Kesesatan (Sangat) Menusuk Kalbu

  • Bagikan

Syamsul Arifien*

Tanpa menjadi anggota kelompok atau aliran-aliran keagamaan yang divonis sesat oleh MUI, saya tidak yakin bahwa sesunguhnya saya ini tidak sesat. Bahkan kesesatan saya itu barangkali lebih sesat dari kelompok atau aliran-aliran yang dinyatakan sesat.

Seandainya suatu hari saya bertamu ke pimpinan masing-masing kelompok aliran agama, itu  pasti saya tidak akan diterima sebagai tamu yang baik, karena, pertama; saya bukan anggota kelompok mereka sehingga mereka pasti buru-buru curiga kepada saya. Dan kedua; karena lebih parah sesatnya saya ketimbang stempel sesat yang dialamatkan kepada mereka.

Begitu pula MUI, meskipun tidak mungkin akan mengeluarkan khusus fatwa sesat kepada diri saya pribadi, juga – menurut logika sesat saya – lembaga perkumpulan Ulama yang tampak lebih garang dibandingkan Tuhan itu sendiri, pun tidak perlu buang-buang energi menyatakan bahwa saya orang beragama yang salah atau orang  yang salah dalam beragama.

Umat Islam yang baik dan benar itu kalau mendengar adzan berkumandang, segera berlari ke masjid atau mushola untuk shalat berjamaah. Umat Islam yang baik taat itu ketika bulan ramadhan pasti berpuasa sebulan penuh, kecuali hanya akan absen ketika memenuhi alasan yang dibenarkan syariat, misalnya sedang haid, hamil, nifas bagi muslim wanita, atau sedang menjadi mushafir, bekerja berat, sakit keras, dll. bagi muslim laki-laki.

Umat Islam yang benar beragamanya itu membayar zakat, berbuat baik dan senantiasa menebarkan kasih sayang kepada tetangga dan antar sesama, tidak  gemar berdusta, tidak rajin menipu, tidak suka korupsi, tidak hobi mencuri, tidak melakukan riba, tidak memperkosa, dan seterusnya…

Umat Islam yang mumpuni ke-uluhiyahan  dan ke-ubudiahannya, pasti tidak gampang mengkafir-kafirkan orang lain, tidak suka berbuat onar, tidak mau merusak tempat ibadah kelompok lain atau agama lain. Umat Islam paripurna itu, pastilah para pejuang kemuliaan. Para mujahid berhati lembut yang memenuhi hidupnya dengan kejuhudan dan ketawadu’an spiritual maupun sosial.

Adapun saya, masih sangat jauh dari mampu dan istiqamah melaksanakan semua keindahan, keluhuran dan kebenaran amalan-amalan syariat agama. Shalat saya masih roboh-roboh gedhang dan bolong-bolong. Begitu pula puasa saya masih sering lompat-lompat penuh nafsu mengejar lebaran. Saya belum sanggup berqurban, melainkan hanya tertarik kepada pembagian daging qurbannya. Saya belum sanggup pergi haji, atau apalagi melakukan korupsi untuk ongkos naik haji berkali-kali.

Kepada tetangga dan antar sesama, saya masih gemar berseteru dan bertengkar. Hati saya masih sering dihinggapi penyakit iri, dengki, Jahil, methakil. Pokoknya dari semua yang baik, yang benar, dan yang paripurna keislamannya orang Islam, saya tidak mungkin ada di dalam barisan itu, walau   di urutan paling belakang sekalipun.

Oleh karenanya, saya tidak pernah punya keberanian sedikitpun ikut rombongan orang-orang yang mengobarkan api eksklusifisme, sampai-sampai bersedia mengusir, menyerbu, melukai, membunuh dan menghalalkan darah antar sesama hamba, demi penegasan mematenkan hak sebagai para calon ahlul al jannah.

Apakah orang Islam jumud dan sesat seperti saya ini ada banyak jumlahnya di Indonesia? Jika jawabnya adalah iya, maka demikian sangat kesesatan itu menusuk-nusuk kalbu. Sehingga perlu  juga segera dimintakan keluar fatwa sesatnya kepada MUI.

* Ketua Kelompok Musik Gamelan Jamus Kalimosodo Lampung

stelah konten
  • Bagikan