Beranda Views Jejak Keratuan Darah Putih, “Dalung Kuripan”, dan Persaudaraan Banten-Lampung

Keratuan Darah Putih, “Dalung Kuripan”, dan Persaudaraan Banten-Lampung

448
BERBAGI
Benteng Kemala di Kompleks Peramakaman Radin Inten II

Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (2)

Zainal Asikin| Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Perlakuan lunak Belanda terhadap Radin Inten I, didasarkan atas perhatian Belanda yang terpecah karena perhatian Belanda lebih terfokus pada persiapan untuk menghadapi ancaman pasukan Inggris. Selain itu juga pada kwartal I abad 19, Belanda juga harus menghadapi perlawanan dari Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830).

Tapi setelah melihat Radin Intan I menjalin hubungan dengan Daeng Gajah dari Tulangbawang dan Seputih, Belanda mulai khawatir apalagi Radin Inten I sengaja melepaskan diri dari kerjasama dengan Belanda.

Dengan tindakan Radin Inten I tersebut dan ketidakmampuan Daendels mendekati Radin Inten I, pihak Belanda beranggapan bahwa Radin Inten I sebagai pemberontak dan akan melakukan pemberontakan. Belanda kemudian mencoba mengajak Radin Intan I berunding.

Isi perundingan itu adalah : Radin Inten I bersedia mengakhiri kekerasan dan bersedia membantu Belanda, lalu Radin Intan I akan diakui kedudukannya sebagaimana pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal H.W Daendels, Radin Inten I mendapat pensiun sebesar f. 1200/tahun dan saudara-saudaranya masing-masing sebesar f. 600/tahun.

Patung Radin Inten II di Kompleks Permakaman Radin Inten II

“Dari isi perundingan tersebut, pemerintah Belanda memberikan janji-janji kepada Radin Inten I sehingga terciptalah suasana damai. Namun suasana damai itu, tidaklah bertahan lama dan kembali meruncing karena Belanda mulai mengingkari kesepakatan damai tersebut. Bahkan Belanda juga, melakukan kekerasan atau penindasan terhadap rakyat Lampung,”ungkapnya.

Selanjutnya,pada awal Desember 1825, pemerintah Belanda mengirimkan utusannya untuk menangkap Radin Inten I dengan cara mengirimkan Gezaghebber Lelievre bersama Letnan Misonius dengan 35 serdadu dan 7 opas. Mereka bergerak mulai dari Telukbetung menuju ke Negara Ratu, kedantangan pasukan Belanda disambut baik oleh Radin Inten I. Lalu Radin Inten I bersedia untuk dibawa ke Telukbetung, karena Radin Intan I masih dalam kondisi sakit dan beliau meminta waktu selama dua hari untuk beristirahat.

Belanda yang pada saat itu sedang menunggu Radin Inten I di Negara Ratu, saat itu juga diserang oleh pasukan Radin Inten I sekitar tanggal 13 Desember 1825. Mereka tidak mau pemimpinnya Radin Inten I ditangkap oleh Belanda, hingga akhirnya pasukan Radin Inten I berhasil menembak mati Gezaghebber Lelievre bersama Sersan Belanda. Sedangkan Letnan Misonius, terluka parah akibat terkena tembakan oleh pasukan Radin Inten I.

Dalam perlawanannya dengan penjajah Belanda, Radin Inten I dibantu oleh Kesultananan Banten yang mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Kyai Tapa. Begitu juga dengan Banten ketika diserang oleh Belanda, Radin Inten I mengirimkan pasukan-pasukannya ke Banten. Hal tersebut dikarenakan, Lampung dan Banten telah diikat dalam satu perjanjian.

BACA: Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (1)

Perjanjian Lampung -Banten pada era Keratuan Darah Putih

Perjanjian tersebut adalah “Akan saling membantu dalam menghadapi musuh (penjajah)” dan tercantum juga dalam sebuah piagam “Dalung Kuripan” yang isinya “…..Lamun Ana Musuh Banten, Banten Mangrakwa Lampung Tutwuri Lamun Ana Musuh Lampung, Lampung Mangrakwa Banten Tutwuri….”

“Dilihat dari silsilah, Radin Inten I ini anak dari Ratu Darah Putih, Muhammad Aji Saka, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang pada zaman itu menyebarkan agama islam di Keratuan Pugung sekitar abad XVI,” kata Menurut Budiman Yaqub, budayawan yang juga anak keturunan Keratuan Darah Putih.

Dengan kekalahan Belanda tersebut, lanjut Budiman, untuk sementara waktu keadaan di Lampung kembali tenang karena tidak adanya penyiksaan dan penindasan.

“Sebab Belanda mulai memfokuskan kekuatannya untuk menghadapi penyerangan dari Pangeran Diponegoro. Setelah tiga tahun kemudian pada tahun 1828 setelah penyerangan pasukan Radin Inten I terhadap Belanda, Radin Inten I mangkat (meninggal dunia) lantaran sakit. Selanjutnya tahta kepemimpinan Keratuan Ratu Darah Putih, dilanjutkan oleh putranya bernama Radin Imba II,” katanya.

Ketika Radin Intan I meninggal dunia, Belanda menganggap saat itu kembali untuk mencengkramkan kuku-kuku kekuasaannya terhadap daerah Lampung. Belanda beranggapan, setelah meninggalnya Radin Inten I maka habislah perlawanan rakyat Lampung.

BACA: Perjuangan Keratuan Ratu Darah Putih Mengusir Belanda dari Tanah Lampung (3)