Beranda Pendidikan Kisah Erin, Gajah Taman Nasional Way Kambas yang Belalainya Putus 

Kisah Erin, Gajah Taman Nasional Way Kambas yang Belalainya Putus 

146
BERBAGI
Wagub Chusnunia Chalim pada acara bedah buku di Bandarlampung, Sabtu malan (6/7/2019).

TERASLAMPUNG.COM — Provinsi Lampung punya banyak gajah. Tapi tidak sepeti Erin, gajah yang putus belalai akibat jeratan oknum tak bertanggung jawab di hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Dengan belalai putus, nasib Erin mengenaskan. “Dia tak bisa makan dan minum. Siapapun yang melihat bisa menangis,” ujar Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim saat bercerita tentang Erin dalam Acara Bedah Buku Foto Before Too Late karya Regina Safri di cafe Woodstairs, Sabtu (06/07/2019) malam.

Wagub Chusnunia Chalim, yang akrab disapa Nunik, berkisah bahwa Erin menjadi gambaran gajah yang jadi korban di TNWK. Kisah yang diungkap Nunik didengar langsung penulis buku “Before Too Late” Regina Safri yang hadir dalam bedah buku itu.

“Kalau bercerita tentang Erin, dulu ketika saya melihat, pasti saya akan menangis karena kasihan. Di awal ditemukan Erin serba kesulitan apabila makan dan minum, karena belalainya tidak sampai ke tanah,” ujar Nunik.

Nunik mengatakan dirinya merasa diberi surprise saat melihat foto yang tertera dalam pamflet acara bedah buku itu adalah Erin, si gajah yang terluka. “Alhamdulillah sekarang Erin sudah sedikit lincah,” kata Nunik.

Dalam bedah buku ini, Rere sapaan akrab Regina Safri menerangkan buku “Before Too Late” adalah karya keduanya setelah buku pertamanya yang berjudul “Orang Hutan” yang merupakan hasil hunting fotonya selama beberapa tahun di Kalimantan.

Ia mengatakan buku-buku tersebut sebagai bentuk kampanye atau cerita ke masyarakat untuk mencintai lingkungan.

Setelah buku pertama, banyak penggemarnya menagih karya selanjutnya. Maka munculah karya terbaru yang mulai ditulisnya tahun 2013 “Before To Late”. Ini dibuatnya setelah keluar masuk hutan 3,5 tahun dari Aceh sampai Lampung.

“Selain kampanye, menyebarkan virus peduli lingkungan ke masyarakat, karena saat ini hutan kita sudah sangat memperhatinkan. Saya tahu buku ini tidak akan berdampak yang signifikan, namun saya berharap dengan berbicara di beberapa kota, buku ini mampu membuat orang lebih memikirkan hutan,” kata Rere.

Fotorgrafer pribadi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ini merupakan aktifis dan journalist di kantor berita Antara. Dia mengatakan bahwa dirinya senang mendapat perhatian dan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Lampung, kerena Lampung merupakan Provinsi yang paling sering dikunjunginya. Selama 3,5 tahun dia menyelesaikan proses pengerjaan buku, termasuk memilih cover foto “Before Too Late”, dari Waykambas.

Sementara itu, Wagub Nunik, pada bagian lain penjelasannya, mengatakan pada awal kepemimpinannya menjadi Bupati Lampung Timur di tahun 2016, dia merasa sedih melihat respon masyarakat sekitar yang meminta ditutupnya destinasi wisata Waykambas. Pasalnya, masyarakat khawatir dengan amuk gajah, yang dianggap hanya menjadi pengganggu. Kekhawatiran itu dipicu apabila gajah-gajah tersebut mengamuk akan turun ke rumah-rumah warga dan mengancam keselamatan warga.

“Melihat fenomena tersebut, saya sebagai Bupati Lampung Timur pada saat itu tidak tinggal diam. Pemerintahan di bawah kepemimpinan saya berusaha semaksimal mungkin turun tangan menghidupkan kembali Waykambas,” kata Nunik.

Itulah sebabnya, Nunik menyelenggarakan berbagai festival pertunjukan gajah yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Perjuangan Nunik membuahkan hasil postif. Kini Waykambas telah kembali menjadi tujuan wisata, dan membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar.

Hal ini dapat dirasakan dengan meningkatnya pendapatan Waykambas, yang tadinya hanya menghasilkan Rp25 juta per tahun kini berhasil meraup pendapatan mencapai Rp1 miliar per tahun.

Loading...