Kisah Panjang Rumah Kopi dan Pabrik Kopi Margo Redjo Semarang

Kopi Robusta Lampung salah satu pilihan yang tersedia di Rumah Kopi Dharma Bouitique Roastery, Semarang ( Foto : Suwito)
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, SEMARANG — Sebuah siang tanpa rencana sehabis liputan acara resik-resik rupang Kong Co – Mak Co di Klenteng Tay Kak Sie,Gang Lombok, saya, Mas Agus Budi Santoso, dan Suwito mlipir ke Rumah Kopi di Jalan Wot Gandul Barat 14, Kranggan, Semarang.

Kami tidka janjian dengan pemiliknya,Pak Widayat Basuki. Sebab, Mas Agus sudah mencoba telpon dan WA tak berbalas. Iseng-iseng berhadiah, setelah sampai di Rumah Kopi dan kami uluk salam sang pemilik nongol menyambut kami. Iseng-iseng berhadiah, setelah nhobrol ngalor ngidul dan ditawari kopi diajak melihat pabrik kopi yang lama, lokasi terpisah dari proses produksi sekarang. Sementara Mas Safarudin, barista, menyiapkan kopi kami bertiga mengikuti Pak Basuki.

Sesampai di pabrik, mulailah Pak Basuki berkisah pabrik kopi “Margo Redjo” yang muasalnya didirikan di Bandung pada tahun 1915. Namun pabriknya dilanjutkan di Semarang oleh Tuan Tan Tiong Ie pada tahun 1924. Kisah tersebut diuat di surat kabar De Locomotief, 2 Oktober 1947.

Widayat Basuki yang merupakan generasi ketiga penerus usaha kopi ini mengatakan,
Indonesia sejak dahulu telah terkenal sebagai negara produsen kopi. namun di bidang hasil akhirnya, kopi sangrai dan kopi bubuk,

Menurut Widayat Semarang dalam bisnis perkopian punya reputasi yang patut dipertahankan.
Di masa puncaknya bisnis perkopian , tahun 1929, produksi total kopi sangrai, kopi bubuk dan kopi kalengan untuk kebutuhan pasar ekspor dari Indonesia adalah 467 ton, yang 326 ton di antaranya, atau 69% berasal dari Semarang.

Dari jumlah itu, sekira 200 ton, atau 60%, dihasilkan oleh pabrik kopi “Margo Redjo”. Selain itu pabrik ”Margo Redjo” masih menghasilkan 750 ton untuk pasar dalam negeri.

Dari sebelum perang, “Margo Redjo” merupakan pabrik kopi terbesar di Semarang sempat berhenti beroperasi ketika pendudukan Jepang, bahkan mesin-mesinnya sempat diungsikan ke Kraton Solo, karena takut besi-besinya disita untuk dijadikan bahan senjata.

Setelah melintasi berbagai jaman nama pabrik kopi “Margo Redjo”, pada tahun 2017 oleh Widayat Basuki diubah menjadi Dharma Boutique Roastery. Alasannya, tentu berkaitan dengan jagad perkopian yang petanya juga beruah.

Kini, selain menjual dan melayani Roastery juga menyajikan kopi seduh juga menyediakan aneka kue ‘teman’ ngopi. Atmosfernya beda dengan kafe-kafe di sini. Di sini pengunjung bisa menikmati kopi sambil melihat proses roaster. Pilihan kopinya beragam asalnya dari dataran tinggi Aceh hingga Papua yang rapi tersusun dalam puluhan toples yang berjajar rapi.

Ke depan Widayat Basuki berangan-angan bakal menggelar diskusi atau pameran di area ruang pabriknya. Tetapi, dia tak ingin merubah suasananya jadi hingar binger suasana kafe. Suasananya minum kopi seperti di rumah sendiri. “Pokoknya jangan bilang jago ngopi kalau belum ke Rumah Kopi DBR,” ujar Agus Budi Santoso. (Christian Heru)