Beranda News Pusiban Ketua KEIN Soetrisno Bachir: Lampung Lumbung Padi Indonesia

Ketua KEIN Soetrisno Bachir: Lampung Lumbung Padi Indonesia

121
BERBAGI
Soetrisno Bachir pada acara Panen Raya Padi Organik, di Desa Rengas, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (1/5/2018).
Soetrisno Bachir pada acara Panen Raya Padi Organik, di Desa Rengas, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (1/5/2018).

TERASLAMPUNG.COM, LAMPUNG TENGAH—Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Soetrisno Bachir menilai Provinsi Lampung berpotensi menjadi lumbung padi Indonesia. Karena melihat dari letak sisi geografis, Provinsi Lampung cocok terhadap tanaman padi terutama dalam menanam padi jenis organik.

“Lampung adalah daerah yang secara geografis sangat tepat untuk menjadi lumbung padi Indonesia terutama untuk wilayah Sumatera dan Jawa. Apalagi pada pembangunan tol laut untuk Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, dimana itu memudahkan kita mendistribusikan hasil-hasil dari Sumatera ke Pulau Jawa begitu juga sebaliknya,”kata Soetrisno Bachir pada acara Panen Raya Padi Organik, di Desa Rengas, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (1/5/2018).

Dalam panen padi organik yang digagas Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah ini, Soetrisno sangat mengapresiasi langkah melakukan perubahan para petani di Indonesia. “Supaya penghasilan petani lebih meningkat karena kita tahu kesejahteraan petani sangat minim dan Muhammadiyah sebagai lokomotif di daerah-daerah di Indonesia,” katanya.

Hal tersebut, dinilai Soetrisno sejalan dengan program KEIN yang membuat suatu roadmap pembangunan untuk kesejahteraan Indonesia ke depannya yang terfokus pada beberapa sektor.

“Ada empat sektor yang harus kita fokuskan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas tujuh persen, salah satunya sektor agrobisnis. Kita memiliki lahan yang subur di seluruh Indonesia tetapi kita masih melakukan impor. Untuk itu organisasi seperti Muhammadiyah ini mudah-mudahan bisa menjadi teladan buat organisasi lainnya untuk terjun langsung ke masyarakat mengolah kekayaan alam kita ini,” ujarnya.

Soetrisno menjelaskan padi organik tersebut merupakan wujud dari kepedulian terhadap masalah kesehatan dan meningkatkan taraf hidup para petani.

“Kegiatan seperti ini selain meningkatkan taraf hidup petani, juga meningkatkan kesadaran kesehatan. Ini cukup menggembirakan dan ini adalah wujud daripada mengatasi kesenjangan yang sekarang kita persoalkan. Padi organik memiliki nilai tambah, harganya bisa jauh lebih mahal, mudah-mudahan ini akan bermanfaat untuk para petani yang sekarang pendapatannya sangat minim,” katanya.

Sementara itu, Plt. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Provinsi Lampung, Taufik Hidayat mengatakan acara tersebut sangat sejalan dengan amanah yang diemban Provinsi Lampung dalam mendukung kedaulatan pangan nasional yaitu Pencapaian Sasaran Produksi Padi yang semakin meningkat pada tahun 2018.

Taufik juga menjelaskan Provinsi Lampung kini terus mendorong peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura.

“Diketahui bersama selama periode 2014-2017 pertumbuhan ekonomi Lampung selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2017 sebesar 5,17 %, berada di atas pertumbuhan ekonomi Nasional (5,07%) dan rata-rata Sumatera (4,3%), Provinsi Lampung tertinggi ketiga di wilayah Sumatera setelah Sumatera Selatan dan Sumatera Barat,” ujarnya.

Sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Lampung Tahun 2017, ujar Taufik, berdasarkan BPS Lampung adalah sebesar 30,40 %. Selain itu sektor pertanian masih merupakan lapangan pekerjaan utama bagi sebagian besar penduduk Lampung, yaitu 45,94 %.

