Beranda Views Inspirasi Kisah Inspirasi: Manfaat Membaca Buku

Kisah Inspirasi: Manfaat Membaca Buku

2104
BERBAGI

Oleh Gola Gong*

Gola Gong (dok pribadi/Istimewa)

Saya sekarang berada di sebuah kamar kecil bersama Boedi Oetomo di apartemen Taipe, Taiwan. Usia saya 52 tahun. Bagaimana saya bisa berada di sini? Saya yakin, itu adalah manfaat yang saya petik dari kebiasaan membaca.

Saya mulai senang membaca buku ketika tangan saya diamputasi di RS Cipto (1974). Saat itu saya diajak ke Pasar Senen oleh Bapak. Saya mulai jadi anak kecil penuh mimpi, terutama mengelilingi bumi seperti Columbus, Marcopolo, Vasco da Gama.

Saya sudah tidak sanggup lagi membaca seperti dulu, bahkan semakin ketinggalan sekarang. Sejak tahun 1990, saya sudah memasuki fase ke menulis, yang menurut pepatah China adalah “membaca dua kali”‘. Percayalah, jika kamu ingin jadi penulis, pintu masuknya dari membaca. Kegiatan menulis itu adalah proses lanjutan dari membaca.

Kemudian fase ketiga, yaitu tulisan itu saya jadikan film. Ini adalah bentuk xpresi, yaitu fase dimana karya tulis kita ingin disebarkan ke publik, agar gagasan di dalamnya sampai dengan cara popular, yaitu hiburan.

Tapi proses membaca saya di waktu yang sedikit itu, sejak 1974 sd 1990, saya merasa otak saya jadi sehat dan logis. Kira-kira seperti itulah. Ada beberapa hal penting yang bisa saya catat, manfaat apa yang saya peroleh dari membaca dan itu saya terapkan dalam keseharian.

Saya bagikan kepada kamu, apa saja yang saya peroleh. Ternyata hanya 5:

1. Agama itu adalah pembentukan awal karakter. Saya pernah menolak agama. Tapi itu membuat saya jadi sombing. Ternyata sangat penting untuk memercayai satu agama. Ketika saya bulat memilih Islam, itu karena Muhammad sangat rendah hati dan Allah adalah hal yang tidak bisa dibanding-bandingkan. Jadi, ternyata memiliki agama itu adalah pintu masuk ke persoalan toleransi terhadap sesama. Jika kita tidak beragama, kita selalu merasa paling benar sendiri dan cenderung jadi sombong. Itu yang saya rasakan. Mungkin ada orang yang tidak beragama dan jadi rendah hati, saya sangat salut.

2. Hidup harus menghormati dan patuh kepada orang tua. Keluarga sangat penting. Segala macam persoalan dimulai dari keluarga. Hitam-putihnya kehidupan dimulai dari keluarga. Saya hampir menolak pernikahan.

3. Saya jadi paham, bahwa kita hidup itu tidak sendiri. Kesuksesan yang kita raih tidak semata-mata buah dari kerja keras kita, tapi ada keterlibatan keluarga, orang lain, bahkan alam semesta oun mendukung kita. Itu sebabnya saya mengajak istri, Tias Tatanka, dan para sahabat membangun Rumah Dunia. Kita harus membantu mendorong orang lain yang memiliki mimpi besar untuk segera mewujudkannya. Bung Karno bilang, “Mimpilah setinggi langit. Kalau oun jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

4. Regenerasi. Jika kita maknai betul arti kepemimpinan, setiap pembelajar kehidupan akan selalu memberi jalan kepada tunas-tunas baru yang sedang tumbuh. Setiap kita duduk di kursi kepemimpinan, percayalah, semua pasang mata tertuju kepada kita. Mereka berkata dalam hatinya, “Kelak jika saya duduk di kursi kepemimpinan, akan begini dan begitu….” Ki Hajar Dewantara sudah menawarkan konsep pendidikan itu; temani, ikuti, dan dorong agar maju. Toleransi akan muncul di sini. Saling menghargai perbedaan juga bersemi di sini.

5. Korupsi. Ini ternyata biang kehancuran setelah agama. Jadi betul kalau “tahta, harta, dan lawan jenis; itu bisa menghancurkan kita. Maka sebetulnya kinsep hidup yang benar, adalah syukuri hak kita, kemudian beranikanlah memberi. Kadang saya menemukan, banyak orang yang senangnya meminta,btapi tidak mau memberi. Ada yang meminta banyak, tapi selalu berhitung ketika memberi. Budaya berhitunglah yang menyebabkan budaya membaca di kita hancur.
Jadi, ketika 5 hal itu saya temukan dalam proses membaca saya, tidak ada lagi keinginan lain selain ingin mempraktekkannya.

Saya merasa dan sadar diri, bahwa proses membaca saya masih lemah dan seolah sebutir pasir di laut. Tapi saya tetap mensyukurinya, karena membaca buku sebanyak apa pun atau sesedikit apa pun, jika kita mengambil sisi positifnya, insya Allah akan membawa manfaat.

Selamat membaca buku, sahabat. Mulailah dari sekarang menyisihkan uang untuk membeli minimal 1 buku tiap bulan.

Kalau saya fasenya sekarang tidak hanya menjual buku, tapi juga memberi hadiah buku. Seperti sekarang ke Taiwan atas undangan Pendidikan Kesetaraan Taiwan, saya membawa hadiah 15 buku. Atau jika ada perayaan buku, seperti “Hari Buku Nasional” (17 Mei) atau “World Book Day” (23 April), saya merayakannya dengan memberi hadiah buku kepada wong cilik, tukang becak, tukang bakso, atau supir angkot.

Jadi kawan, manfaat membaca buku bisa hitam dan putih. Itu semua tergabtubg Anda memaknainya. Jika dari awal diniatkan agar pintar, kata orang Baduy di Banten selatan, kecenderungan “minterin” atau ngakalin orang lain ada. Tapi, selamat membaca buku.

* Gola Gong adalah sastrawan kelahira Banten. Buku novel karyanya yang terkenal pada era 1980-an antara lain adalah “Balada Si Roy”

Baca Juga: Gola Gong, Duinia Ada di Genggaman Tangannya