Budaya  

Kisah Aan Ibrahim Menemukan dan Mengembangkan Kain Sulam Usus

Aan Ibrahim. (Foto: oyosshn)
Aan Ibrahim. (Foto: oyosshn)
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM — Dalam dunia model di Indonesia, hanya sedikit perancang yang melakukan dua peran sekaligus: menggali kekayaan seni etnik sekaligus melakukan pemberdayaan masyarakat lokal untuk mengembangkan perekonomian lewat kerajinan bernuansa etnis. Dari yang sedikit itu, Aan Ibrahim termasuk satu di antaranya.

Kalau batik Jawa mengenal Iwan Tirta sebagai perancang yang membuat batik Jawa go international, di Lampung masyarakat luas mengenal Aan Ibrahim sebagai perancang yang berjasa besar mengangkat kain tapis Lampung sulam usus Lampung. Berkat keuletan Aan Ibrahim, kain tapis dan sulam usus Lampung kini dikenal luas di level nasional dan internasional.

Kain tapis adalah kain sulaman tangan khas Lampung berbahan benang emas. Kain in sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Sementara sulam usus adalah sulaman khas Lampung dengan bahan kain yang mengandung polister dan berbentuk seperti sulur-sulur menyerupai usus ayam.

“Ketika mulai merintis sebagai desainer, pada tahun 1980-an,  orang tua dan mertua tidak setuju karena dunia mode dianggap sebagian masyarakat Lampung identik dengan wanita cantik yang mempertontonkan auratnya. Bahkan, ketika sudah mulai sering pameran pada awal 1990-an para tetangga juga sering mengintip rumah saya karena mereka mengira saya berhura-hura dengan para gadis cantik yang menjadi model saya,” tutur Aan Ibrahim.

Untuk meyakinkan orang tua dan para tetangga, suatu saat, ketika Aan pameran di Jakarta, mereka diajak serta untuk menonton. Bahkan, secara bergilir para tetangga Aan diajak membantu mempersiapkan baju rancangan Aan yang hendak dipakai para model.

“Setelah mereka tahu sendiri bahwa dunia mode bukanlah dunia maksiat dan porno, akhirnya mereka justru mendukung saya. Bahkan, ketika mengetahui rancangan saya bisa laku jutan rupiah, ayah saya langsung cerita kepada para tetangganya bahwa anaknya telah sukses. Ya, ketika itu, pada awal tahun 1990-an, satu rancangan saya memang bisa untuk membeli sebuah rumah di kampung,” ujar kata Direktur CV Aan Ibrahim Brothers ini.

Tantangan juga dihadapi Aan dari para pemuka adat. Banyak para pemuka adat di Lampung semula protes karena Aan dianggap melakukan desakralisasi kain dan motif khas Lampung. Namun, setelah Aan memberikan argumentasi sambil membuktikan bahwa pengembangan tapis dan sulam bisa menciptakan lapangan kerja baru, para pemuka adat itu bisa paham. Bahkan, mereka kemudian mendukung langkah Aan.

Kini, Aan Ibrahim menjadi salah satu perancang papan atas di Indonesia berkat rancangan-rancangannya yang bernuansa etnis Lampung. Motif-motif yang menonjolkan seni karya adiluhung peninggalan nenek moyang Lampung ini kini bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia karena Aan Ibrahim memang membuka puluhan outlet pakaian sulam usus dan tapis di 17 kota di Indonesia. Antara lain di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, dan Makassar.

Berkat kegigihannya mengembangkan kain tapis  dan sulam usus—termasuk mendidik ribuan perajin sulam usus—aneka penghargaan sudah diraihnya, baik di level nasional maupun Asia Tenggara. Antara lain doktor honorary causa bidang seni budaya dari Chicago University, anugerah seni- budaya dari Asian Entertainment (1995),  Indonesian Executif Award, ASEAN Program Caunsultan (1997), pengusaha kecil terbaik dari Perindustrian Lampung (1995—2000), pengusaha menengah terbaik dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Lampung ( 2001—2004), dan penghargaan Siddakarya dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung (1997) karena telah memberdayakan warga kurang mampu dan banyak membuka lapangan pekerjaan.

