Beranda Views Opini Khittah Institut Pertanian Bogor

Khittah Institut Pertanian Bogor

327
BERBAGI

Suwidi Tono*

Ini sekadar masukan saya untuk almamater. Saya sarikan dari pikiran dua mantan rektor, sekaligus “negarawan” IPB.

Dari Prof Sajogyo, kita dapat menelusuri impian beliau IPB sbg center of excellent studi tentang desa dan wanita. BIMAS 1969, UPGK & NKKBS (1976), adalah sumbangan nyata IPB utk swasembada, perbaikan asupan gizi, kemandirian kelembagaan sosial-ekonomi desa, dan pusat studi wanita. Intinya adalah kemandirian desa melalui mekanisme self help (menolong diri sendiri). Para sarjana dan perguruan tinggi mesti memaknai tujuan pendampingan untuk maksud ini.

Koherensi pikiran dan aksi itu dapat dilacak pada makalah beliau: Modernization Without Development in Rural Java (FAO, 1972) dan pengantar beliau pada buku Clifford Geertz: Agricultural Involution, 1963).

Dari pikiran Prof Andi Hakim Nasoetion yg tertuang dalam buku: Daun-Daun Berserakan (diterbitkan IPB Press, 1985) kita dapat menemukan impian beliau tentang IPB sbg pusat riset ilmu-ilmu dasar dan terapan. Himpunan riset dan pengalaman empirik akan menjelma menjadi khasanah pengetahuan tak terpermanai untuk pijakan membuat kebijakan dan studi lanjutan. Statistika merupakan instrumen penting untuk membangun gugusan pengertian dan pemahaman atas riset ilmiah.

IPB University kini punya brand baru: Inspiring, Innovation with Integrity. Semoga landasannya masih menjejak pada impian dua the founding fathers itu agar punya daya lesak dan daya ungkit perubahan. Lebih penting lagi sesuai khittah untuk apa IPB didirikan pada 1952.

Pada akhirnya, muara seluruh upaya itu adalah seberapa besar legacy almamater untuk kemajuan rakyat, bangsa dan negara.

Demikian urun rembug saya dari “luar”. Semoga ada manfaatnya.

*Suwidi Tono adalah seorang jurnalis dan alumni IPB. Saat ini sedang mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI di Dapil Jawa Barat

Loading...