Beranda Views Opini Kondisi Mahasiswa Lampung di Sudan pada Masa Pandemi Covid-19

Kondisi Mahasiswa Lampung di Sudan pada Masa Pandemi Covid-19

362
BERBAGI
Para mahasiswa asal Lampung yang sedang kuliah di Sudan. Mereka berharap Pemerintah Provinsi Lampung peduli terhadap nasib mereka yang saat ini harus melakukan karantina mandiri karena negara Sudan memberlakukan lockdown sejak pertengahan April 2020 lalu. Foto: Istimewa
Para mahasiswa asal Lampung yang sedang kuliah di Sudan. Mereka berharap Pemerintah Provinsi Lampung peduli terhadap nasib mereka yang saat ini harus melakukan karantina mandiri karena negara Sudan memberlakukan lockdown sejak pertengahan April 2020 lalu. Foto: Istimewa

Oleh: Wipa Raziq Sihab Habibi

Sudan sudah mengalami isolasi berkepanjangan sejak 1993, ketika Amerika Serikat memasukkan pemerintahan Omar Bashir ke dalam negara yang mensponsori teroris. Hal ini sangat membuat Sudan kesulitan serta menjadi penghambat saluran bantuan dana moneter internasional dan Bank Dunia. Padahal, dana itu saat ini sangat dibutuhkan oleh Sudan.

Sejak beberapa tahun belakangan ini Sudan mengalami goncangan ekonomi yang kuat. Puncaknya yaitu pada tahun lalu saat pemerintahan Omar Bashir. hal ini makin memperparah kondisi politik dan ekonomi sudan yang kin hari kian merosot.

Pandemi Covid-19 makin memperburuk kondisi Sudan. Covid-19 sangat berdampak buruk terhadap ekonomi seriap negara, termasuk Sudan. Oleh karenanya, pemerintah Sudan memberlakuan lockdown atau karantina wilayah secara parsial sejak April 2020 guna memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Disaese (Covid-19). Lockdown di Sudan sangat berdampak terhadap mahasiswa Indonesia, khususnya dari Lampungyang berkuliah di Sudan.

Berdasarkan informasi dari media Al Jazair, sejak 15 April 2020 Pemerintah Sudan sudah memberlakukan lockdown dari pukul 18.00-06.00 waktu setempat. Karena pergerakan data kasus Covid-19 semakin meningkat, maka sejak 16 April sampai setiga pekan, lockdown semakin diperpanjang masanya dari pukul 13.00 sampai pukul 06.00. Pemerintah Sudan juga mengambil langkah seperti menutup bandara, menutup transportasi kendaraan antardaerah, menghentikan perkuliahan, dan sejumlah langkah lainnya yang bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Hal ini disebabkan karena terus meningkatnya kasus positif Covid-19 di Sudan sejak pertama kali diumumkan pada akhir Maret 2020.

Sudan adalah salah satu negara favorit bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan study Agama Islam di Timur Tengah. Bahkan sudan memberikan beasiswa kepada 85 negara yang tersebar di berbagai benua termasuk Indonesia. Saat ini  ada puluhan mahasiswa asal Lampung yang mendapatkan beasiswa di Sudan.

Jumlah mahasiswa asal Lampung yang berkuliah di Sudan terdapat 30 orang. Terdiri atas 29 orang sedang menempuh kuliah S1 atau bechelor, dan 1 orang menempuh kuliah S2 atau magister.

Dari 30 mahasiswa asal Lampung yang berkuliah di Sudan tersebut ada satu orang kuliah di Markaz Zaim Alazhari, satu orang di Universitas Alqur’an Alkarim, satu orang kuliah di Universitas Islam Omdurman, dan selebihnya kuliah di Universitas Internasional Afrika, Sudan.

Berdasarkan data dari Kemenkes Sudan total kasus positif Covid-19 terus meningkat.
Data terkini terhitung pada 14 Mei 2020 yaitu kasus positif sebanyak 1818 orang, meninggal dunia sebanyak 90 orang, dan sembuh sebanyak 198 orang.

Dari segi finansial mahasiswa Lampung yang terdampak covid-19 sangat terganggu. Sebab,  selama lockdown mereka  tidak bisa mendapat kiriman dari orang tua. Para mahasiswa yang mempunyai pekerjaan sampingan seperti berdagang juga terhenti berdagang karena  harga bahan pokok yang amat melambung tinggi. Mereka bertahan hidup hanya dengan mencukup-cukupkan uang yang masih tersisa.

Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Sudan, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat Sudan pada umumnya. Tentu saja dengan keadaan ekonomi Sudan yang tidak stabil dan meningginya harga kebutuhan pokok, tindak kejahatan seperti pembegalan pun marak terjadi akhir akhir ini. Kejadiannya biasa terjadi saat waktu diperbolehkannya keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok dari jam 06.00-13.00 waktu setempat.

Dari segi kesehatan, alhamdulillah belum ada mahasiswa Indonesia yang dinyatakan positif virus Covid-19. Meskipun begitu, cukup banyak dari mahasiswa Indonesia dan ada beberapa juga mahasiswa asal Lampung yang mengalami sakit batuk, pilek, kesulitan mencium bau, demam, dan lain sebagainya. Menurut saya ini karena cuaca Sudan pada bulan Ramadhan yang panas luar biasam berkisar 42-44 derajat. Karena cuaca panas, menu berbuka puasa seperti es teh dan minuman dingin yang lainnya pun menjadi favorit. Dan seiring berjalannya waktu, alhamdulillah mereka sudah mulai kembali sehat.

Namun, mahasiswa Indonesia di Sudan sangat kesulitan mendapatkan akses layanan kesehatan. Kemarin ada salah satu mahasiswi asal Indonesia mempunyai gejala Covid-19, kemudian mencoba menelepon nomor pengaduan Covid-19 untuk meminta swap-test. Namun, i sudah hampir dua  pekan tidak ada kejelasan. Kemudian dia mencoba mandiri mencari rumah sakit untuk memeriksakan diri. Namun apa daya banyak rumah sakit yang tutup akibat kewalahan menangani pasien Covid-19. Akhirnya dia memutuskan untuk ke klinik ala kadarnya saja.

Selain sulit dalam segi faninsial dan kesehatan, kami juga merasa kerugian dalam bidang pendidikan. Sebab,  sejak pemberlakuan lockdown demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 pemerintah Sudan telah memberhantikan aktivitas perkuliahan sampai waktu yang belum ditentukan. Di Sudan tidak ada pembelajaran secara online dan juga tidak ada tugas apa pun yang diberikan dosen. Selain prosen belajar dan mengajar di kampus dihentikan, proses belajar dengan para masyaikh di luar kampus pun dihentikan. Para mahasiswa hanya bisa beraktifitas di asrama atau rumah masing-masing.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum, Sudan,  telah mengirimkan sedikit bantuan kebutuhan pokok berupa beras, minyak, mie, telur, dll kepada kekeluargaan daerah, organisasi masyarakat, dan organisasi politik. Namun, bagi kami hal itu jauh dari cukup. Sebab, kami tiap hari harus makan untuk bertahan hidup. Sedangkan sisa uang di kantong sudah nyaris habis.

Kami mahasiswa Lampung yang kuliah di Sudan sangat berharap Pemprov Lampung bisa memberikan bantuan kepada masyarakatnya yang ada di sini. Kami tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa lagi untuk bisa bertahan hidup di negeri orang di masa pandemi Covid-19 ini. ***

*Penulis adalah mahasiswa semester 2 Jurusan Bahasa Arab di International University of Africa, Sudan, dan pemerhati politik serta pemerhati kesehatan di Sudan

Loading...