Beranda Views Opini Ketimpangan Pembangunan di Lampung

Ketimpangan Pembangunan di Lampung

1201
BERBAGI
I.B. Ilham Malik

Oleh: Dr. Eng. I.B. Ilham Malik*

Ketimpangan pembangunan di Provinsi Lampung, memang masih sangat nampak kalau kita membandingkan antara beberapa kabupaten kota yang berada di daerah selatan provinsi Lampung dengan beberapa kabupaten kota yang berada di daerah timur ataupun barat Provinsi Lampung.

Ketimpangan ini ini bisa disebabkan oleh banyak hal, bisa saja karena adanya sebaran penduduk yang terlalu lebar yang mengakibatkan manajemen pengelolaan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi tidak mudah. Karena itulah sempat ada gagasan untuk mengumpulkan penduduk yang tersebar itu pada pusat-pusat pertumbuhan baru di setiap kabupaten dan juga kota agar manajemen sumber daya manusia, manajemen pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana lainnya, akan menjadi lebih mudah ketika mereka terhimpun dalam satu zona yang saling berdekatan satu sama lain.

Ketimpangan pembangunan ini terjadi sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan pemerintah untuk menyediakan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan oleh warganya. Warga yang tersebar di berbagai sudut dan ruang wilayah provinsi Lampung menyebabkan kemampuan pemerintah menjadi sangat terbatas untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dengan keseragaman fasilitas di berbagai sektor. Mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, bahkan termasuk fasilitas sosial dan budaya.

Ketimpangan antara daerah-daerah yang selatan provinsi dengan daerah yang berada di barat dan juga timur provinsi membutuhkan jalan keluar agar ada suatu cara yang bisa mengurangi ketimpangan antar kawasan ini.

Saya melihat pemerintah sebenarnya sedikit banyak sudah untuk mengurangi ketimpangan itu dengan cara cara menyediakan jalan penghubung, juga menyiapkan berbagai kebijakan pembangunan infrastruktur dan suprastruktur di daerah tersebut. Namun, ternyata program itu tidak juga membuat kawasan barat dan juga kawasan timur Lampung menjadi lebih cepat kemajuannya.  Padahal, sudah ada kebijakan politik yang sangat baik yaitu dengan memecah beberapa kabupaten yang memiliki luas wilayah yang sangat besar menjadi beberapa kabupaten, dengan harapan kabupaten tersebut dapat cepat membangun daerahnya dan mengeluarkan daerah mereka dari daerah berstatus terbelakang menjadi daerah yang lebih maju. Namun ternyata selama hampir 20 tahun ini kita masih juga melihat adanya ketertinggalan pembangunan di daerah barat dan juga timur jika kita bandingkan dengan pembangunan yang terus terjadi di daerah selatan.

Berbagai investasi terus dilakukan oleh pemerintah dan juga pihak swasta di daerah selatan Lampung yang kemudian menyebabkan wilayah selatan Lampung menjadi lebih maju dari sisi ekonomi, lebih modern dari sisi pembangunan wilayah perkotaan nya, lebih sejahtera masyarakatnya karena tersedia lapangan pekerjaan yang lebih banyak dengan variasi pendapatan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan daerah barat dan juga di daerah timurnya Lampung.

Fenomena ini mungkin akan baik bagi Provinsi Lampung jika memang “ketimpangan” ini adalah ketimpangan yang memang di desain. Artinya wilayah yang berada di selatan provinsi Lampung adalah wilayah yang akan di blow-up pembangunannya dan kesejahteraan masyarakatnya termasuk juga kepadatan dan jumlah penduduknya akan terus ditingkatkan, sementara untuk daerah barat dan juga timur sengaja tidak dimajukan seperti di daerah selatan Lampung agar kutub pertumbuhan itu tidak menyebar kemana-mana. Tetapi menjadi lebih fokus berada di daerah selatan.

Namun, masalahnya adalah bagaimana caranya agar masyarakat yang berada di barat dan juga di timur dapat terus merasakan kesejahteraan yang sama dengan warga yang ada di selatan Lampung. Mungkin daerah mereka tidak semodern yang ada di selatan, tetapi kesejahteraan masyarakatnya serta ketersediaan sarana dan prasarananya itu seimbang antara wilayah selatan barat dan juga timur Provinsi Lampung.

Ini yang seharusnya dijawab oleh kita semua, untuk menemukan suatu cara agar kesejahteraan itu tumbuh seiring dan persamaan antara wilayah selatan timur dan juga baratnya Lampung, meskipun dia tidak memiliki arti bahwa daerah timur dan juga daerah barat harus sama padat dan sama majunya ekonominya dengan wilayah yang ada di selatan Lampung. Itu jika memang di desain seperti itu.

Kalau kita ingin mendesain nya agar kutub pertumbuhan di Lampung itu tidak terpusat di selatan saja tetapi dibagi ke daerah lainnya yaitu di daerah timur dan barat Lampung, mungkin juga kita tambah satu lagi yaitu berada di tengahnya Provinsi Lampung, kalau arah kebijakan yang seperti itu maka harus ada pendekatan baru yang harus diterapkan oleh pemerintah provinsi Lampung untuk mencapai tujuan atau rencana itu.  Sebab, kita tidak mungkin bisa mendapatkan hasil yang berbeda yaitu kemajuan wilayah yang ada di provinsi Lampung kalau cara pandangnya, dan juga cara kita membuat kebijakannya, serta cara kita membangun nya itu sama, dengan apa yang sudah dilakukan selama ini. Padahal apa yang sudah dilakukan selama ini ternyata tidak membuat daerah-daerah di barat dan juga timur di tambah yang di tengah Lampung ini menjadi maju.

