KKP: Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif Bisa Tingkatkan Produktivits Tambak Rakyat

  • Bagikan
Para petambak membuat irigasi di areal pertamnbakan.

TERASLAMPUNG.COM – Pengembangan perikanan budidaya untuk ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan menjadi salah satu program terobosan yang dijalankan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan komoditas unggulan seperti udang, lobster, kepiting dan rumput laut.

“Udang hasil budidaya ditargetkan menjadi kontributor utama dalam mendongkrak performa ekspor hasil perikanan dengan ditopang salah satunya oleh kegiatan revitalisasi tambak-tambak rakyat demi peningkatan produktivitas,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu,  Minggu (21/11/2021).

Untuk mendukung program terobosan tersebut, kata Haeru Rahayu, salah satu kegiatan yang dilaksanakan yaitu Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP).

PITAP merupakan kegiatan rehabilitasi tambak rakyat yang pada pelaksanaannya dilakukan oleh mayarakat yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Irigasi Perikanan atau Poklina.

“Saluran irigasi yang direhabilitasi adalah saluran irigasi tersier, yaitu jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas saluran tersier, saluran kuarter, saluran pembuang, dan bangunan pelengkapnya,” kata dia.

Haeru mengatakan pentingnya partisipasi masyarakat dalam upaya pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Mengingat semakin banyak pula tenaga kerja yang terserap sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

“PITAP menjadi salah satu kegiatan yang memiliki implikasi langsung terhadap kesuksesan peningkatan perekonomian dan produktivitas tambak rakyat karena melibatkan masyarakat di sekitar tambak sehingga menumbuhkan semangat gotong royong serta rasa memiliki atas saluran yang dibangun, sehingga akan lebih terjaga keberlanjutannya,” katanya.

Tebe juga menilai bahwa kegiatan padat karya seperti PITAP menjadi sebuah solusi pemberdayaan masyarakat untuk dapat bangkit setelah pandemi sekaligus memajukan perekonomian daerah di sekitar kawasan tambak.

“Dengan rekonstruksi tambak yang tertata dengan baik, termasuk di dalamnya saluran irigasi, maka penerapan prinsip ekonomi biru dapat terwujud sehingga dapat mewujudkan kawasan perikanan budidaya yang produktif, efisien dan ramah lingkungan,” tandas Tebe.

Heru mengatakan, pogram bantuan pemerintah PITAP telah digulirkan sejak tahun 2013, dan hingga tahun 2020 telah berhasil merehabilitasi saluran irigasi tambak sepanjang 944,7 km, dengan luas lahan tambak yang terairi sekitar 34.463 hektare.

Sedangkan pada tahun 2021 KKP mengalokasikan total 55 paket bantuan PITAP yang tersebar di 17 Kabupaten/Kota di 10 Provinsi di seluruh Indonesia. Total panjang saluran irigasi yang terehabilitasi hingga pertengahan bulan November telah mencapai lebih dari 157 km dengan luas area yang terairi mencapai 5.810 hektare Jumlah pekerja yang terlibat dalam kegiatan PITAP ini mencapai kisaran 1.400 – 2.200 orang per hari dengan rata-rata upah per hari sebesar Rp90 ribu atau Rp2,7 juta rupiah per bulan.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, untuk tahun 2021 ada delapan kegiatan program padat karya meliputi pembangunan irigasi perikanan tambak/kolam, minapadi, bantuan KJA budidaya laut, klaster kawasan tambak udang, dan klaster kawasan tambak udang milenial (MSF), kegiatan rehabilitasi kawasan mangrove, Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar)/irigasi lahan garam, serta pembangunan sarana dan prasarana niaga garam rakyat.

Dari delapan kegiatan padat karya itu, KKP memperkirakan penyerapan tenaga kerja mencapai 4.673 orang.

  • Bagikan