentu saja libido untuk saling meniadakan..

Entah kenapa tiba-tiba saya jadi ingat sebuah cerita di Krui, 7,5 jam dari Bandarlampung. Pada saat pemilu berjalan, Pak Tuha tiba-tiba melihat seorang tetangganya, yang juga masih sekelik dekatnya, dengan tergesa-gesa dan agak sedikit sembunyi-sembunyi memasukkan 7 lembar surat suara sekaligus yang dia tahu pasti memilih Jokowi di dalamnya.

Demi melihat kecurangan yang sedemikian terstruktur, masif, dan sistematis, apakah yang diperbuatnya? Apakah dia melaporkan hal itu kepada panwas setempat? TENTU TIDAK! Atas apa yang dilihatnya itu, dia bertanya ketus (dalam bahasa lampung tentu) :”Apa itu, kok banyak?”

Tetangganya itu dengan sedikit salting menjawab: “Iya ini semua kemenaken dirumah lagi pergi semua, gak ada yang bisa nyoblos, saya coblos ajalah, jangan sampai Jokowi kalah”.

Mendengar ini, emosi Pak Tuha timbul. Dengan mata merah menahan marah, ia pergi ke balai desa yang juga merupakan TPS, menelpon anak perempuanya, meminta 4 lembar surat undangan pemilu dan dalam tempo kurang dari 3 menit ia memasukkan 4 lembar surat suara kedalam kotak suara: Semuanya mencoblos Prabowo.

Loading...