Beranda Views Jejak Kerajinan Kipas Mahligai Khas Lampung yang Nyaris Punah

Kerajinan Kipas Mahligai Khas Lampung yang Nyaris Punah

498
BERBAGI
Membuat kerajinan kipas mahligai.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sejumlah daerah di Lampung memiliki banyak kerajinan khas. Salah satunya adalah kerajinan kipas mahligai atau kipas maju (pengantin) yang dibuat dari bahan bambu apus (Gigantochioa apus) atau bambu tali. Kini, kerajinan khas yang berkaitan dengan adat Lampung sudah mulai terlupakan dan hampir punah tergilas kemajuan zaman.

Kipas yang dianyam dari bambu apus dan diberi warna untuk memperkuat motif yang diberi nama Kipas Mahligai ini merupakan kipas untuk sepasang: laki-laki dan perempuan. Bentuk keduanya berbeda. Kipas untuk laki-laki berbentuk persegi empat, sedangkan kipas untuk perempuan berbentuk gerigi atau tangga dan diberi tambahan hiasan pernak-pernik atau bunga yang terbuat dari benang wol warna-warni. Pada bagian gagang kipasnya, dibubuhi tulisan pantun Sagata Lampung.

Dulu kipas yang dibuat dari bahan bambu apus ini, dibuat sendiri oleh seorang ibu yang memiliki anak gadis. Dibuatnya pun, bertahap sembari mengisi waktu hingga sampai anak gadisnya menikah. Kipas tersebut, tidak diberikan kepada semua orang yang datang saat pesta pernikahan sang anak, tetapi hanya diberikan kepada keluarga dekat saja sebagai bentuk tanda kasih sayang.

Selain menjadi ciri khas Lampung, kerajinan kipas mahligai bermotif Lampung ini pada umumnya digunakan saat acara pesta pernikahan juga memiliki nilai ekonomis yang bisa dikembangkan. Dulu kipas khas Lampung tersebut digunakan sebagai alat cinderamata untuk keluarga besan atau tamu yang dibawa pihak pengantin wanita dalam acara perkawinan.

Saat ini sudah perajin kipas mahligai khas adat Lampung, khususnya di Lampung Selatan, sudah sangat langka.

Kerajinan tangan khas lampung yang hampir punah ini, saat ini hanya digeluti oleh Megawati (57), warga Dusun I, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan bersama beberapa orang keponakannya yang masih tetap fokus membuat kerajinan kipas mahligai khas adat lampung.

Saat teraslampung.com berkunjung ke rumahnya, Megawati dan beberapa keponakannya yakni Harisintia (25), Yesa Andika (29), Siskayanti (29), Neneng Hasanah (48) dan Juhairiyah (39) terlihat tengah sibuk membuat kerajinan khas adat lampung yang terbuat dari bambu apus tersebut. Jari-jari tangannya begitu cekatan dan lincah saat menganyam bambu.

Meski sudah tidak lagi muda, namun tangan cekatan Megawati masih cukup terampil menganyam potongan-potongan tipis bambu apus sebagai bahan untuk membuat cindramata khas adat lampung yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut Kipas Mahligai hingga memasang pernak-pernik.

Megawati (57), warga Dusun I, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan pengrajin kipas mahligai khas adat Lampung.
Megawati (57), warga Dusun I, Desa Kota Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan pengrajin kipas mahligai khas adat Lampung.

Megawati merupakan penrajin Kipas Mahligai yang sudah 35 tahun hingga saat ini masih tetap menekuni dan melestarikan warisan budaya khas lampung warisan dari nenek hingga almarhumah ibunya.

“Ya sudah 35 tahun saya menekuni kerajinan Kipas Mahligai ini, bisa buat diajari almarhum ibu saat saya duduk dibangku sekolah Dasar (SD) hingga remaja sampai menikah. Karena ini peninggalan dari nenek moyang kita masyarakat adat lampung, saya akan tetap melestarikan warisan budaya ini walaupun kemajuan zaman semakin modern,”ujar ibu yang memiliki 10 orang anak ini kepada teraslampung.com, Senin (11/3/2019) sore.

Menurutnya, sekarang ini, memang sudah jarang sekali ditemui kerajinan kipas mahligai ini seperti di acara-acara pernikahan khususnya masyarakat adat lampung. Padahal kipas ini, merupakan salah satu cindramata pengantin wanita yang dibawa untuk keluarga besan dan tamu undangan.

Mega mengatakan, kipas yang dibuatnya ada dua jenis, yakni kipas mahligai dan kipas besar.

Satu kipas mahligai harganya memang agak lebih mahal dari kipas yang besar. Sebab, proses pembuatannya lebih rumit, lalu adanya tambahan pernak-pernik (ramboci) hiasan yang dipasang di sudut kipas agar lebih terlihat lebih bagus atau menarik.

