Beranda Views Opini Konsep Pendidikan Anak Ki Hadjar Dewantara

Konsep Pendidikan Anak Ki Hadjar Dewantara

526
BERBAGI

Oleh: Donna Sorenty Moza

Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh penting dalam sejarah perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pada Pendidikan Anak usia dini. Gagasannya mengenai pendidikan merata, humanis, populis yang memelihara perdamaian dunia di implementasikan melalui Perguruan Taman Siswa (1922).

Taman Siswa merupakan wadah pendidikan nasional di masa kolonial yang berwatak nasionalis humanis. Taman Siswa hadir sebagai antitesis  sistem pendidikan kolonial yang berwatak materialistik, individualistik, dan intelektualistik. Menurut Ki Hadjar Dewantara, oendidikan adalah wadah politik pembebasan menuju Indonesia Merdeka.

Sejarah mencatat, bahwa maju dan berkembangnya sebuah bangsa beriringan dengan perkembangan kualitas pendidikan bangsa tersebut. Kemegahan peradaban dalam setiap babak sejarah di belahan dunia mana pun (Babilonia, Mesopotamia dan Sriwijaya pun) merupakan buah pemikiran kaum terdidik (cerdik pandai) yang berkesempatan mengenyam bangku sekolah. Kemudian mengaplikasikan nya dalam aturan/perundang-undangan, kebijakan politik, ekonomi, militer, penataan kota, arsitektur, seni budaya dan lain sebagai nya. Jadi, arti penting dunia pendidikan bagi sebuah bangsa menjadi kesimpulan yang hakiki dan tak perlu diperdebatkan.

Menurut Byrnes, peraih gelar Woman of The Year dari Vitasoy di Australia, keberhasilan sistem pendidikan suaau bangsa bergantung pada pendidikan anak usia dini. Fase ini menjadi kunci kesiapan anak menghadapi pendidikan di jenjang berikutnya. Di usia inilah anak dipandang mampu membentuk pendidikan dengan cara menggali setiap potensi dirinya. Jadi, investasi terbaik yang bisa diberikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini.

Yamin dalam bukunya (2010) mengatakan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang paling mendasar dan menempati kedudukan sebagai “Golden Age” dan sangat strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, usia 0-6 tahun adalah usia kritis sekaligus strategis dalam proses pendidikan dapat memengaruhi proses serta hasil pendidikan selanjutnya. Artinya, periode ini merupakan periode penting untuk menumbuhkembangkan berbagai kemampuan, kecerdasan, bakat, kemampuan fisik, kognitif, bahasa, dan kemandirian. Hal tersebut semakin dikuatkan oleh penelitian para ahli yang menyimpulkan bahwa perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50% pada masa anak usia dini.

Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh Pendidikan nasional dikenal sebagai sosok yang berpihak terhadap pendidikan anak. Menurut nya, pendidikan anak usia dini adalah fondasi awal berkembangnya suatu bangsa. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, kepedulian nya terhadap pendidikan anak terlihat dalam pemilihan istilah “taman” dan bukan sekolah terkait konsepsi pendidikan anak di kala itu. Beliau menggunakan istilah taman kanak-kanak agar sekolah anak yang sebelumnya kaku bertransformasi menjadi taman belajar dan bermain bagi anak yang menyenangkan. Konsep ini mengedepankan hak anak dalam bermain dan melakukan pilihan dalam hal apa pun di bawah among sang guru.

Peneliti Ratih Cahyani Suyadi dalam Golden Age Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, Vol. 3 No. 4 Desember 2018 mengatakan, dalam beberapa buku yang ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara, terdapat tiga konsep. Yaitu: pendidikan yang diberikan kepada anak sejak lahir sampai usia tujuh tahun mendidik anak dengan cara yang sesuai dengan tabiatnya umur kanak-kanak, dan pendidikan kanak-kanak yang menekankan pada kebudayaan bangsanya sendiri, dengan memasukkan permainan kanak-kanak yang menggabungkan pelajaran-pelajaran lagu, sastra, dan cerita.

Melalui pendirian Taman Indria, beliau mengimplementasikan hal tersebut dalam sistem pembelajaran yang tak hanya fokus pada ilmu pengetahuan semata, tapi juga sebuah system yang berlandaskan pada kondisi objektif anak dan kearifan lokal setempat. Bahkan, Taman Indria kemuda mengunakan bahasa ibu sebagai Bahasa pengantar sekolah. Wajah baru pendidikan pribumi di era kolonial (bahasa asing — Bahasa belanda sebagai pengantar).

Menurutnya, penguasaan anak terhadap bahasa ibu berkorelasi terhadap tumbuh dan berkembang nya rasa berkebangsaan yang berbudaya dan memiliki jati diri. Harapan nya, sang anak kelak tumbuh cerdas seperti barat namun memiliki karakter, kepribadian timur. Menjadi intelektual yang berketuhanan, humanis, berkeadilan, demokratis dan pelopor perubahan yang menolak perilaku penindasan atau penjajahan manusia atas manusia.

Ki Hadjar Dewantara juga menggarisbawahi arti penting perilaku guru yang diistilahkannya patrap guru atau tingkah laku guru yang menjadi anutan murid-murid dan masyarakat (Ki Hadjar Dewantara, 1952: 107-115). Perilaku guru dalam mendidik murid atau anak bangsa menjadi pegangan dan modal utama yang dikenal dengan istilah ing ngarsa sung tulada (di muka memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah membangun cita-cita), tut wuri handayani (mengikuti dan mendukungnya) (Haidar Musyafa, 2015). Penerapan patrap guru di semua jenjang pendidikan merupakan manifestasi resistensi kultural terhadap sikap guru dalam pendidikan kolonial.

Melihat penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan arti penting pelaksanaan pendidikan anak usia dini, peran guru dan rasa memiliki jati diri bangsa seperti yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara. Menurut penulis, konsep pendidikan Anak Ki Hajar Dewantara masih layak diterapkan di era kini. Kombinasi pendidikan barat yang modern dan ilmiah dengan pendidikan ke-indonesiaan (kearifan lokal) menjadi kunci lahirnya generasi baru yang cerdas, mandiri dan berkepribadian di bidang budaya. Sistem pendidikan yang didasarkan pada jati diri bangsa melahirkan bangsa yang mandiri dan terlepas system pendidikan yang berorientasi pada kepentiangan pasar.***

Donna Sorenty Moza, Kordinator Lamban Baca

Loading...