Beranda Views Sepak Pojok Kontroversi-Kontroversi Jokowi

Kontroversi-Kontroversi Jokowi

199
BERBAGI

Oleh Nusa Putra

Jokowi adalah kontroversi. Karena itu tak mudah dimengerti. Dan sering disalahmengerti. Bahkan ada yang membenci.

Kontroversilah yang membesarkan Jokowi. Saat jadi Walikota Solo ia sangat terkenal justru karena kontroversi. Ia melakukan banyak tindakan yang tidak biasa dilakukan oleh pejabat setingkat itu. Ia membuang jauh-jauh semua formalitas, protokoler dan semua tetek bengek yang selama ini mencirikan pejabat tinggi.

Sikapnya ini membuat ia dekat dengan rakyat dan mendorong perubahan Kota Solo dengan cara-cara yang sangat manusiawi. Profilnya yang sederhana, persis seperti rakyat kebanyakan semakin menegaskan di mana ia berdiri, kepada siapa di berpihak. Bahkan dunia internasional terkesima dengan gaya dan strateginya mengelola rakyat dan kota Solo. Tak mengherankan bila dalam pemilihan kedua sebagai Walikota Solo ia menang mutlak.

Kontroversi mencuat lagi karena ia maju sebagai calon Gubernur DKI tatkala baru saja menjabat sebagai walikota dalam jabatan kedua. Kali ini kontroversi ini sungguh dijadikan isu politik yang bukan hanya hangat, tetapi panas mendidih.

Para pendukung membela pilihan Jokowi jadi calon Gubernur DKI dengan pertimbangan memberikan calon terbaik untuk mengurusi lebih banyak orang. Bukankah orang yang telah teruji, sangat tepat jika diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin pada tingkat yang lebih tinggi?

Namun, berseberangan dengan itu para pengeritik mempertanyakan komitmen Jokowi. Bukankah Jokowi telah berjanji saat kampanye dan harus memenuhi janjinya. Lebih dari itu, ia juga telah bersumpah saat akan dilantik, bersumpah untuk bekerja sebaik-baiknya sebagai kepala daerah. Fakta inilah yang dijadikan oleh pihak yang berseberangan dengan Jokowi sebagai dasar menilainya sebagai orang yang tidak berkomitmen dan tidak dapat dipercaya. Bahkan ada yang menuduhnya pengkhianat. Mengkhianati orang yang telah percaya dan memilihnya.

Jokowi maju terus. Ia tinggalkan Solo dan berjuang di DKI Jakarta. Bagi beberapa pihak, ada tuduhan bahwa skenario meninggalkan Solo dengan wakil walikota non-Muslim, merupakan kesengajaan. Apalagi maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dengan wakil yang juga non-Muslim.

Kita tak dapat mungkiri, dalam masyarakat terdapat individu dan kelompok yang dengan sengaja membesarkan masalah-masalah SARA, seakan negara ini adalah negara agama. Tak mengherankan bila persoalan ini dipelintir dan dibesar-besarkan untuk menghujat dan menyerang Jokowi.

Jokowi dan para pendukungnya dengan canggih menggunakan aturan main formal. Karena tidak ada larangan untuk maju sebagai calon kepala daerah di tempat lain saat masih memegang jabatan. Juga tidak ada aturan yang melarang orangn non Muslim maju sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah. Mereka maju terus, pantang mundur. Meskipun kontroversi, bahkan fitnah terus beredar.

Inilah realitas politik kita yang memang masih centangprenang. Aturan mainnya bagai karet yang bisa ditarik ke sana ke mari. Para pelakunya masih didominasi oleh orang-orang yang mabuk kekuasaan. Kekuasaan dijadikan komoditi yang diperebutkan dengan  menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan material duniawi. Bukan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Rakyat hanya disebut, dibela dan diperhatikan hanya saat pemilu.

Sebagai akibatnya, persoalan nurani, moralitas, kepatutan dan kepantasan sering diremukkan atas nama aturan main, jadwal, dan rentang waktu penggunaan anggaran. Hal yang substansial dikangkangi oleh yang teknikal. Sehingga muncullah berbagai anomali yang memicu kontroversi.

Kontroversi memang menjadi ciri utama politik kita. Semakin rumit karena muncul tokoh-tokoh kontroversial. Tampaknya partai politik memanfaatkan tokoh-tokoh kontroversial sebagai andalan. Kelihatannya mereka dengan sengaja dan canggih memanfaatkan kontroversi itu sebagai daya tarik untuk memperoleh sebanyak mungkin suara. Karena pilkada dan pemilu ditentukan suara terbanyak. Tak peduli suara itu berasal dari penjahat atau ustad.

Semakin banyak dan keras isu yang menghantam Jokowi, rupanya membuat dirinya makin populer. Sungguh Jokowi sangat diuntungkan dengan serangan habis-habisan yang dilakukan oleh lawan-lawan politiknya. Apalagi sebagian lawan politiknya menggunakan isu-isu SARA dengan cara yang sangat kasar. Mereka lupa bahwa di Jakarta, tempat pertarungan itu terjadi, masyarakatnya kebanyakan berpendidikan menengah dan tinggi, sehingga isu-isu SARA itu justru semakin mempopulerkan Jokowi. Karena biasanya hanya orang yang berfikir sepanjang rambutnya yang bisa terpengaruh isu-isu SARA.

Menariknya Jokowi yang perawakannya memang menimbulkan rasa iba, kurus kering, kelihatan ringkih dan tampak sebagaimana kebanyakan orang Indonesia dari golongan bawah, tetap tersenyum, tidak pernah terpancing, dan terus saja bicara tentang kartu sehat dan kartu pintar. Ia tidak suka bicara berputar-putar dan berapi-api bergaya orator. Ia sungguh kelihatan apa adanya.

Justru karena perawakan dan gayanya itu ia kelihatan lemah, mudah dikendalikan, dan peragu. Lawan-lawan politiknya terus memanfaatkan citra ini untuk menegaskan bahwa Jokowi adalah wayang. Bukan dalang. Berbagai isu menyebut ia diatur dan dikendalikan, bahkan oleh Jahudi.

Kondisi bertambah seru karena media massa semakin mempertajam kontroversi Jokowi dan isu-isu yang menyerangnya. Kebanyakan media massa bukannya berupaya menjernihkan masalah, justru seperti mengompori keadaan dengan terus memunculkan berbagai komentar dari beragam tokoh yang mempertajam kontroversi tersebut.

Akibatnya politik kita adalah permainan, peseteruan, dan tingkai pangkai yang menggunakan kontroversi sebagai ruhnya. Karena itu nalar sehat lurus lempang, nurani, moralitas, dan kejujuran tidak menjadi bagian yang penting dan memengaruhi.

Formulanya adalah membangun citra dengan dan melalui isu-isu kontroversi yang sangat dicoraki oleh kebencian dan fitnah. Dalam bingkai seperti itulah kemunculan Jokowi dalam jagad politik kita mesti difahami. Ia bagai meteor, melesat sangat cepat menjadi pusat perhatian.

Boleh jadi Jokowi tidak akan mendapat tempat seperti itu bila politik kita bertumpu pada nurani, rasionalitas, dan objektivitas. Bukankah Jokowi sendiri pernah bilang semua yang dialaminya merupakan “kecelakaan”?

POLITIK KITA MEMBESARKAN DAN DIBESARKAN KONTROVERSI.

Dr. Nusa Putra, M.Pd. adalah dosen UNJ

Loading...