“Dengan demikian, membangun dan mengembangkan pertanian tanaman pangan dan hortikultura merupakan sebuah keharusan bagi Provinsi Lampung,” katanya.

Bila dilihat dari indikator tingkat pendapatan melalui Nilai Tukar Petani (NTP), pembangunan sektor pertanian Provinsi Lampung Tahun 2017. Hal ini menunjukkan kinerja yang sangat baik, yaitu sebesar 107,35 % tertinggi di Sumatera dan keempat secara Nasional setelah Sumatera Barat, Jawa Barat dan NTB serta diatas NTP Nasional, yaitu 101,66 %.

“Kita patut bergembira bahwa kinerja pembangunan sektor pertanian khususnya padi di Provinsi Lampung beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan, bila dilihat dari sisi produksi,” ujarnya.

Taufik menyebutkan produksi padi Lampung, berdasarkan Angka Sementara (ASEM) 2017 sebesar 4.247.234 Ton GKG, meningkat dibandingkan dengan Tahun 2016 sebesar 4.020.420 Ton GKG atau mengalami peningkatan sebesar 5,64%.

Provinsi Lampung menjadi nomor tiga di Sumatera dan nomor tujuh secara Nasional, dengan kontribusi terhadap nasional sebesar 5,24%.

“Dalam meningkatkan sektor pertanian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melakukan upaya perbaikan dibeberapa sektor pertanian diantarnya rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier di 14 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung,” katanya.

Selain rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier, Pemprov Lampung juga memberikan bantuan pra tanam berupa traktor alat tanam (transplanter) Combine Harvester
Power Threser fasilitasi benih unggul bersertiflkasi, konservasi air di lahan kering dan pompanisasi.

Lalu, Pemprov Lampung juga melaksanakan program peningkatan kesejahteraan petani melalui pengembangan jalan usaha tani tembakau di Kabupaten Lampung Selatan (1 km) dan pembangunan jalan usaha tani di kawasan perkebunan di Kabupaten Tanggamus (1 km), Lampung Utara (1 km), dan Way Kanan (1 km).
“Berbagai dukungan tersebut diharapkan dalam mempercepat pembangunan pertanian dalam rangka pemantapan ekonomi daerah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan,” ujarnya.

Taufik menekankan para petani khususnya di Desa Rengas di Kecamatan Bekri untuk secara terus menerus berupaya meningkatkan produksi padinya dan tanaman pangan lainnya.

“Potensi lahan yang ada agar dikelola secara optimal. Para petani juga harus dapat menjalin kerjasama dengan mitra usaha bidang pertanian. Dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) agar terus menerus meningkatkan pembinaan dan bimbingan kepada petani, mengingat bahwa Pemerintah telah banyak memperhatikan para penyuluh dengan memberikan Biaya Operasional Penyuluh (BOP),” katanya.

Ketua MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung, Nasrizal Jalinus mengatakan Muhammadiyah yang selama ini fokus pada aktivitas pendidikan dan kesehatan, kini memperhatikan seluruh kalangan termasuk para petani. Salah satunya, Muhammadiyah peduli terhadap kedaulatan pangan di Provinsi Lampung.

“Salah satu tugas Muhammadiyah di bidang kedaulatan pangan adalah menumbuhkan kader-kader petani maju yang pada gilirannya dapat menghimpun jamaah menjadi kelembagaan yang kuat,” ujarnya.

Nasrizal berharap momentum panen padi organik tersebut mampu menumbuhkan sentra padi organik.

“Kita panen hari ini lebih dari 9 ton. Tentunya ini membantu pemerintah mengembangkan kelembagaan tani yang kuat termasuk lembaga keuangannya dan membangun jejaring untuk memudahkan pemasarannya. Kedepannya MPM Muhammadiyah mampu mendorong tumbuhnya pusat-pusat pelatihan ditingkat pedesaan dan pengembangan agrobisnis komoditi,” katanya.