Ki Bendot dan Ki Krempeng dalam Perbincangan

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh Jauhari Zailani

Pagi ini, di Teras rumah ada tamu menunggu. Ketika Tuan Rumah keluar, Sang Tamu, tergopoh-gopoh bersalam. Ia langsung menyodorkan buku tebal Bung Karno: Di Bawah Bendera Revolusi.

Laki-laki berjenggot itu berkata untuk meyakinkan Tuan Rumah, “…pasti dua capres kita sudah khatam buku ini, dan tidak melewatkan bagian ini,  ‘Bukan djangan ‘banjak bitjara, bekerdjalah‘, tetapi ‘banjak bitjara, banjak bekerdja‘,” kata  Sang Tamu sembari menunjuk halaman buku yang menguning, daftar isi  di halaman akhir buku bersampul biru.

Tanpa menunggu reaksi Tuan Rumah, Sang Tamu terus bicara. Menurut Sang Tamu, dua capres kita ini hebat-hebat. Nampaknya, Ki Bendot dan Ki Krempeng sama-sama kagum kepada Soekarno. Ki Bendot berusaha keras menjadi Bung Karno.

“Perhatikan Mas….penampilan Ki Bendot. Semua pleg Bung Karno. Dari cara berpakaian, potongan dan model busananya, lengkap dengan peci hitamnya. Cara berpidato Ki  Bendot, runtut, menggelegar dan menghentak. Tangan dan ekspresi wajah pas. Simpatik banget….. “

Tumpah ruah kata “pujian” Sang Tamu kepada Ki Bendot, capres kita.

Dengan basa-basi bermimik serius, Tuan Rumah bertanya,“Kang, punten apa yang membedakan Ki Bendot dan Bung Karno?”

Terdiam sejenak Sang Tamu. Cengar cengir, garuk-garuk kepala. “Emmm…. bedanya Soekarno orang sipil yang bangga menjadi panglima tertinggi. Ki Bendot orang militer yang belajar menjadi orang sipil,” ujar Sang Tamu.

“Kalau beda Soekarno dan Ki Krempeng?” kejar Tuan Rumah.

Setelah berpikir sejanak, Sang Tamu berkata, “Bung Karno itu kekar dan ganteng. Beliau  pandai berkomunikasi, tulis dan orasi. Kalau Ki Krempeng ini, ndeso, dan tak suka berpidato. Apa ya kesamaanya? He he he…”

Sang Tamu tak menyangka memperoleh pertanyaan itu. Susah menemukan kesamaan antara Ki Krempeng dan Bung Karno.

“Kalau akang melihat dari mata “wadag” dan  memainkan “rasio”, yang akan nampak oleh Akang baru sebatas tampilan luarnya saja alias kulit-kulitnya. Mata di kepala, acap gagal membaca isi dan substansi seseorang, apalagi seorang pemimpin,” ujar Tuan Rumah.

“Agar kita dapat menangkap substansi dan isi pada diri seorang pemimpin, kita harus menggunakan mata batin, memainkan ‘hati dan rasa’. Dengan mata hati yang bening, semoga terjalin ‘komunikasi sambung rasa’ antara pemimpin dengan rakyatnya,” Tuan Rumah mengutip petuah Kang Moko si penguasa siar dan media di masa lalu.

“Dalam penglihatan saya,” Tuan Rumah melanjutkan,”sesungguhnya keduanya memiliki kejeniusan membaca zaman. Bung Karno berbicara dalam jaman revolusi. Ketika rakyat Indonesia rata-rata tak berpendidikan. Loyo jiwa dan mentalnya. Rakyat  tak merdeka dari budaya feodal, dan hidup di bawah tekanan Penjajah. Sementara segelintir elite di negeri kita, sebutlah contoh Haji Oemar Said Cokroaminoto, Soekarno, Hasyim As’ari, Akhmad Dahlan, Sutan Sjahrir, Muhammad Hatta, Agus Salim, amat terdidik. Dari segi bahasa saja, tokoh-tokoh kita itu rata-rata pandai dalam lima  bahasa asing. Ada gap yang menganga antara persepsi dan pengetahuan rakyat dan elitnyae…”

“He he he rupanya Bapak ini pembaca sejarah juga ya?” tanpa  malu-malu Sang Tamu memuji Tuan Rumah. “Maaf pak, cerdas dalam memahami konteks, maksudnya?”

Tuan Rumah melanjutkan uraian,”Bagi Bung Karno banyak kata abstrak yang susah dipahami oleh rakyat. Kata ‘mendirikan’ oleh Bung Karno tidak sekadar membuat jembatan atau rumah, tetapi juga   “mendirikan” semangat, “mendirikan” cita-cita, “mendirikan” koperasi, dan seterusnya. Meski kata “gotong royong” telah menjadi milik rakyat, tatepi di operasionalkan oleh Bung Karno menjadi  ‘Holo pis kuntul baris, rawe-rawe rantas malang-malang putung!’. Bersatu padu, bergandeng tangan membangun negeri…”

***

Bung Karno, bagi rakyat adalah “dewa”. Ketika kekuasaan dipahami berasal dari penguasa tertinggi yang ada di“langit ”.  Siapapun yang berkuasa, berkuasalah dia. Seolah-oleh Tuhan di muka bumi ini. Rakyat manut, nurut, ikut. Begitu fanatiknya rakyat maka“Pejah gesang nderek Bung Karno”, hidup mati turut Bung Karno.

