Beranda Views Kisah Lain Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (6)

Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (6)

303
BERBAGI

Oleh Uni Lubis


Sebagai orang yang selama ini hands-on, praktis mengendalikan dan melakukan bisnis secara langsung, mengapa Susi mau menerima jabatan menteri?

“Saya menerima jabatan ini bukan karena ingin kaya, apalagi ingin populer. Saya sudah menggeluti bisnis perikanan selama 33 tahun. Mulai dari bawah. Saya tahu apa problemnya, kendalanya, saya pikir, saya bisa do something. Saya menghargai keberanian Pak Jokowi untuk mengangkat orang seperti saya, yang tidak tamat sekolah, untuk menjadi anggota kabinetnya. Saya dan Pak Jokowi ada persamaan karakter. Kami tidak suka hal yang normatif. Kami maunya kerja. Komitmen penuh pada tanggung jawab. Meskipun begitu, bukan berarti saya merasa paling tahu. Kementerian Kelautan dan Perikanan ini besar. Yang diurus banyak. Praktis salah satu core visi Pemerintahan Jokowi soal kemaritiman ada di kementrian ini. Besar tanggung jawabnya. Jadi, saya siap dan selalu mau untuk belajar. “

Hari pertama berkantor di KKP, Mbak Susi melakukan sidak naik turun tangga.   Sekarang dia menggunakan celana panjang sebagai busana kerja, menutupi tato di kaki. Tato yang keren sebenarnya. Tapi dia paham, ada sebagian masyarakat yang sulit menerima. Meskipun tato itu sudah ada di sana jauh sebelum Mbak Susi menerima jabatan menteri.

Sebagai bos di KKP, visi Menteri Susi adalah, agar pemerintahan Jokowi bisa menyejahterakan nelayan dan masyarakat yang hidup di pesisir, nelayan laut lepas, nelayan yang bekerja di pembudidayaan. “Kita harus menjadi tuan rumah di laut kita sendiri. Tujuh puluh persen wilayah Indonesia itu laut. Kog ekspor hasil laut kita kalah dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia?”.

Pemerintahan Jokowi, kata Menteri Susi akan mengubah paradigma konsentrasi pembangunan yang selama ini fokus ke daratan. Lautan adalah sumberdaya alam yang bisa diperbarui, renewable. Begitu juga sektor perikanan non laut. Yang juga penting dijaga adalah bagaimana memanen hasil laut, penangkapan ikan, dilakukan secara terukur, tanpa mengeruk habis saat ini. “Sustainability dalam membangun ekonomi termasuk di kelautan dan perikanan sangat penting. Menjaga kelestarian lingkungan menjadi upaya simultan,” kata Susi.

Soal sustainability atau keberlanjutan ini juga mewarnai bagaimana visi Menteri Susi mengelola KKP. ‘Pak Cicip, sudah mulai meletakkan dasar pengelolaan dengan sudut pandang korporasi. Karena latar belakang bisnis juga. Itu bagus, dalam artian kita ini harus bisa mempertanggungjawabkan, setiap biaya yang kita belanjakan, hasilnya berapa? Ukurannya menggunakan apa? Saya ingin mengelola kementerian dengan memasukkan aspek komersialisasi, dalam arti kita harus memberikan pemahaman aspek komersil dan bisnis ke nelayan. Tujuannya agar usaha yang dibangun nelayan kita berkelanjutan.

Nelayan di Pangandaran menganggap Susi adalah pembeli hasil tangkapan dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran. Soalnya Susi menjualnya untuk pasar ekspor.

Selanjutnya>>>