Selain membuat kerajinan kipas, ia juga membuat wadah telur untuk acara syukuran bayi dan wadah makanan atau kue biasa disebut besek yang terbuat dari bambu.

“Kipas mahligai, dijual seharga Rp 5.000/satunya dan kipas besar seharga Rp 3.000/satunya. Keuntungan yang didapat untuk satu kipas Rp 2.000, Alhamdulilah dari menekuni kerajinan kipas ini ya bisa buat biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Karena suami sudah lama meninggal, Jadi saya inilah yang sekarang ini jadi tulang punggung keluarga,” katanya, sambil  memasang pernak-pernik (ramboci) hiasan kipas.

Bahan yang digunakan untuk membuat kipas ini, kata Mega, yakni dari bambu apus atau bambu tali karena bambu ini lebih kuat dan awet jika sudah dibuat jadi kipas. Harga satu batang bambu, dibeli seharga Rp 20 ribu dan satu bambu ini jika sudah dibuat itu bisa jadi sekitar 50 buah kipas.

Proses pembuatannya, kata Mega, pertama, bambu dipotong terlebih dulu sesuai ukuran, lalu dibelah menjadi ukuran kecil-kecil.

Kemudian bambu dibakar untuk menghilangkan serat dan serbuk bambu, lalu direndam dan dijemur sampai benar-benar kering, selanjutnya dihaluskan atau diserut, lalu direbus dengan air panas dengan dibubuhi pewarna (gincu) baru kemudian dianyam atau dibentuk menjadi kipas.

“Bahannya dari bambu apus atau bambu tali, untuk semua proses pembuatannya dari awal hingga jadi sekitar dua mingga. Kalau untuk bahannya gak ada kendala, hanya modal untuk pembuatannya saja yang selama ini masih menadi kendala,”ungkapnya.

Dalam sehari ia mampu mengayam membentuk kipas dan diberi hiasan ramboci sebanyak 20 kipas mahligai dan kipas besar.

Di Desa Kota Dalam ini, kata Mega, ada sekitar 10 orang yang masih menekuni kerajinan kipas mahligai dan kipas besar. Mereka semua mayoritas ibu rumah tangga (IRT). Mereka adalah para tetangga dan keponakan Mega.

“Supaya kerajinan kipas mahligai ini tidak punah, mereka saya ajari cara membuatnya. lalu hasilnya, saya tampung dan dijual untuk membantu kebutuhan ekonomi mereka. Rata-rata, sudah hampir 10 tahun mereka ini buat kerajinan kipas ini,”kata dia.

Alasannya tetap bertahan menggeluti kerajinan kipas mahligai ini, karena tidak memiliki usaha lain. Karena memiliki nilai ekonomis, juga ingin terus melestarikan warisan budaya leluhur adat lampung agar jangan sampai terlupakan dan punah ditelan zaman.

“Hasil kerajinan kipas ini dijualnya di daerah Pisang, Kalianda, Penengahan, Gayam, Bakauheni, Hatta, dan beberapa wilayah Lampung Selatan lainnya. Sekali bawa ada sekitar 300 kipas, terkadang itu juga tidak semuanya laku terjual. Selain dijual keliling desa, kipas ini juga saya buat kalau ada yang pesan untuk cindramata acara pesta pernikahan, khitanan dan acara syukuran bayi,”terangnya.

Ia berharap, pemerintah peduli untuk membantu para perajin  kipas tradisional.

“Kami berharap pengrajin kipas tradisional seperti kami ini diperhatikan lah, apalagi yang buatnya juga saat ini sudah langka,” katanya.

Harisintia (25), yang sudah 10 tahun menekuni kerajinan kipas mahligai, mengaku bisa membuat kerajinan kipas mahligai setelah belajar dari orangtuanya.

Ia mengaku, meskipun zaman makin modern, ia tak malu melestarikan warisan leluhur yang mungkn sudah dianggp kuno. Menurutnya, usahanya itu juga  untuk membantu kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

“Sekarang ini, kipas mahligai ini memang sudah jarang ditemui diacara pernikahan masyarakat adat lampung. Padahal, kipas ini salah satu bentuk cindramata kita untuk besan atau tamu undangan,” ungkap wanita yang memiliki satu orang anak ini.

Diakuinya, hasil kerajinan tangan kipas mahligai dan lainnya yang selama ini ia tekuni bersama para ibu-ibu rumah tangga lainnya yang ada di Desa Kota Dalam ini, sama sekali tidak pernah terekspos sehingga tidak begitu diketahui banyak orang.

Harisintia berharap kerajinan khas lampung ini jangan sampai terlupakan dan harus terus dilestarikan. Dia berharap ada perhatian dari pemerintah sehingga kerajinan khas Lampung ini tetap lestari.

“Saya berharap, pemerintah  lebih memperhatikan kami  yang sampai saat ini masih terus melestarikan kerajinan khas adat Lampung,”pungkasnya.

Loading...