Ketika Alzier Mencoba (Lagi) Maju dalam Pilgub Lampung

  • Bagikan
Alzier Dianis Thabranie (Foto: Teraslampung.com)
Alzier Dianis Thabranie (Foto: Teraslampung.com)

Oleh: Herman Batin Mangku*

WAJAH Alzier Dianis Thabranie kembali menghiasi Lampung. Kali ini, dia tampil memberitahu rakyat akan coba-coba lagi nyalon gubernur Lampung. Selama ini, pria tampan ini selalu “kalah”. Tapi, setiap kali ada pembukaan cagub, setiap kali itu juga Alzier bawa map ke KPU.

Anak mantan Walikota Bandar Lampung Thabranie Daud ini mengawali petualangan dalam bursa kepala daerah dimulai dari tingkat kabupaten. Paskareformasi, pengurus Golkar Lampung ini ikut Pilbup 1999 Lampung Selatan lewat Fraksi PDIP.

Saat itu, kampung kedua orangtuanya di Kecamatan Waylima, sebelum masuk Kabupaten Pesawaran, masih bagian teritorial Lampung Selatan. Alzier mgabdikan diri untuk kabupaten ” Titik Nol Sumatera”, “Pintu Gerbang Sumatera”, Lampung Selatan.

Dengan perahu kursi terbanyak PDIP Lampung Selatan, Alzier nyaris terpilih jadi bupati. Saat penghitungan suara Alzier sudah melampaui dua pasang calon lainnya, kerusuhan pecah dari dalam hingga luar gedung DPRD Lamsel. Lampu pecah dan pohon tercerabut dari median jalan Kota Kalianda.

Pilbup Lamsel diulang dan berhasil dimenangkan Zulkifli Anwar. Sang ” kance” terpilih memimpin Lamsel. Alzier yang nyaris terpilih pada pemilihan pertama tak terpuruk. Dia malah dipercaya memimpin PDIP Lamsel yang kelak mengantarnya ikut pilgub.

Gagal di Lamsel, tiga tahun kemudian, Alzier lompat mengadu keberuntungan di Pilgub 2002 Lampung. Saat itu, meski sudah reformasi, pemilihan kepala daerah, masih lewat parlemen. Alzier kembali sukses. Dia meraih suara terbanyak. Bekas iparnya, Sjachroedin ZP kalah.

Kembali nasib tak berpihak kepadanya. Meski menang, dia tak dilantik bahkan nyaris masuk sel dengan berbagai macam tuduhan. Semua tekanan berat berhasil dilaluinya. Meski sempat dijemput paksa pakai helikopter, Alzier tak pernah merasakan jeruji besi. Dia tak direstui Megawati Soekarno Putri.

Ibarat pegas, tekanan yang sangat dahsyat itu malah memelantingkannya menguasai Partai Golkar dan berada pada percaturan politik nasional, ikut cawe-cawe terpilihnya Aburizal Bakri memimpin Partai Golkar. Alzier juga semakin moncer, makin terkenal, makin kaya raya.

Dia sempat dijuluki “Pohon Duit”. Alzier bergelimang harta, mobil mewah, rumah luas dan banyak : “rumah kebon” di Gang Pu (Jl.Zainal Abdidin Pagaralam), “RH” di Jl.Arief Rahman Hakim, dan di Perumahan Lippo Karawaci, Tanggerang, Banten. Dia juga punya resort, Bensor. Belum lagi simpanan aset-aset lainnya.

Pemilihan diulang, Sjachroedin ZP yang punya hubungan baik dengan PDIP mulus terpilih jadi gubernur Lampung. Sehabis periode pertamanya, Syahroedin kembali bertemu dengan Alzier di Pilgub 2008 Lampung. Pilgub yang sudah pemilihan langsung masyarakat dimenanhkan Sjahroedin ZP.

Meski gagal lagi, dana sosialisasi keluar tidak sedikit, Alzier masih tersenyum dengan Partai Golkar Lampung ada digenggamannya. Alzier “melenting” dalam pentas politik nasional, termasuk ikut menyukseslam Aburizal pada Pilpres. Konon, suara Partai Golkar untuk Sumatera ada di tangannya. Bisnisnya ikut menasional.

Pilgub 2014, Alzier kembali “mentas” lagi. Dia kembali kalah. Pilgub dimenangkan anak Fauzi Toha, salah satu bos Sugar Grup Company (SGC). Alzier yang sempat terdengar ingin ke Mahkamah Konstitusi akhirnya tersenyum “manise” menerima kekalahannya : legowo.

Pilgub 2018, dia kembali tebar pesona, billboard telah dipajang. Benner tersebar hingga kabupaten dan kota. Meski tak lagi menjadi orang nomor satu di Partai Golkar dan partai itu sudah punya pilihan cagubnya, Alzier tetap ingin maju lewat partai lain atau independen.

Pegas itu sudah gagal satu kali pilbup dan tiga kali pilgub. Kala ikut pilgub pertamanya, usianya masih 45 tahun, kini, pria kelahiran 8 November 1957 ini sudah berusia 60 tahun. Lawan-lawannya masih berusia muda-muda. Apakah pegas pria tampan ini masih cukup elastis dan masih bisa memelantingkannya lagi?
(*) jurnalis

  • Bagikan