Beranda Views Opini Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam

Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam

192
BERBAGI

Oleh: Ruslaini*

Untuk menjelaskan posisi perempuan dalam islam kita perlu menerangkan spirit Al quran dan Islam terhadap perempuan. Betulkah islam menolak kepemimpinan perempuan ? Bagaimana tinjauan para ulama dalam memandang posisi perempuan ? Apakah dalam Islam perempuan tidak dibenarkan menjadi pemimpin ?

Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang paling fundamental antara derajat laki-laki dan perempuan. Al Quran telah menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan sama derajatnya. Tentu ini ditegaskan dalam Al Quran QS Al Hujarat: 13, Annahl :97.

Pada ayat lain juga laki-laki dan perempuan mempunyai potensi yang sama untuk berprestasi QS Annisa :124 juga  telah ditegaskan bahwa  tidak ada perbedaan secara prinsipil antara perempuan dan laki-laki.

Tentu dalam konteks ini siapa pun bisa meraih kesuksesan dan cita-cita yang diimpikan. Perempuan mempunyai hak yang sama dalam ruang publik, pejabat daerah, bahkan bisa  sebagai presiden. Banyak yang terbukti negara-negara muslim yang pernah dipimpin oleh perempuan. Benazir Butho pernah memimpin Pakistan, Indonesia juga pernah memiliki presiden perempuan.

Secara de facto begitulah yang terjadi.  Namun, bila ditelusuri secara doktrinal memang ada beberapa larangan yang menyebutkan perempuan tidak berhak menjadi pemimpin karena dikhawatirkan akan terjadi kekacauan dan ketidaksuksesan  negara yang dipimpinnya.

Sebagian kelompok yang melarang perempuan menjadi pemimpin  sering  kali berdasarkan hadist ini: Lan yuplihu kaumu walauumrahum imraatus,  yang artinya: tidak akan sukses  suatu kaum jika imam mereka dikuasi perempuan. (Hr-Al Bukhari, An-an Nasai).

Para ulama ahli hadist memahami makna hadis  di atas  dengan konteks  asbab al-wurud. Saat  Nabi Muhammad Saw mendengar saat itu Kerajaan Persia (kisra) memimpin sebuah negara antara Basrah dan Oman mendapatkan sebuah surat dakwah dari Nabi Muhammad Saw. Namun, surat tersebut dirobek oleh raja tersebut.  Seperti diceritakan dalam Umdatul Qari bahwa raja tersebut mati dan Kerajaan Persia tidak  memiliki keturunan yang mampu untuk melanjutkan kerajaan kecuali seorang gadis kecil.

Kemudian mengenai hadist tersebut,para Ulama juga mengomentarinya sesuai dengan asbab al wujudnya. Imam al baghani memberikan alasan bahwa seorang imam (pemimpin) harus keluar untuk berjihad dan mengurus urusan (permasalahan) umat. Sedangkan perempuan tidak mampu untuk mengurus orang banyak (umat) karena lemah (Li ajziha) dan juga kurang memiliki kecakapan (naqsiah).

Dalam konteks itulah, hadist Nabi tentang larangan perempuan memimpin mendapatkan maknanya. Keumuman perempuan dalam redaksi hadist bisa dijadikan sebuah dalil pelarangan perempuan menjadi pemimpin sebagaimana dalam istilah ahli tafsir Al-ibratu bikhusus al-sabab labi umum al-lafazh.

Maka,  dengan demikian, dalam konteks  yang  lebih subtantif , pesan Nabi bisa kita pahami sebagai  upaya preventif  terhadap oarang yang tidak layak untuk memimpin sehingga mendatangkan kemudharatan bagi rakyat.

Mafhum Mukhalafah-Nya, selama perempuan itu kuat dan mampu untuk melakukan tata kelola pemerintah dan profesional,  maka perempuan berhak untuk menjadi pemimpin.

Waulahu A’alam.

*Ruslaini adalah  pengajar di Ponpes Al mubarok Bukitkemuning, Lampung Utara; PPK Kecamatan Bukit Kemuning, Lampung Utara pada Pemilu dan Pilpres 2019

Loading...