Beranda Views Kisah Lain Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (1)

Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (1)

309
BERBAGI

Oleh Uni Lubis

Susi Pudjiastuti dan manatan Gubernur Jabar Solchin GP. (foto: Uni Lubis)

Siapa yang ingin jadi orang tua tunggal? Siapa yang ingin gagal dalam kehidupan dua kali perkawinan?  Mengapa media lebih suka menyoroti kehidupan pribadi saya? Tato saya? Kebiasaan merokok? Saya pernah menikah dengan orang asing? Utang bank? Tahu nggak bahwa aset saya, pesawat-pesawat dan pabrik itu lebih besar nilainya?

Rentetan pertanyaan itu meluncur dari bibir Susi Pudjiastuti, pagi tadi, begitu melihat saya muncul di pintu kamar istirahatnya. Mbak Susi, begitu saya biasa memanggilnya, merujuk kepada gencarnya pemberitaan media yang menguliti kehidupan pribadinya. Kebiasaannya merokok. Media memuat foto dan gambar Mbak Susi duduk bersimpuh di salah satu sudut halaman belakang Istana Merdeka usai pengumuman kabinet Kerja oleh Presiden Jokowi, Minggu sore (26/10). Menteri Susi duduk melepas lelah seraya melepas sepatu berhak . Nampak lelah. Dia mengisap sebatang rokok. Sontak, foto ini menjadi diskusi di saluran media sosial. Terjadi pro-kontra, apakah pantas seorang pejabat publik merokok di depan umum?

Rabu pagi (29/10) pukul 07.00 wib, Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) di kabinet Presiden Joko Widodo itu tiba di kantor KKP, di kawasan depan Gambir, Jakarta. Dia menggunakan mobil menteri, sedan Toyota Camry dengan nomor polisi B 39. Saya menemuinya di ruangan tempat istirahat, di belakang ruang kerja Menteri di lantai 7 Gedung KKP. Tim perias dari sebuah salon terkemuka tengah memasangkan sanggul. Pukul 10.30 wib, Mbak Susi, menjalani acara serah terima jabatan dengan pendahulunya, politisi Partai Golkar, Sharif Cicip Sutardjo.

Sebelum acara sertijab, pukul 8.00 wib dia menerima wawancara tim ANTV di ruangan tamu di lantai 7 gedung KKP. Pukul 09.00 wib Mbak Susi turun ke lobi. Puluhan wartawan sudah menunggu sejak pagi. Kru Metro TV memandunya untuk melakukan siaran langsung. Oh, ya, disela-sela dua wawancara TV dia menjalani sesi pemotretan resmi untuk dokumentasi kementerian. Mbak Susi harus berganti baju hingga tiga kali. Dia sempat mengaduk-aduk koper kecil mencari kerudung saat staf KKP memintanya berfoto dengan kerudung. “Tolong pinjamkan dari karyawan,” kata Bu Susi, demikian sebutannya di lingkungan KKP.

Mbak Susi tak mau dipanggil “Ibu Menteri”. “Kalau dipanggil Ibu Menteri, saya nggak nengok. Nggak ngeh. Kalau Ibu Susi, pasti nengok,” ujarnya. Staf KKP menginformasikan bahwa dia juga harus menggunakan baju batik untuk sesi pemotretan terakhir. Mbak Susi membuka lemari, lagi-lagi membongkar koper. Nihil. “Duh, aku nggak punya baju batik,” keluhnya. Saya menggodanya, “perlu menelpon Obin?”. Dia menjawab, “eh, iya, kapan itu Obin janjian mau ketemu aku lho.” Obin adalah nama perancang terkemuka yang dikenal dengan tenun kualitas tinggi, termasuk batik. Sesi pemotretan dengan baju batik ditunda.

Ketika menghadiri pelantikan sebagai menteri di kabinet Presiden Jokowi, Mbak Susi tampil feminin,menggunakan kebaya. Satu-satunya menteri perempuan yang berkebaya. Tujuh menteri perempuan lain menggunakan blus batik. Mbak Susi ke Istana ditemani Solichin GP, mantan Gubernur Jawa Barat. Sebelum masa pensiunnya, Mang Ihin, panggilan akrabnya, menjabat sekretaris pengendalian logistik dan pembangunan di kantor Presiden Soeharto.

Ketika bersiap-siap menuju ke Istana, di ruang yang disewa Mbak Susi di Hotel Grand Hyatt, Mang Ihin sempat mengingatkan, “kamu itu jangan merokok. Saya tuh sudah perhatikan, orang yang merokok itu, matinya susah. Pake sakit.”   Mbak Susi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum melihat Mang Ihin, sosok yang dianggapnya sebagai senior, kawan baik dan yang dituakan. Kata Mang Ihin, ”ketika Susi ini mulai merintis usahanya, dia sering saya marah-marahi. Tapi mungkin karena itu, dia malah jadi menteri. Dan saya sekarang mendapat kehormatan untuk mendampinginya ke istana.”

Seorang teman saya berkomentar di Facebook, dia kesulitan menjawab pertanyaan anaknya yang baru berumur 10 tahun, ketika melihat berita TV soal Menteri Susi merokok. Saya sampaikan ini ke Mbak Susi. Tanggapan dia, “Smoke is not good. I’ve tried to quit. But not easy. I will try. But, I’ve asked media not to publish that picture.”   Mbak Susi menceritakan suasana sore itu, usai pengumuman kabinet Jokowi. Begitu Presiden meninggalkan lokasi dan mempersilahkan media mewawancarai menteri-menterinya, dia salah satu yang diserbu banyak wartawan. Sejak dua hari sebelumnya wartawan sudah memburu Mbak Susi setelah namanya muncul dalam daftar yang beredar di masyarakat.

Tulisan ini bersumber dari web pribadi Uni Lubis, www.unilubis.com 


Selanjutnya>>

Loading...