Kisah Payung Biru

  • Bagikan

Wijang Wharek Al-Mauti

wijang-wharek-smallBeberapa hari belakangan ini, hiruk pikuk keriuhan mewarnai kampung kami. Bukan lantaran banjir yang selalu mengancam akibat cuaca ekstrim musim penghujan. Bukan pula ancaman tanah longsor yang sewaktu-waktu dapat membenamkan segala kenangan. Tapi karena gelombang unjuk rasa dari sebagian warga kampung yang tidak puas dengan kinerja Pak Lurah.

Menurut mereka, Pak Lurah dianggap terlampau lamban menangani setiap masalah, salah satunya adalah perkara tukar guling atau ruislaag tanah kas desa yang kurang tranparans dalam penanganannya.

Seperti yang terjadi lima hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, sebagian warga kampung telah berkumpul di musholla desa. Mereka bersiap untuk menggelar aksi setelah sholat jumat berjamaah. Hari Jumat ini dipilih karena memudahkan mobilisasi massa mengingat sebagian besar warga kampung beragama Islam dan seorang ulama yang dituakan memimpin aksi ini yang akan bergerak ke Kantor Kelurahan.

Waktu itu hujan mulai turun mengguyur kampung kami. Sementara di Kantor Kelurahan, Pak Lurah menggelar rapat yang dihadiri oleh seluruh perangkat desa, BPD, Babinsa, dan beberapa tokoh masyarakat.

“Kita telah mengetahui hari Jumat ini, sebagian besar warga akan melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Kelurahan. Tuntutannya pun sudah kita ketahui, mereka butuh transparansi terkait tukar guling tanah kas desa. Padahal hujan turun cukup deras. Saya ingin menemui mereka di halaman kantor ini. Ada usulan?” tanya Pak Lurah kepada semua yang hadir dalam rapat.

“Ada, Pak Lurah,” jawab salah seorang perangkat desa.

“Apa usulan Saudara?”

“Pertama, Pak Lurah mesti berterus terang kepada mereka, bahwa perkara tukar guling atau ruislaag tanah kas desa akan ditangani secara transparan. Bukankah hal ini pun sesungguhnya harapan dan misi kita bersama dan kita akan melakukannya untuk mewujudkan pemerintahan desa yang bersih?”

“Ya, benar. Lalu…?” tanya Pak Lurah.

“Lalu… yang kedua, maaf, mungkin ini sedikit di luar nalar, tapi penting buat pencitraan…”

“Di luar nalar? Penting untuk pencitraan? Maksud Saudara?” tanya Pak Lurah agak penasaran.

“Maksud saya, karena saat ini hujan turun, sebaiknya nanti Pak Lurah menemui mereka di halaman terbuka sambil berpayung warna biru.”

“Berpayung warna biru? Apa hubungannya dengan perkara ini?” tanya Pak Lurah tambah penasaran.

“Ya, ini sekedar simbolisasi, Pak Lurah.”

“Memangnya payung biru itu punya makna apa?”

“Menurut saya, konon dari cerita orang tua dulu, payung bermakna mengayomi atau melindungi. Sedang warna biru mengandung arti kejernihan pikiran dalam berkomunikasi, penuh semangat menenangkan emosi. Warna biru ini paling disukai secara universal, simbol kepercayaan dan kejujuran” jelas perangkat desa menerangkan.

“Oh begitu ya? Bagaimana dengan pendapat Saudara-saudara lainnya? Setuju?” tanya Pak Lurah.

“Setujuuuuu…” jawab hadirin serentak.

“Baiklah kalau begitu. Saya setujui pula usulan Saudara dan saya akan melakukannya,” jawab Pak Lurah dengan tegas.

Dan benar, peristiwa hari Jumat itu akhirnya dapat berlangsung dengan damai. Semua warga mengamini penjelasan dan keputusan Pak Lurah.

Meski demikian, masih ada menyisakan satu pertanyaan di setiap benak warga sepulang dari aksi itu “Kenapa Pak Lurah menggunakan payung warna biru saat menemui mereka?”

Mereka pun tak pernah bisa menemukan jawab, hanya menerka-nerka saja.***

* Wijang Wharek Al-Mauti adalah penyair, tinggal di Solo, Jawa Tengah

  • Bagikan