Ribuan perajin sulam usus yang kini tersebar di 10 kabupaten dan kota di Lampung itu dulunya adalah para pekerja yang dididik dan digaji Aan Ibrahim untuk membuat sulam usus.

“Awalnya saya mendididik seratusan orang. Umumnya mereka anak putus sekolah. Setelah beberapa tahun ikut saya dan menguasai sulam usus, mereka kembali ke kampungnya masing-masing, Mereka lalu membuka usaha sendiri dan mengajak 10-15  tetangganya untuk membuka usaha kerajinan sulam usus,” kata ayah dua anak ini.

Karya sulam usus rancangan Aan tidak hanya dipakai oleh para selebritis seperti  Maudy Koesnaedy, Iis Dahlia, Lilis Karlina, dan Ike Nurjanah, tetapi juga dipakai oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Guru Soekarnoputra, Guseynova Sabina Padmavati (istri Guruh). Siti Hardiyanti Rukmana, Miranda Gultom, mantan Gubernur BI Syahril Sabirin, beberapa istri menteri, dan para istri pejabat di Lampung. Orang-orang bule pun kini banyak yang tertarik mengoleksi hasil rancangan Aan Ibrahim.

Aan Ibrahim tidak memiliki latar belakang pendidikan mode ketika pertama kali menekuni dunia mode. Sebelum terjun ke dunia mode pada akhir 1980-an, alumnus akademi perawat kesehatan ini  bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM) di Bandarlampung. Sambil bekerja sebagai PNS, Aan juga nyambi sebagai model dalam beberapa acara fashion show di Lampung dan Jakarta.

Setelah belajar otodidak, akhirnya Aan mempelajari mode secara formal di Esmode, Jakarta, pada awal 1990-an. Sambil merancang mode, Aan pun  membuka usaha butik. Dari butiknya itulah Aan menularkan keterampilannya merancang kepada anak buahnya. Salah satu keterampilan yang diajarkan Aan kepada para anak buah sekaligus karyawannya itu adalah merancang desain baju bermotif  tapis dan sulam usus.

Ketika mulai dikembangkan Aan Ibrahim pada pertengahan tahun 1900-an, kain tapis dan sulam usus sudah nyaris punah. Kain tapis sudah banyak yang masuk museum atau disimpan di rumah orang-orang kaya beretnis Lampung sebagai lambang status. Kain tapis sesekali keluar pada saat upacara adat.

Demikian juga dengan sulam usus. Sulaman khas  Lampung yang biasa dipakai sebagai ornamen pakaian tradisional Lampung itu pun sudah nyaris punah karena tidak ada yang memproduksi dan mengembangkannya.

“Saya mengembangkan tapis dalam rancangan saya karena saya melihat kebudayaan Lampung belum digarap desainer-desainer Indonesia. Iwan Tirta sudah mengolah batik dan Ramli mengolah bordir sampai ke mancanegara. Saya memilih mengembangkan tapis karena itulah kekhasan Lampung,” ujarnya.

Setelah sukses dengan tapis Lampung dan sulam usus, sejak setahun lalu Aan mengembangkan sulaman tembung manok (pantat ayam). Ini juga sulaman khas Lampung. “Saya menemukan sulam tembung manok ketika Lebaran Idul Fitri di rumah keluarga, di Menggala, Kabupaten Tulangbawang, dua tahun lalu,” kata dia.

Kini Aan masih terobsesi untuk menggali dan mengembangkan tekstil Lampung dengan memadukan berbagai seni budaya dari negara lain. Misalnya sari dari India dan  sulaman Turki

Oyos Saroso H.N.