Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Patung Pengantin tidak Sesuai dengan Gambar Usulan Dinas PU

Patung Pengantin tidak Sesuai dengan Gambar Usulan Dinas PU

1120
BERBAGI
Tugu Pengantin di Jalan Pahlawan, Kotabumi yang diprotes warga karena kualitasnya dinilai buruk.

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi — Kepala Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lampung Utara, Anom Sauni‎, mengaku bentuk jadi Patung Pengantin tidak  sesuai dengan gambar yang telah diajukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

‎”Kalau bentuk di gambar tidak seperti itu. Ada kesalahan teknis,” kelit Anom, Jumat (2/6/2017).‎

Menurut Anom, jika merujuk pada sketsa atau gambar patung pengantin dengan pakaian adat Lampung berikut rencana anggaran biayanya (RAB) kepada PT Nakau oleh Dinas Pekerjaan Umum, hasil patungnya tak akan seperti itu. Kendati demikian, Anom menuturkan bahwa bentuk patung yang ramai dikritik oleh warga saat ini bukanlah bentuk akhir. Sebab, pembangunan tugu pengantin itu masih dalam tahap penyempurnaan.

“Menurut PT Nakau, proses pembuatan patung itu masih dalam tahap penyelesaian. Penyempurnaannya masih terus dilakukan dengan menyerap saran yang diberikan oleh masyarakat,”tukasnya.

Sebelumnya, alih – alih menuai pujian warga, pembangunan tugu pengantin yang berada persis di depan kantor Pemkab Lampung Utara malah menjadi bahan olok – olok warga. Banyaknya pergunjingan seputar patung itu ‎menarik perhatian kalangan legislatif untuk angkat bicara.

Nerozely Agung Putra, anggota DPRD Provinsi Lampung, misalnya, menilai buruknya kualitas pembangunan tugu pengantin di Jalan Pahlawan, Kotabumi, Lampung Utara dapat dikategorikan sebagai bentuk penghinaan kepada adat masyarakat Lampung Utara. ‎

Diketahui, sejak pertama kali dikenalkan hingga kini, patung pengantin yang berdiri gagah di depan kantor Pemkab Lampung Utara itu menjadi bahan olok – olokan warga karena hasilnya tak sesuai dengan harapan warga. Olokan warga ini disebabkan oleh berbagai kekurangan dalam tugu itu di antaranya tak adanya unsur keceriaan pada kedua patung, celana pengantin laki – laki yang menggantung atau cingkrang, salah satu mata pengantin wanitanya seperti juling.

“Kalau menurut saya, ini penghinaan (terhadap) ada masyarakat Lampung Utara. Bahaya ini kalau tidak segera diperbaiki,” tegas dia usai pengembalian berkas pendaftaran bakal calon Bupati di DPC PDIP Lampung Utara.‎

‎Nero mengatakan, sedianya, instansi terkait melakukan koordinasi dengan para tokoh adat jauh – jauh hari sebelum pembangunan tugu pengantin ini dimulai. Tujuannya, agar pembangunan itu dapat mencapai sasarannya, yakni menambah keindahan kota dan bukannya malah menjadi bahan pergunjingan warga.

“Kan bisa koordinasi dengan para tokoh adat yang tergabung dalam MPAL (Majelis Penyimbang Adat Lampung),” terangnya.

Politisi asal Partai Demokrat itu menyarankan Pemkab Lampung Utara segera menyempurnakan segala kekurangan yang terdapat pada tugu pengantin tersebut. Dengan demikian, fungsi patung yang bertujuan untuk mempercantik wajah kota dapat tercapai dan tak lagi menjadi pergunjingan warga.‎
“Minimal patung itu digantilah biar enak dilihat,” lanjutnya. ‎‎

Kritikan sama juga disampaikan oleh Wansori, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Lampung Utara. Menurutnya, ia cukup merasa terpukul dengan kualitas hasil pembangunan tugu pengantin yang dinilainya banyak memiliki kekurangan.

“Sebagai putra daerah, saya merasa sangat malu‎ melihat bentuk patung yang baru selesai dibangun itu karena hasilnya jauh dari kata memuaskan,” tegas dia kepada Teraslampung.com‎.

Gelombang protes terkait kualitas tugu pengantin ini seakan‎ menjadi puncak dari persoalan tugu tersebut. Jauh sebelum dibangun, pembangunan tugu ini sempat ditolak warga sekitar lantaran tak sesuai dengan makna Jalan Pahlawan. Meski demikian, silang sengkarut antara warga dengan Pemkab akhirnya berakhir damai. Keduanya sepakat untuk terus melanjutkan pembangunan tugu dengan kompensasi akan membangun ornamen – ornamen atau gapura yang bernuansakan perjuangan di dekat patung tersebut.

Loading...