Koma

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Beberapa saat lalu mendapat berita bahwa tetangga yang masuk rumah sakit sedang mengalami koma. Semua keluarga berkumpul, bergantian menjaga si sakit, dan berdoa akan kesembuhannya. Walaupun tetua keluarga sudah mengihlaskan jika terjadi hal-hal yang pelin buruk sekalipun, tetap saja keluarga ini menampilkan wajah harap harap cemas, dalam menghadapi cobaan Tuhan ini.

Secara bersamaan penulis sedang membaca draf disertasi mahasiswa pascasajana program doktor.  Komentar yang ditulis ternyata promovendus sering salah meletakkan tanda baca; termasuk dalam memberi koma pada satu paragarf kalimat. Akibatnya, maksud yang diinginkan untuk disampaikan, berbeda yang ditangkap oleh pembaca.

Koma dalam dua hal di atas sangat berbeda makna, peran, dan fungsinya. Jika kita lakukan penelusuran satu per satu, koma dalam pengertian medis — berdasarkan kutipan Alodokter —  disebut sebagai tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Penderita yang mengalami koma tidak dapat merespons terhadap lingkungannya sama sekali. Penderita koma tidak akan melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata, meskipun sudah dicubit. Berbeda dengan pingsan, yang hanya terjadi sementara, penderita koma mengalami penurunan kesadaran untuk waktu yang lama.

Berbeda pengertian koma sebagai tanda baca terutama dalam bahasa tulis: Tanda koma adalah tanda baca yang memiliki bentuk mirip apostrof atau tanda petik tunggal tapi diletakkan di garis dasar teks. Beberapa jenis huruf menggambarkannya sebagai suatu garis kecil yang agak melengkung atau kadang lurus, atau seperti angka sembilan yang diisi bagian lubangnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa makna koma itu beragam. Pertama, tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Kedua, untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

Ketiga, untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Keempat, di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Kelima, untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Keenam, untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Ketujuh, di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Kedelapan, untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Kesembilan, di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Kesepuluh, di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Kesebelas,di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Keduabelas, untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Ketigabelas, Di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca.

Ternyata satu tanda jika diucapkan menjadi berbeda makna, bahkan maknanya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya. Kita biarkan sementara penjelasan di atas. Ada yang lebih esensi dari keduanya,  yaitu makna koma dalam konteks hakekat kefilsafatan sebenarnya tidak sesederhana itu.

Ada dua hal besar yang dibelakang lambang koma yang memaknainya. Aliran dialektika mengatakan bahwa satu peristiwa didunia ini menjadi antitesis bagi lainnya. Kemudian setelah antitesis  berproses menemukan pembenarannya menjadi tesis baru, maka saat itu pula muncul antitesis baru untuk lainnya lagi. Ini terus dan terus berlangsung sampai dunia ini digulung oleh Sang Pencipta.

Aliran evolusi mengatakan bahwa satu peristiwa itu adalah merupakan rangkaian penyempurnaan dari peristiwa sebelumnya. Peristiwa sekarang akan terus berproses menyempurnakan diri untuk menjadi lainnya lagi. Proses ini berlangsung semenjak bumi alam ini tercipta sampai alam ini dilipat oleh Sang Pemiliknya.

Kedua aliran ini tampaknya sampai sekarang terus mengalir sampai melampaui wilayah lahirnya. Terbukti dari kita sering disuguhkan dengan para mereka yang merasa diri tokoh masyarakat, atau apapun wilayah sosialnya. Pada saat berhadapan dengan penentuan posisi melalui regulasi yang mereka atur sendiri, tidak jarang bertabrakan dengan hakekat dialektika atau evolusi yang mereka pilih. Tidak jarang mereka mengambil jalan tengah dengan mengambil keuntungan dari kelemahan keduanya. Padahal, seharusnya sebagai manusia kita harus menyadari jika kehidupan ini hanyalah berhenti sesaat karena koma, kemudian berlanjut lagi, dan koma lagi.

Antara koma satu dengan koma lainnya bisa jadi tidak berhubungan sama sekali, namun tetap dalam koridor “garis nasibnya” masing masing”. Itu terus dan terus berlanjut sampai pada kita ditetapkan untuk berhenti pada titik tertentu. Masing masing manusia memiliki garis koma yang berbeda dan berhenti pada titik yang berbeda pula. Kapan semua itu terjadi, hanya Yang Maha Mengatur yang mempunya hak prerogratif menentukannya.

Perbedaan cara pandang sah sah saja dalam melihat persoalan apapun di dunia ini; serta metoda apa yang dipilih untuk menyelesaikan persolan. Hanya saja kita sering tidak siap akan kegagalan akibat penggunaan atau pemilihan metode. Akibatnya, kita selalu mencari alasan pembenaran akan terjadinya kesalahan kepada pihak lain; jarang sekali kita mau menggunakan jeda “koma” untuk menelisik kedalam diri dengan berhipotesis bisa jadi kesalahan itu berasal dari dirinya sendiri.

Mari kita memanfaatkan adanya jeda “koma” sehingga saat “koma” itu datang dalam pengertian lain, tidak menjadikan hambatan kita untuk bersiap menghadapi “titik” yang datangnya tidak ada satu pun di antara kita yang tahu.

Selamat ngopi pagi.