Beranda News Nasional Emha: Indonesia Mesti Belajar dari Hayam Wuruk dan Gajahmada

Emha: Indonesia Mesti Belajar dari Hayam Wuruk dan Gajahmada

1738
BERBAGI
Emha Ainun Nadjib (teraslampung/isbedy stiawan zs)

Raditiya, Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Menggala–Emha Ainun Nadjib tetap setia pada narasi inspirasi. Salah satu inspirasi yang diuarkan Emha Ainun Nadjib dalam acara Sekala Selampung di GSG Rumah Dinas Bupati Tulangbawang, Minggu (23/3) malam adalah yang bersumber dari Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada.

Indonesia, menurut Cak Nun–sapaan akrab Emha Ainun Nadjib–semestinya berguru pada kisah Hayamwuruk dan Gajahmada, kata Cak Nun dalam diskusi bertema “Menyambut Pemimpin Baru, Pemerintahan Baru” itu.

Menurut Cak Nun, antara Hayamwuruk dan Gajahmada memiliki tupoksi masing-masing. “Yang satu sebagai pelaksana kenegaraan, dan satunya menjadi pengawas bagi pelaksanaaan kenegaraan. Dan, itu tidak tumpangtindih,” katanya.

Cak Nun mengatakan, dalam kenegaraan Indonesia justru yang terjadi adalah lembaga pemerintahan dengan lembaga kenegaraan seperti tak ada sekat. “Bahkan lembaga pemerintahan bisa dengan mudah mengintervensi lembaga negara,” jelas pimpinan Kiyai Kanjeng ini..

Cak Nun mencontohkan, lembaga seperti KY, MK, KPK, serta KPU adalah lembaga negara. Namun, para pengurus lembaga ngara itu dilantik oleh lembaga pemerintah. “Bagaimana lembaga negara itu akan mengawasi roda pemerintah, kalau yang melantik mereka adalah orang pemerintah,” tegas Cak Nun.

Karena itu, menurut suami Novia Kolopaking ini, wajar kalau KPK tak mampu menjamah istana. KPU tak bisa berbuat banyak tatkala berhadapan dengan eksekutif.

Cak Nun juga juga mencontohkan bagaimana MK, Kejaksaan, KPU, dan lembaga negara lainnya tidak mampu ketika harus mengawasi kebijakan pemerintah. “Sebab, lembaga negara itu dilantik oleh penyelenggara pemerintah (presiden atau gubernur di tingkat provinsi, Red),” kata Emha Ainun Nadjib lagi.

Emha menawarkan pemikiran bagi Indonesia baru, bagaimana lembaga pemerintah dan lembaga negara punya tupoksi yang tidak saling intervensi.

Kehadiran Cak Nun di Menggala, tidak ikut menembang. Ia tampil sebagai pengantar diskusi dengan memberi gambaran kekinian yang terjadi di Indonesia, dan meresume apa yang berkembang dalam diskusi dan harapan dari warga Menggala.

Sekala Selampung yang digagas perusahaan tambak udang Central Pertiwi Bahari bekerjasama dengan akademisi Univeristas Lampung diluncurkan di Lapangan Korpri Pemprov Lampung akhir tahun 2013, dinilai sangat perlu untuk dilanjutkan pada waktu-waktu mendatang.

“Kita akan bentuk kepanitiaan kecil untuk menggagas kegiatan ini agar lebih mengenai sasaran,” kata Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo.

Dikatakan Heri, pihak Radar Lampung, Lampung Post, dan CPB sudah siap untuk melanjutkan Sekala Selampung ini.

Sekala Selampung adalah bincang-bincang Cak Nun dengan menghadirkan narasumber yang ada di Lampung. Perbicangan yang digulirkan masalah-masalah yang aktual dan kekinian, baik masalah politik, budaya, ekonomi, maupun sosial.

“Sekala sebagai jalan tengah dan penengah dari masalah (dan konflik, Red) yang ada di masyarakat,” kata Cak Nun.

Lihat Juga: Indonesia Butuh Rongga-Rongga

Loading...