Beranda Views Kopi Pagi Kontroversi-Kontroversi Jokowi (3)

Kontroversi-Kontroversi Jokowi (3)

210
BERBAGI

Lebih tinggi, lebih baik.

Oleh Nusa Putra

Jokowi itu ringan. Karena badannya kurus. Tak heran bila ia gesit, bisa dan biasa bergerak cepat, dan mudah masuk ke “celah” apapun. Dengan kekurusan dan kegesitannya itu, ia lebih gampang bergerak bersama arus, bukan mengikuti arus. Meski kurus ia tinggi, ini menguntungkan karena jarak pandangnya lebih jauh dan ia bisa melihat ke bawah dengan lebih jeli. Dalam soal ini ia lebih beruntung dibandingkan Jusuf Kalla.

Barangkali karena gampang bergerak bersama arus dan banyak keberuntungan, Jokowi masuk, mungkin juga terperangkap, dalam arus sangat besar dan deras. Didorong jadi calon Presiden Republik Indonesia. Sungguh ini sebuah loncatan. Dari walikota, gubernur, langsung presiden.

Sebenarnya jika Jokowi telah membuktikan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta yang sukses, elok betul didorong jadi presiden. Itu artinya ia berpengalaman dalam tatakelola pemerintahan secara bertingkat. Pastilah banyak pengalaman yang bisa membantunya untuk menjalankan roda pemerintahan sebagai presiden. Dalam konteks Indonesia, Jokowi adalah orang pertama yang melewati jenjang itu.

Faktanya tidaklah demikian. Jokowi baru seumur ketimun menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belum ada pencapaian yang spektakuler. Baru memulai langkah untuk lakukan perubahan dan perbaikan. Jakarta Baru yang dijanjikan sama sekali belum jelas ujudnya.

Wajar jika ada yang marah, merasa sangat tidak suka, bahkan benci.  Mereka kini yakin bahwa Jokowi memang pengingkar janji. Karena ia sudah dua kali lakukan ini. Kelompok yang sejak mula menduga ada skenario besar dengan pola yang sama dengan Solo, semakin kencang menuduh dan menghujat. Mereka menyerang menggunakan ayat-ayat suci, secara lisan dan tulisan.

Rupanya Jokowi pun menginginkan yang lebih tinggi dan besar, apapun niat dan motivasinya. Sebab ia setuju dan bersiap untuk maju sebagai calon presiden. Keputusan Jokowi yang kontroversial ini kembali mendorong politik kita memasuki kontroversi.

Pemilu legislatif saja belum dimulai. Keributan soal pencalonan presiden sudah sangat marak. Telah terjadi tuduhan, pelecehan, dan penghujatan terhadap Jokowi yang secara resmi belum ditetapkan sebagai calon presiden oleh PDIP.

Harus diakui pemilihan presiden kali ini bukan saja sangat kontroversial, tetapi sangat panas, dan benar-benar membelah masyarakat menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Terjadi saling hujat dan serang di antara dua kubu.

Pemilihan presiden berubah menjadi pertarungan politik yang ditandai fitnah dan kampanye hitam. Bahkan sebagian media massa yang seharusnya jernih, objektif, dan tidak berfihak malah menjadi “kompor gas” yang secara sengaja memanaskan keadaan. Sungguh tak ada lagi kejernihan. Suara nurani ditenggelamkan ambisi membubung penuh emosi negatif.

Pihak yang paling banyak diserang, dihujat, difitnah dan korban kampanye hitam adalah Jokowi. Isu SARA kembali dikedepankan untuk menyerangnya. Ia juga dituduh sebagai orang lemah yang sekadar menjadi wayang. Tragisnya, disebarkan cerita tentang kakek dan ayahnya yang sama sekali negatif. Sungguh ini sangat keterlaluan.

Meskipun Jokowi adalah korban, namun tak bisa dibantah bahwa ada sejumlah kontroversi terkait dengan keputusannya yang membuatnya menjadi sasaran tembak. Bagaimanapun harus diakui bahwa tidak sedikit orang yang kecewa karena ia meninggalkan jabatan yang  diperoleh dengan susah payah dan dipilih oleh orang banyak.

Kesan sangat kuat bahwa ia mengejar jabatan lebih tinggi dan besar semakin mencuat karena dua kali ia meninggalkan jabatan di tengah jalan. Fakta ini pula yang membuat sejumlah orang menyebut Jokowi belum pantas menduduki jabatan presiden. Karena ia belum matang. Ia seperti buah yang diperam. Dipaksa matang sebelum waktunya.

Saat terjadi debat kandidat, kesan belum matang itu sangat tampak. Jokowi kelihatan penuh keraguan, kurang mantab, dan sering tersendat. Kesannya ia sendiri ragu dengan apa yang dikatakannya.

Untungnya, lawan Jokowi tidak kurang kontroversialnya. Gaya macannya yang siap menyerang dan menerkam. Cara bicaranya yang penuh semangat dan kadang kurang nakar dan nalar. Ungkapan-ungkapannya yang bombastis dan cenderung sangat dirempahi emosi negatif. Sungguh memberi keuntungan luar biasa pada Jokowi.

Apalagi para pendukung, simpatisan, dan “pasukan” lawan Jokowi itu juga berperilaku beda-beda tipis dengan idolanya. Kondisi ini membuat sejumlah besar orang yang tadinya belum menentukan pilihan akhirnya berpihak pada Jokowi. Namun, tak sedikit orang yang terpengaruh dan berbalik arah.

Rupanya suasana panas, riuh dan penuh kontroversi ini sangat menguntungkan Jokowi. Jokowi mampu tunjukkan siapa dia dan kualitas dirinya. Jokowi tak pernah terpancing untuk menanggapi semua serangan negatif terhadap dirinya. Ia tetap tenang, bahkan tampak sama sekali tidak terganggu dengan semua serangan negatif yang melampaui batas itu. Ia bahkan tetap menunjukkan rasa hormat yang tulus, tidak dibuat-buat sebagaimana yang ditunjukkan lawannya, terhadap lawannya. Apalagi secara pribadi ia tidak memiliki masalah dengan pesaingnya itu. Karena itu kemampuannya menjaga kesantunan telah memperlihatkan secara tegas kekuatan, ketegaran, stabilitas, dan kematangannya.

Jokowi sungguh diuntungkan oleh sikap dan kontroversi yang ditampilkan lawan dan pesaingnya serta para pengikut pesaingnya. Karena mereka tampak lebih garang, penuh emosi, terus saja mengeluarkan beragam pernyataan yang merendahkan dan menghujat. Dengan demikian terlihat lebih kontroversial dibandingkan Jokowi.

Secara sederhana orang mulai berfikir, lebih baik memilih Jokowi yang meski kontroversial terkait keputusannya maju sebagai calon presiden, tetapi sabar, santun, dan tidak reaktif menghadapi pesaingnya yang menyerang dengan kasar dan garang. Daripada memilih orang yang juga tidak kurang kontroversial sekaligus penuh emosi dan tidak dapat menyembunyikan keinginan kuat untuk berkuasa. Lebih baik memilih yang meski kontroversial tetapi santun, baik dan jujur.

Akhirnya terbukti Jokowi memenangkan pertarungan yang sangat seru ini. Pertarungan yang sangat berlarut-larut dan mengeduk emosi banyak orang. Boleh jadi, kemenangan Jokowi ini memberi pesan sangat kuat bahwa,

KONTROVERSI YANG DIIMBANGI DENGAN TETAP MENJAGA SIKAP DAN KEHORMATAN PADA HAL-HAL YANG SUBSTANSIAL ADALAH BAIK

Loading...