Kini Pilpres 2014, berbeda konteksnya. Menurut pemahaman Ki Krempeng, “rakyat sadar” bahwa kekuasaan adalah milik “rakyat”. Pemimpin hanyalah “penerima mandat” dari “rakyat” untuk  “melayani rakyat”. Bukan jamannya lagi pemimpin seperti raja dan berkuasa atas segalanya. “Sabdo Pandito Ratu” bukan lagi milik penguasa, tetapi milik rakyat.

Karena itu, Ki Krempeng menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih banyak “mendengar”,  bukan banyak “berbicara”. Ki Krempeng selalu berpikir berbeda, dan melihat esensinya. Pemimpin itu melayani. Mendengar keinginan rakyat, itu bekerja. Blusukan itu memperpendek jarak rakyat dan pemimpinnya. Bersentuhan kulit antara pemimpin dan rakyatnya, pemimpin dapat membaca kata rakyat dari yang tak terucap. Merasakan detak nadi yang tak terdeteksi oleh birokrasi.

Sang Tamu kemukakan ketidak setujuannya. “Ada kaitan erat antara kemampuan berbicara dengan keberhasilan seseorang”.  Sang Tamu ceritakan fakta, banyak orang pandai berbicara, itu menjadi sukses. Bung Karno, salah satu contohnya. Untuk mengasah ketrampilan pidatonya, suatu hari di tengah malam hari ia naik “podium” di atas meja. Bung Karno belajar pidato. Berteriak-teriak di atas meja, tengah malam. Penghuni kos rumah H.O.S. Cokroamninoto pun terganggu.

***

Saya setuju, kata Tuan Rumah. Atas asumsi itu, terjadi salah kaprah dalam rekrutmen kepemimpinan kita. Dimulai dari latihan kepemimpinan oleh organisasi pemuda. Lebih menghargai yang pandai berbicara. Pandai berbicara, identik dengan pandai dan berhasil menjadi pemimpin. Memang, kemampuan berbicara amat diperlukan bagi seorang pemimpin, karena untuk meyakinkan dan mengajak pengikutnya.

Yang perlu diketahui bersama, orang jangan melupakan satu hal. Kata dan maknanya tak selalu beriringan. Kata terucap tak cukup untuk menjelaskan pikiran dan perasaan manusia. Komunikasi antar pemimpin dan rakyatnya tak sebatas berkata dan berpidato. Penting berpidato, tetapi bukan satu-satunya. Bahkan, hanya sebagian kecil saja dari komunikasi pemimpin dan rakyatnya. Untuk memahami manusia secara agak lengkap, diperlukan amatan dari satu rangkaian ucap, sikap, tindakan dan perilaku sang pemimpin.

Kita memiliki sejumlah kearifan lokal yang merujuk bahwa pemimpin harus hemat kata. “Berbicaralah yang baik-baik atau diam”. Kian tinggi kedudukan seseorang harus irit bicara, karena  ucapan berarti perintah “Sabdo pandito ratu”. Laku suci orang-orang agung seperti Nabi Muhammad, ataupun politik “swadesi” Mahatma Gandhi, gambaran “kata tak harus ucap”, tapi “teladan”.

Demikian juga kecaman pada tak sesuainya antara ucap dan laku pemimpin. Jarkoni, bisa berkata “berujar” tetapi tak pandai  “nglakoni” (menjalankan). Tak konsisten, antara ucapan dan tindakan. Dalam bahasa Jawa disebut orang yang tak berintegritas. Dalam bahasa agama disebut “munafik”.

***

Eyang Harto sangat berhati-hati. Berpidato harus tertulis. Lebih baik dia membaca teks dari pada pidato tanpa konsep. Eyang Harto pemimpin yang lebih banyak menggunakan kupingnya dari pada mulutnya. Eyang, eh, Bung Karno setara antara mendengarkan dan berbicara. “Sekali lagi; “…..Bukan “djangan banjak bitjara, bekerdjalah”, tetapi “banjak bitjara, banjak bekerdja”

Orang-orang yang pandai, bukan yang pandai berbicara tetapi pandai berkomunikasi. Pandai mengenali diri, dan bijak menggunakan. Dalam dirinya, terdapat dua alat pendengar, dua daun telinga bertengger di kanan dan kiri kepalanya. Sedangkan mulut hanya satu. Peringatannya: “banyak orang celaka karena banyak bicara”. Karena “Lidahmu, harimaumu!”