Beranda News Budaya Kisah tentang Kopi

Kisah tentang Kopi

234
BERBAGI
ilustrasi

Cerpen Kang Insan Purnama

Pada tahun 1872, Turk menulis sebuah risalah kecil tentang kopi. Risalah itu berjudul “The Secret of Black Coffee” diterbitkan oleh Van Housten, Amsterdam.

Dalam risalah itu, Turk membongkar kebohongan mitos tentang kopi. Berdasaran hasil penelitian sebagai ahli folklore, Turk mengatakan Pemerintah Jajahan menciptakan mitos tentang kopi agar anak negeri jajahan tidak berlebihan mengonsumsi kopi, bahkan sama sekali tidak mengonsumsi kopi sehingga kopi yang dijual kepada Pemerintah akan selalu meningkat jumlahnya. Apalagi kopi sering menjadi primadona ekspor sebab harganya di pasaran internasional selalu meningkat. Kondisi itu akan menguntungkan Pemerintah jajahan.

Mitos yang dibicarakan oleh Turk adalah mitos bahwa peminum kopi akan menjadi orang bodoh. Menurut Turk, mitos itu sengaja diciptakan ketika Pemerintah Jajahan saat menyadari bahwa kopi negeri itu sangat berkualitas dan paling laku diperjualbelikan. Memang, setelah mitos itu disebarkan, hanya dalam waktu dua tahun hampir 80% kebutuhan kopi dunia dapat dipenuhi oleh Pemerintah Jajahan.

Sayangnya, pada tahun 1873, artinya satu tahun setelah risalahnya terbit, Turk ditangkap di rumahnya ketika sedang minum kopi bersama koleganya.Turk diadili dengan tuduhan menyebarkan fitnah terhadap Pemerintah Jajahan. Pengadilan yang penuh rekayasa pun digelar. Pengadilan itu memutuskan bahwa Turk dijatuhi hukuman mati. Sebuah keputusan pengadilan yang tidak masuk akal hanya disebabkan sebuah buku.

Pengadilan penuh rekayasa terhadap Turk itu terbongkar sepuluh tahuhn kemudian. Ketika sebuah buku berjudul “The Satan Court” terbit di Inggris. Penulisnya adalah Berghe, salah mantan hakim yang mengadili Turk. Ia tinggal di Inggris setelah pensiun, sebab di negerinya, ia merasa dikejar-kejar arwah Turk. Buku itu laris manis di negerinya Turk. Buku itu dijadikan alat bagi partai oposisi untuk menyerang Pemerintah. Pada akhirnya,ketika pemilu digelar partai oposisi memenangkan pemilu tersebut. Sayangnya, Berghe ditemukan tewas tenggelam di sebuah danau di sebuah villa miliknya.

Kringggg….! Kriiiiingggg! telepon rumahku berdering. Dua buku tentang kopi yang sedang aku baca segera aku tutup. Aku bergegas ke mengangkat telepon.

“Hello,” kataku ketika gagang telepon kuangkat.

“Bagaimana apakah kisah tentang kopi itu menarik?” tanya suara di ujung telepon itu seolah-olah dia tahu bahwa aku sedang membaca buku tentang kopi.

“Maaf, ini siapa?” tanyaku.

“Tidak perlu tahu. Aku hanya butuh pendapatmu tentang buku itu,” suara di ujung telepon seperti mendikteku.

“Buku itu penuh kontroversi.”

“Baik, terima kasih. Selamat menikmati malam terakhirmu.”

“Apa!?” aku terkejut mendengar kata-kata terakhir itu. Tapi, sayangnya, telepon sudah terputus.

Aku kembali ke ruang kerjaku. Sebuah buku lain aku ambil dari lemari bukuku.Itu adalah buku ketiga tentang kopi yang dikirimkan oleh seseorang ke alamatku.

Buku tebal itu berjudul “the Curse of Coffee Trees”. Anehnya, buku itu tak ada penulisnya. Tak ada penerbitnya. Buku yang aneh. Tapi, aku niatkan untuk membacanya dan menamatkannya malam ini. Menurut buku itu, pemerintah jajahan telah membuat sebuah pasukan khusus yang ditugaskan untuk “mengamankan mitos tentang kopi” dengan cara apapun. Bahwa pasukan khusus itu pulalah yang merekayasa pengadilan atas Turk dan menenggelamkan Berghe di sebuah danau hingga tewas.

Mataku mulai berat untuk melek. sekali-kali kepalaku aku letakkan di atas meja sebab aku pun masih ingin membaca buku itu. Kopi yang disuguhkan oleh pembantuku beberapa waktu yang lalu tidak kuasa menahan kantukku. Berat sekali mataku. Tak lama, aku merasakan bahwa rasa kantuk ini bukan kantuk yang biasa, tapi kantuk yang menghentikan jantungku berdenyut.

Kulihat dengan sisa waktu yang aku punya, pembantuku masuk ke ruang kerjaku, melihat-lihat meja kerjaku, mengambil catatan penelitianku tentang kopi, lalu mengambilnya, dan membawa semua buku tentang kopi. Sebelum pergi dia berbisik padaku, “aku anggota pasukan khusus, tugasku meracunimu dengan racun kopi special….”

Lalu, pembantuku itu menutup pintu kamarku. Saat langkahnya tak terdengar lagi, aku tak kuasa lagi bernapas…..

Loading...