Kita Sibuk, tetapi tidak Produktif

  • Bagikan

Ridwan Saifuddin
Peneliti Balitbangda Provinsi Lampung

Berdasarkan laporan The Asian Productivity Organization (APO), pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) Indonesia periode 1980-2000 adalah -0,8 persen; terendah di Asia. Sumber yang sama menyebut, pertumbuhan TFP per tahun kita selama 2000-2017 adalah -0,4 persen. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, pertumbuhan TFP China 3,2 persen; India 2,0 persen; dan Pakistan 1,5 persen. Jauh meninggalkan Indonesia.

Faktor penentu TFP paling utama adalah inovasi teknologi. Inovasi teknologi sebagai sub bagian terbesar TFP, di samping output agregat (PDB). Dari data di atas, TFP negatif artinya, kontribusi inovasi teknologi terhadap total output perekonomian nasional adalah negatif. Dengan kata lain, input “inovasi teknologi” dalam perekonomian selama ini belum berkontribusi positif dalam meningkatkan efisiensi ekonomi.

Produktivitas merupakan akar penentu daya saing baik pada level individu, perusahaan, industri, maupun negara. Kemajuan teknologi (mestinya) membuat pekerja lebih produktif. Kemajuan teknologi juga bertanggung jawab atas peningkatan output bisnis secara signifikan.

Inovasi teknologi sebagai pembentuk utama TFP, tidak sebatas perangkat keras (hardware). Teknologi, termasuk di dalamnya, pemanfaatan Iptek, kegiatan Litbang, praktik manajemen, networking, teknik produksi, skala usaha, daya saing, pengalokasian sumber daya, dan lainnya. Semua itu adalah faktor teknologi.

Mengapa andil inovasi teknologi sentral dalam jangka panjang? Karena kontribusi tenaga kerja dan modal terhadap output akan semakin menurun dalam jangka panjang. Tanpa inovasi teknologi, rasio modal terhadap tenaga kerja akan memiliki tingkat pengembalian yang semakin menurun.

Satu-satunya cara untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang adalah dengan meningkatkan Total Factor Productivity, yaitu melalui inovasi teknologi. TFP adalah kunci untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang (PDB potensial).

Pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan, ditentukan oleh pertumbuhan produktivitas, sebagai landasan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan produktivitas akan menghasilkan output yang lebih besar pada tingkat input yang sama. Dengan demikian, akan menghasilkan PDB yang lebih tinggi.

Manajemen Organisasi

Pertumbuhan TFP dipengaruhi praktik organisasi-organisasi yang inovatif dalam manajemennya. Bagaimana komitmen organisasi dalam meningkatkan kompetensi SDM, pemanfaatan TIK, membangun networking, juga skala usaha. Bagaimana sistem dan strategi dikembangkan untuk menghadapi tantangan. Bagaimana kebijakan diambil!

Perbedaan jumlah modal (anggaran) bukanlah hal yang utama. Dengan kemampuan inovasi-teknologi, organisasi dapat mengoptimalkan produktivitas atas akumulasi faktor-faktor yang ada, sebagai energi utama pertumbuhan.

Variabel kelembagaan, seperti kualitas birokrasi dan manajemen, memiliki andil positif terhadap TFP. Perbedaan kualitas birokrasi satu pemerintahan dengan yang lain, akan berkorelasi dengan pertumbuhan TFP masing-masing.

Karena itu, riset tentang TFP di Bangladesh, misalnya merekomendasikan sasaran kebijakan untuk memprioritaskan peningkatan kualitas SDM. Hal itu berarti, perlu peningkatan investasi di bidang pendidikan dan kesehatan. Juga, penting untuk meningkatkan industrialisasi dan investasi langsung, yang harus dibarengi dengan peningkatan kualitas institusi publik dan bisnis.

Birokrasi vs Manajemen

Fakta bahwa alam kita kaya. SDM juga berlimpah. Namun, kemiskinan masih tinggi. “Kutukan sumber daya alam” nyata terjadi. Kapasitas fiskal (APBN-APBD) terus meningkat, tetapi apakah sebanding dengan peningkatan benefit yang diterima masyarakat?

Merujuk model pertumbuhan Solow, yang dikenal sebagai Produktivitas multi-faktor (TFP), agaknya tidak lebay kalau kita menunjuk kualitas (manajemen) lembaga-lembaga publik sebagai penyebab kuat rendahnya produktivitas.

Terjadi mismanajemen di sektor publik. Ini terkait dengan bias birokrasi, yang menghambat dinamika dan kinerja manajemen di lembaga-lembaga publik. Manajemen dan birokrasi ditempatkan secara tidak proporsional.

Birokrasi yang sebenarnya sangat diperlukan untuk mengoptimalkan skala kinerja lembaga, justru difungsikan secara keliru dalam manajemen. Birokrasi dan manajemen sesungguhnya dua hal yang berbeda, di mana satu dengan lainnya tidak untuk saling melemahkan.

Birokrasi menjamin kepastian dan keberlanjutan; manajemen mengoperasionalkan sasaran dalam bentuk kinerja. Sifat birokrasi rigid, sedangkan manajemen fleksibel dan dinamis. Birokrasi diperlukan untuk memperluas dan mengefektifkan manajemen; bukan justru menghambat kinerja manajemen yang mestinya bisa gesit dan lentur.

Namun, tampaknya, pejabat publik kita memang lebih nyaman duduk di zona birokrasi, ketimbang menggunakan birokrasi untuk melaksanakan kewenangan kepemimpinan manajerialnya. Akibatnya, yang terjadi adalah birokratisasi-manajemen. Di sektor publik, kita surplus birokrat, tetapi defisit manajerial. Itu kenapa TFP kita terendah di Asia. Sad!

stelah konten
  • Bagikan