Beberapa kabupaten yang membutuhkan cara-cara untuk keluar dari persoalan adalah Mesuji, Way Kanan, Lampung Barat, Tulangbawang, dan juga Lampung Utara. Mereka harus mencari cara untuk dapat keluar dari jeratan ketertinggalan meskipun hingga hari ini mereka akan menganggap bahwa sudah ada upaya dan nampaknya sudah ada hasil dari apa yang sudah mereka lakukan selama beberapa tahun terakhir. Tetapi konteks-nya tentu saja adalah melihat apa yang terjadi di daerah selatan Lampung, di mana pembangunan masih terus saja terjadi hingga hari ini tetapi pembangunan timur dan barat Lampung tampaknya mengalami keterlambatan.

Saya belum tahu persis apa jalan keluar yang harus dilakukan oleh setiap kabupaten tersebut. Namun, secara sederhana kita menyadari bahwa yang namanya pembangunan suatu wilayah akan dapat terjadi kalau ada banyak orang dan banyak uang yang masuk ke suatu wilayah tersebut. Jadi tantangannya adalah bagaimana caranya setiap kabupaten yang mengalami ketertinggalan ini dapat menarik orang sebanyak-banyaknya masuk ke dalam wilayahnya dengan berbagai macam aktivitas dan mereka membelanjakan uang mereka di daerah tersebut dalam jumlah yang sebesar-besarnya. Ini yang harus dipikirkan dengan baik-baik oleh kabupaten yang ada di daerah yang saya sebutkan sebelumnya.

Dalam skala kecil, apa yang dilakukan oleh Kabupaten Tulangbawang Barat perlu mendapatkan apresiasi. Dan setiap kabupaten yang saya sebutkan tadi, perlu belajar dari apa yang dilakukan oleh Kabupaten Tulangbawang Barat ini. Mereka menyadari bahwa ada keterbatasan anggaran untuk pembangunan di daerahnya dan mereka juga menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin bisa membangun terus-menerus dalam skala apa pun, dalam ukuran apa pun, di daerah mereka. Karenanya, apa yang bisa mereka lakukan saat ini harus memiliki nilai yang tinggi yang dapat menarik minat orang untuk datang, untuk melihat dan beraktivitas di sana, dan orang-orang datang dengan membawa uang.

Jika orang-orang dengan membawa uang ke daerah ini maka uang tersebut akan terdistribusi ke masyarakatnya dan secara tidak langsung hal ini akan meningkatkan kesejahteraan warga. Sebab orang-orang yang akan mendapatkan pendapatan baru sebagai dampak dari pembangunan sesuatu yang menarik banyak orang untuk datang. Itulah yang terjadi pada Masjid Islamic Center yang ada di Tubaba yang mendapatkan apresiasi dalam skala nasional dan bahkan dalam skala internasional.

Sebenarnya kabupaten yang mengalami ketertinggalan sebagaimana yang saya sebutkan tadi juga memiliki kesempatan untuk membangun Islamic Center seperti apa yang dibangun oleh Tubaba. Semua kabupaten berlomba-lomba sediakan Islamic Center. Tetapi pada kenyataannya apa yang mereka bangun tidak semenarik apa yang dibangun oleh Tulangbawang Barat.

Hal ini menandakan bahwa pemerintah daerah setempat mengalami ketertinggalan dalam melihat apa yang dibutuhkan oleh daerahnya di masa yang akan datang, dan mereka memiliki keterbatasan dalam menentukan apa yang perlu dibangun dan dibuat seperti apa, agar dapat menarik banyak orang untuk datang ke objek yang mereka bangun itu. Dan tidak selalu apa yang dibangun tersebut selalu biaya tinggi atau mahal. Ada banyak kasus bangunan yang dibangun dengan biaya yang mahal pun ternyata tidak menarik minat orang untuk datang ke tempat tersebut.

Ini adalah salah satu contoh cara berpikir yang keluar dari kotak pikiran atau out of the box seperti yang sudah dilakukan selama ini, yang ternyata tidak memberikan kemajuan pada daerah mereka. Dan ini adalah salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah yaitu membangun daerahnya dengan pendekatan arsitektural ketika mereka membangun berbagai macam infrastruktur. Dan ini juga mengisyaratkan bahwa yang namanya infrastruktur saja yang dibangun ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan pada kemajuan daerahnya, padahal biaya untuk membangun infrastruktur tersebut sangatlah besar.

Artinya, dalam pembangunan infrastruktur tersebut dibutuhkan pendekatan tambahan yaitu pendekatan arsitektural agar dapat memastikan apa yang dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan menarik minat banyak orang diluar daerah tersebut untuk datang dan menikmati infrastruktur publik yang dibangun di daerah mereka. Karena itu, disinilah arti pentingnya pemahaman kewilayahan di level pemda.***

*Dosen Perencanaan Wilayah & Kota di Magsiter Teknik (MT) UBL

Loading...