Kesalahan Absolut

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Pada saat melakukan sidang ujian pascasarjana strata dua, seorang doktor senior bidang budaya memberi komentar bahwa tulisan mahasiswa ini betul-betul berada pada wilayah kesalahan absolut karena kepalanya ular badannya biawak. Jika dilihat dari ekor, betul ini merupakan binatang melata; tetapi kepalanya apa, badannya apa. Ternyata terjadi kesalahan dalam merekonstruksi berpikir, sehingga kesimpulannya tampak benar, tetapi lahir dari dua sumber kebenaran yang berbeda dan tidak bisa disatukan.

Di tempat lain ada kandidat doktor sedang mempertahankan pendapatnya yang salah dengan cara yang salah. Kandidat tadi tidak menyadari bahwa cara atau metode yang salah akan membuat kesalahan itu makin absolut sifatnya. Kesalahan absolut ini justru makin menjauhkan dirinya dari jalan menuju kebenaran absolut. Bahasa sederhananya:  metode sebagai “cara” jika salah menggunakan atau salah dalam mengoperasionalkan, karena tidak sesuai prosedur, maka kesalahan itu akan berada pada wilaayah kesalahan absolut.

Menariknya yang selama ini diberi gelar “kebenaran absolut” ternyata di sisi lain yang berbeda, ada kesalahan absolut. Banyak kita tidak menyadari keduanya selalu berjalan seiring; karena satu sama lain saling melengkapi dalam menapaki hidup. Sekalipun titik absolut itu tidak akan ditemukan (baik pada wilayah kebenaran maupun wilayah kesalahan); karena kita akan selalu bertemu dengan titik nisbi di dunia ini. Keabsolutan hanya ada pada pemilik absolut itu sendiri.

Sebelum jauh kita melangkah ada baiknya kita memahamkan terlebih dahulu tentang kebenaran absolut. Kebenaran absolut adalah pandangan yang percaya bahwa benar-benar ada realita-realita atau standar absolut yang menentukan apa yang benar dan tidak benar. Karena itu suatu tindakan dapat dikatakan benar atau salah dengan membandingkannya dengan standar-standar yang absolut itu (kompasiana.com).

Supaya bisa menentukan apakah kebenaran absolut atau juga sering diberi label kebenaran universal itu ada, pada konteks Filsafat Ilmu pertama-tama kita perlu mendefinisikan apa itu kebenaran. Kebenaran didefinisikan “kesesuaian dengan fakta atau yang sebenarnya; pernyataan yang terbukti atau diterima sebagai benar; kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.” Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada realita sebenarnya, tapi hanyalah persepsi dan opini.

Di sisi lain, ada pihak yang percaya adanya realita absolut atau kebenaran absolut. Karena itu, ketika mempertimbangkan pertanyaan apakah ada yang dapat disebut sebagai kebenaran absolut, kita menemukan dua pendapat yang bertolak belakang. Pendapat yang satu mengatakan bahwa tidak mungkin ada apapun yang secara absolut bisa mendefinisikan realita. Mereka percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat relatif dan karena itu tidak ada realitas yang sejati. Oleh sebab itu, pada hakekatnya tidak ada otoritas apapun yang bisa menentukan suatu tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah.

Pandangan ini sebenarnya tidak lebih dari “etika situasi;” yang menganggap tidak ada yang benar atau salah. Karena itu, yang benar merupakan apa yang dianggap benar pada waktu itu. Etika situasi seperti ini mendorong seseorang memiliki mentalitas dan cara hidup “apapun yang dirasa baik,” yang bisa saja memiliki dampak yang merusak masyarakat dan individu-individu.

Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar yang absolut ataupun realita. Segala sesuatu tidak ada artinya, karena tidak ada ukuran mengenai apapun; tidak ada benar dan salah. Betapa kacaunya kalau itu benar-benar terjadi. Tapi, syukurlah kebenaran yang absolut itu ada. Karena itu, ia dapat ditemukan dan dipahami. Demikian pendapat kelompok ini.

Inilah sumber pikir yang sekarang sedang “berkelahi” di tengah masyarakat; oleh karena itu jika kita temukan “anomali berpikir” ditengah masyarakat; maka hal itu sebenarnya mereka sedang ada pada pusaran gelombang relatifisme dan absolutism. Perkelahian abadi ini tidak akan berakhir sampai dunia ini di gulung. Jika kita berupaya mendamaikan atau sebaliknya mempertentangkan, itu berarti kita terjebak dalam pusaran kefatalan hakiki; karena keduanya memang memiliki entitas yang berbeda. Tindakan yang paling bijak adalah membiarkan mereka untuk selalu bertentangan, karena dalam pertentangan itu banyak hikmah yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Dasar pemikirannya adalah ada persoalan di dunia ini yang tidak harus diselesaikan, karena persoalan itu sendiri yang akan menyelesaikan persoalannya.

Salah satu hikmah yang dapat kita petik adalah pertentangan keduanya, sebagai umat beragama, kita melihat bagaimana Tuhan memperlihatkan keabsolutan dalam kekuasaan-NyaNYA. Sebagai contoh dalam perhitungan manusia relatifisme unggul, ternyata endingnya dimenangkan oleh absolutism. Sebaliknya, dalam perhitungan logika manusia absolutism unggul, ternyata Tuhan menghendaki relatifisme yang unggul. Banyak peristiwa di dunia ini yang kita jumpai matematika manusia mengatakan berhasil, tetapi matematika Ketuhanan justru sebaliknya.

Tuhan pun sudah meneguhkan dalam firman-Nya bahwa jangan kau menyukai sesuatu secara berlebihan, karena pada waktunya itu akan kau benci; juga jangan kau membenci sesuau secara berlebihan, karena pada waktunya nanti kau akan menyukainya. Betapa ini merupakan bukti keabsultan kekuasaan-Nya.

Di sana peran agama yang kebenarannya berangkat dari keyakinan, berpisah dengan ilmu yang kebenarannya berangkat dari keraguan. Manakala kita sudah berada pada arsy ini maka kita akan mampu melihat segala sesuatunya dengan bijak. Karena apapun pergerakan di jagad raya ini ada pengendali utama yang menentukan segalanya, baik sebelum maupun sesudahnya. Oleh karena itu kita tidak perlu meratapi berlebihan jika kegagalan menimpa, juga tidak perlu bergembira melampaui batas manakala kita jumpa dengan keberuntungan, karena keduanya memang harus dijalani oleh yang namanya manusia, dan keduanya adalah “baju kehidupan”.

Selamat Ngopi Pagi di penghulu hari.