Beranda Views Kisah Lain Kisah Korban Tsunaami Selat Sunda: Jadi Yatim Piatu, Revan Tetap Ingin Sekolah

Kisah Korban Tsunaami Selat Sunda: Jadi Yatim Piatu, Revan Tetap Ingin Sekolah

2367
BERBAGI
Revan (8) bocah malang kelas 2 SD warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa yang kini jadi yatim piatu akibat bencana tsunami saat berada di Posko pengungsian Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.

Zainal Asikin |Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Bencana alam tsunami Selat Sunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menerjang wilayah pesisir Lampung Selatan pada Sabtu 22 Desember 2018 lalu,  menyisakan duka mendalam bagi para korban. Salah satunya adalah seorang anak laki-laki bernama Revan Cio Putra Depati (8) atau yang akrab disapa Revan, warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Revan menjadi saksi sekaligus korban saat gelombang tsunami menerjang rumahnya hingga roboh dan rata dengan tanah. Ibunya, Lenawati, meninggal dalam musibah tersebut. Meninggalnya Lenawati membuat Revan jadi anak yatim piatu karena dua tahun lalu ayahnya juga meninggal.

Kini bocah malang yang masih duduk dibangku kelas 2 SDN ini harus menjalani hidup sendiri, tanpa ada belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Saat Teraslampung.com mengunjunginya di posko pengungsian di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, belum lama ini, Revan sedang duduk bersama bibinya, Syariah (52), dan pengungsi lainnya. Raut kesedihan masih tampak terlihat di wajah Revan.

Syariah menuturkan, ketika mendengar kabar terjadinya tsunami di wilayah pesisir Lampung pada 22 Desember 2018, pagi harinya ia bersama suaminya mencari keberadaan Lenawati dan anaknya di Desa Kunjir.

Tiba di depan rumah adiknya, Syarifah langsung lemas karena mendapati rumah adiknya sudah rata dengan tanah.

“Saya dapat kabar dari warga, kalau jenazah Lenawati (ibu Revan) dapat ditemukan dan dievakuasi ke RSUD Bob Bazar Kalianda. Sementara Revan selamat, meski saat kejadian Revan ditemukan warga di runtuhan puing-puing bangunan bercampur dengan pohon yang tersapu ombak,”ucapnya sembari menitikkan air mata, Jumat 4 Januari 2019.

Syariah yang juga sebagai guru di SDN 2 Klawi, Bakauheni ini menceritakan, dari keterangan warga yang selamat saat kejadian tsunami dan berhasil menyelamatkan Revan, bahwa Revan dan ibunya terseret gelombang dan tertimbun reruntuhan puing-puing bangunan rumah kurang lebih selama 6 jam saat terjadinya terjangan tsunami.

Revan bersama  seorang dokter tim kesehatan dari IDI Lampung di Posko Pengungsian Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.

Mnjelang subuh, kata Syariah, warga mendengar adanya suara rintihan dan melihat seperti adanya gerakan di dalam puing-puing reruntuhan bangunan rumah Lenawati.

“Ternyata suara itu adalah rintihan Revan. Saat itu Revan sesekali merintih meminta pertolongan. Untungnya warga dapat menemukan dan menyelamatkan Revan dari timbunan puing-puing bangunan dengan posisi kaki kiri Revan terjepit sama reruntuhan bangunan,”ujarnya.

Lenawati meskipun berhasil ditemukan warga, tapi kondisinya sudah terbujur kaku dan tak bernyawa lagi di reruntuhan puing-puing bangunan yang tidak jauh dari Revan ditemukan.

Selanjutnya, warga membawa Revan yang mengalami luka ringan dan selamat dari maut ke tempat pengungsian di Desa Totoharjo, sedangkan ibunya dibawa ke RSUD Bob Bazar Kalianda.

dr. Wahyu Wibisana, salah seorang relawan dari tim dokter dari IDI Lampung,  memberikan dorongan motivasi dan semangat kepada Revan.

“Revan kamu yang kuat dan sabar ya.Kamu salah satu dari ratusan korban yang selamat, dan kamu juga adalah pilihan yang diselamatkan oleh Allah SWT. Mudah-mudahan, kelak kamu jadi anak yang kuat hadapi cobaan dan pintar berguna untuk bangsa, agama dan negara,”kata dr. Wahyu Wibisana, salah seorang relawan dari tim dokter dari IDI Lampung.

Beberapa saat setelah terjadinya tsunami di Selat Sunda, seorang warganet bernama Yodistara Nugraha (Yodis)  mengunggah video di Facebook tentang evakuasi terhadap bocah 8 tahun yang tertimbun runtuhan rumahnya.

Video itu menggambarkan kondisi Revan saat ditemukan oleh warga di  dalam reruntuhan bangunan rumahnya bercampur dengan pepohonan yang tersapu ombak.

Dalam video tersebut, Revan merintih minta pertolongan dan sejumlah warga berusaha untuk menyelamatkan Revan dengan membongkar reruntuhan bangunan.

Revan sempat mengatakan, “disini Revannya”. Kemudian salah seorang warga menyebutkan “Ya Allah Revan adikku, tahan ya dek,”ucap warga itu. Tak lama kemudian Revan mengatakan “Wah kakinya sakit, patah aduh,”ucap Revan.

Kini, meskipun harus hidup dengan Budenya, Revan mengaku akan tetap bersemangat untuk melanjutkan sekolah.

“Saat ini, kami yang akan mengurus Revan di Desa Klawi. Kami akan sekolahkan Revan. Sekolahnya juga sudah dipindah di SDN 2 Klawil. Mudah-mudahan, saya bisa menggantikan peran ibunya,” kata Syariah.

Loading...