Beranda Ruwa Jurai Lampung Utara Ketua Gafatar Lampung Utara Pergi dari Kampungnya Sejak November 2015

Ketua Gafatar Lampung Utara Pergi dari Kampungnya Sejak November 2015

80
BERBAGI
Lambang Gafatar (ilustrasi/dok)

Feaby Handana/Teraslampung.com

KOTABUMI–Kepala Desa Sukamaju, Abung Semuli, Lampung Utara, Sumiar, membenarkan bahwa ketua Gerakan Fajar Nusantara atau yang lebih dikenal Gafatar, Wadiman, telah meninggalkan Desanya sejak akhir November 2015 silam.

“Pak Wadiman beserta keluarganya sudah enggak ada di sini sejak tanggal 30 November tahun lalu. Tapi, kami enggak tahu pindah ke mana,” kata Sumiar melalui sambungan telepon, Selasa (12/1).

Tak jelas di mana rimbanya ketua Gafatar Lampung Utara itu, kata Sumiar, dikarenakan yang bersangkutan tak pernah memberitahukan kepada siapapun ihwal tujuan kepergiannya. Yang bersangkutan beserta istri dan kedua anaknya diperkirakan meninggalkan rumah sebelum fajar.

Bahkan, menurutnya lagi, ketiga adik Wadiman yakni Setu, Tugimin, dan Sumar disinyalir mengikuti jejak kakak mereka tersebut. Ketiga adik Wadiman itu juga membawa serta istri dan anak – anak mereka. Kendati begitu, anak sulung Wadiman dikabarkan tak mengikuti jejak kedua orang tua dan paman – pamannya tersebut.

“Baik Setu, Tugimin, dan Sumiar, masing – masing mempunyai dua anak dan semuanya dibawa pergi entah ke mana. Kalau Wadiman sendiri punya tiga anak,” tuturnya.


Masih menurut Sumiar, Wadiman yang sebelumnya pernah menjadi Kepala Desa tersebut sempat ingin menjadikan kediamannya sebagai sekretariat. Tapi, keinginan itu ditolak mentah – mentah oleh masyarakat yang merasa keberatan dengan keberadaan organisasi tersebut. Penolakan itu dikarenakan masyarakat menilai ajaran yang disampaikan Wadiman CS bertentangan dengan agama Islam.

“Kalau informasi yang saya terima, masyarakat keberatan karena Gafatar itu hanya mewajibkan shalat malam. Selain shalat itu, tak wajib untuk dikerjakan,” kata dia.

Gafatar ini selama beberapa hari terakhir sempat menghiasi pemberitaan berbagai media massa lantaran diduga terkait dengan ‘raibnya’ dr. Rica dan bayinya. Belakangan, dr. Rica dan bayinya akhirnya berhasil ditemukan di pulau Kalimantan.

Menurut MUI, Gafatar merupakan metamorfosa dari aliran Komar (Komunitas Milah Abraham) yang sebelumnya merupakan aliran Al-Qiyadah Al-Aslamiyah dengan nabi bernama Ahmad Musadeq. MUI telah menyatakan Gafatar sebagai aliran sesat.