Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (2)

  • Bagikan

Oleh Uni  Lubis

Susi Pudjastuti berpidato saat serah terima jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan. (Foto Uni Lubis)

Diburu wartawan, meladeni pertanyaan itu melelahkan. Apalagi para menteri harus berada di istana dua-tiga jam sebelum pengumuman. Sejak dipanggil Jokowi, Kamis (23/10), jadwalnya kian padat. Mbak Susi harus menyiapkan perusahaan yang selama ini diurus detil, sebagai direktur utama, untuk diserahkan pengelolaannya ke orang lain yang dia percayai. Presiden meminta semua menterinya berkonsetrasi penuh untuk kerja, kerja, kerja. Susi segera melepas jabatan di perusahaan yang meliputi bisnis aviasi, perikanan, sekolah pilot dan survei udara.

“Sore itu rasanya, ….saya ini nggak pernah mimpi menjadi menteri. Jadi, sesudah pengumuman di istana, after that big moment, saya cuma ingin sendiri. Saya cari tempat agak mojok, di sudut. Lelah, ingin merokok. Beberapa media mengikuti. Saya sudah minta media jangan diambil gambar dong. Saya nggak mau kasi contoh merokok. Just give me a break. Sebentar. Jangan dimuat ya. Eh dimuat. Rame kan. Media nakal-nakal ya? “ Susi melanjutkan, “mengapa yang dikorek-korek selalu masalah pribadi saya? Tolong disampaikan, media please help me, instead of bullying me. Help me to do my job.”

Meski tak menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, bahasa Inggris Mbak Susi bagus. Dia belajar bahasa asing dengan banyak membaca buku. Juga karena harus berkomunikasi dengan mantan suami yang warga negara asing, Daniel Kaiser.   Dari pernikahan dengan Daniel Kaiser yang kini tinggal di Swiss, Mbak Susi dikaruniai seorang putri, Nadine. Susi memiliki tiga anak dan satu cucu dari dua pernikahan. Daniel Kaiser mantan suaminya sengaja terbang dari Swiss untuk memberikan selamat kepada Mbak Susi yang diangkat menjadi menteri.

Bagaimana reaksi anak-anak mengetahui Ibunya menjadi menteri? “My kids are proud to me. Cucu saya, si Arman, komentarnya, “Wow, Uti, you got a very significant job. Significant? Bayangkan Mbak Uni, anak umur delapan tahun menggunakan kata-kata yang sophisticated. Hebat nggak? ” tutur Mbak Susi. Matanya berbinar saat menceritakan anak dan cucu.

“I am a proud single Mom”.

Sejenak Mbak Susi berdiri mematut diri di depan cermin. Pasang sanggul dan rias wajah selesai. Dia nampak cantik dan anggun. Daniel Kaiser sang mantan suami berkomentar,

“Kalau mau nampak cantik, Bu Susi bisa banget. Tapi sehari-hari dia tidak suka dandan.” Mbak Susi tertawa.

Yep, sehari-hari dia memang tampil apa adanya. Baju koleksinya yang biasa saja. Beberapa kali saya menemuinya di bandara Halim Perdana Kusuma, di mana Susi Air punya konter dan kantor. Bos perusahaan penerbangan yang kini mengoperasikan 49 pesawat itu hanya menggunakan rok santai, kadang celana selutut. Rambut digelung dengan jepitan ke atas. Tanpa riasan.

“Saya menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah terbaik. Sekolah itu penting. Yang nggak tamat sekolahnya seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup,” kata Mbak Susi.

Dia menanggapi cemooh sebagian orang yang menyoal, mengapa Presiden Jokowi mengangkat seseorang yang tidak tamat SMA menjadi menterinya? Dua putra dan putri Mbak Susi sejak awal sekolah di sekolah internasional. Putra sulungnya sudah menikah dan memberinya seorang cucu.

Kisah hidup Mbak Susi adalah perjalanan panjang, 33 tahun perjuangan di dunia yang keras. Bergaul dengan nelayan, yang dalam struktur pertanian negeri ini adalah kalangan yang tergolong paling miskin. Perolehan untuk kehidupan bergantung kepada musim, modal, kemampuan pemasaran. Sejak sekolah Mbak Susi dikenal tomboi. Dia menjalani dunia bisnis yang didominasi kaum lelaki pula.

“Tidak ada pilihan. Dalam bisnis yang saya jalani, you have to be strong. Mentally and physically ,” kata Mbak Susi. Dia menjaga pola makan dengan banyak mengkonsumsi buah.

Cerita sejarah bisnis Mbak Susi sudah banyak diulas di berbagai media. Anda bisa baca beragam versi. Saya tak ingin mengulanginya di sini.

Tsunami Aceh membawa kenangan

Lama saya tak kontak Mbak Susi. Kami pertama kali bertemu di Medan, tiga hari sesudah bencana tsunami di Aceh, 26 Desember 2004. Sehari sesudah tsunami, saya ikut pesawat pribadi Wakil Presiden Jusuf Kalla, terbang ke Banda Aceh. Sampai di sana, rombongan kaget melihat pemandangan mengerikan dan menyedihkan. Dalam perjalanan dari Bandara ke kantor gubernur Aceh, kami berhenti di Lambaro. Ribuan mayat bergelimpangan. Jumlah yang lebih banyak lagi kami temui di Lapangan Blang Padang, tengah kota Banda Aceh. Seharian saya menyaksikan dan meliput bencana dengan jumlah korban terbesar dalam lima puluh tahun terakhir.

Malam hari, Senin (27/12/2004) itu, rombongan Pak JK mampir di Bandara Polonia, Medan untuk melakukan rapat koordinasi pertama. Sambil menyaksikan rapat itu, saya mengirimkan pesan pendek ke sejumlah teman dan narasumber. Saya menceritakan suasana mencekam dan menyedihkan di Banda Aceh. Tak banyak yang tahu situasi di sana, karena sejak tsunami praktis jaringan listrik dan komunikasi rusak. Ibarat berada dalam ‘bunker’ komunikasi.

Begitu mendarat kembali di Medan, saya menelpon menigirim pesan pendek ke sejumlah kawan. Salah satunya pengusaha Arifin Panigoro, bos Medco. Mungkin Arifin yang meneruskan informasi ke Teten Masduki, koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW).  Teten mengirimkan pesan itu ke Mbak Susi, yang rupanya banyak berkerjasama mendukung kegiatan ICW.

“Kalau kamu nggak kirim sms ke Teten, aku nggak tahu kondisi di Aceh saat itu seperti killing field,” kata Susi tadi pagi. Spontan dia memeluk saya saat kami berfoto bersama.

Selanjutnya>>>

  • Bagikan