Kontroversi Menteri Susi Pudjiastuti (7)

Susi Pudjiastuti dan Mang Ihin
Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh Uni Lubis

Menteri Susi juga akan mencermati peraturan yang terkait dengan bisnis di bidang perikanan dan kelautan. Di Malaysia, pemerintahnya memberikan sejumlah insentif. Mulai dari status pionir bagi investor, masa 7-12 tahun bebas dari pajak, insentif untuk upaya re-investasi di sektor perikanan sampai bunga kredit perikanan yang lumayan murah, sekitar 3%. Di Indonesia, pengalaman Susi menunjukkan, registrasi untuk badan hukum perseroan terbatas perlu biaya. Mendapatkan ijin prinsip biaya lagi.

Membangun pabrik dikenai biaya Ijin Mendirikan Bangunan. Investasi kena Pajak penghasilan Pph 22, bunga kredit bank kisarannya 12-15%. “Kalau baru mendirikan usaha sudah dicekik dengan beragam biaya, bagaimana mau menarik investasi di perikanan? Tidak heran kita lebih suka impor. Jadi pedagang,” kata Susi.

Ini belum lagi dengan beragam retribusi yang dikenakan ke nelayan. Menjual hasil tangkapan ke Koperasi Unit Desa, kena retribusi. Ketika membeli kena retribusi. Jadi, belum sampai ke pasar, untuk diperjual-belika bagi konsumen, nelayan sudah digantungi beragam biaya. “Kita perlu terobosan fiskal. Pak Jokowi sudah berpesan, jangan ada ego sektoral , karena untuk membuat terobosan di bidang kelautan dan perikanan kita perlu kerjasama antar instansi. Kita harus berani investasi baik dari segi peraturan maupun biaya agar dalam jangka menengah dan panjang bisnis perikanan menjadi bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Menarik sebagai lahan investasi.

“Saya akan terus-menerus mengingatkan perlunya memangkas biaya-biaya yang membebani investasi di perikanan, dalam setiap rapat koordinasi. Kita inventarisir aturan yang selama ini menjadi penghalang, melemahkan, “ ujar Susi. Dua hari pertama bekerja sebagai Menteri, dia sudah menghadiri dua rapat koordinasi dengan Menteri Koordinator, dan menggelar rapat internal dengan pimpinan KKP.

Susi merasa tak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan para eselon 1, yang sudah ditemunya dalam dua hari pertama. “I don’t feel inferior. Kita diskusinya terbuka. Tidak selalu akademis. Saya merasa eselon 1 menerima saya secara sejajar, we are equal. Ya tentu saya siap belajar. Udah nggak sekolah, masak nggak mau belajar? Tapi saya punya pengalaman nyata. Mereka menghargai itu. “

Dia pernah berkunjung ke KKP saat dipimpin oleh Menteri Rokhmin Dahuri. “Auranya sekarang berbeda. Saya harap kita bisa bekerja keras siang dan malam untuk membangun kementerian ini dan menyejahterakan nelayan. Siap bekerja siang malam dengan saya? “ Ucapan Susi saat acara serah terima jabatan ini disambut senyum 1000 an karyawan yang memenuhi aula Gedung Mina Bahari 3, di belakang kantor KKP.

Sehari sebelumnya media menguti gebrakan Susi, yang ingin memajukan jam kerja di lingkungan KKP dari pukul 08.00 wib mennjadi pukul 07.00 wib, sehingga karyawan bisa pulang lebih cepat, pukul 15.00 wib. Alasan Susi, dengan berangkat lebih pagi dan pulang lebih siang,karyawan dapat menghindari kemacetan. Datang ke kantor lebih pagi dalam keadaan segar dan sore hari sudah di rumah untuk punya lebih banyak waktu untuk keluarga.

Saat sertijab Susi sempat membagi informasi soal keadaan bisnisnya. Dua tahun terakhir, suasana kerjanya enak. “Semua profesional. Mereka bekerja keras, kerja lari cepat. Saya ingin di KKP juga begitu.”

Mungkin, belum pernah acara sertijab di KKP begitu diminati oleh karyawan. “Kami memang diminta hadir, tapi saya juga penasaran. Punya menteri seru dan ngetop,” kata seorang karyawan KKP. Ratusan sengaja menunggu di depan pintu ruangan tempat Menteri Susi menerima mantan-mantan menteri dan Menko Indroyono Susilo. Ketika memasuki ruangan aula, tepuk tangan meriah menggema. Karyawan sibuk memotret bos baru dengan beragam jenis telpon pintar. “Ini tumben karyawan perempuan banyak yang hadir. Jender yaaaa,” goda mantan menteri Cicip.

Tampil anggun dengan kebaya putih, kain dan setelan kain dan selendang warna hijau, Menteri Susi nampak anggun. Cantik. Di panggung bersama Cicip, gayanya lepas. Banyak tertawa dan bercanda. Puluhan kamera wartawan siaga mengabadikan setiap gerak tubuh dan ekspresi Menteri Susi. Media memburunya bak selebriti. “Minta tolong Pak Menko, buat tim agar saya nggak dimintai wawancara terus oleh media. Kapan saya kerja, kerja, kerja??”.


 Personality yang unik, apa adanya.

Tiga dekade lebih bekerja keras dari pedagang ikan di pasar, jatuh bangun dalam bisnis dan kehidupan pribadi membuat Susi selalu tampil tegar. Jabatan menteri yang tak pernah dia mimpikan itu, sebuah tahapan kehidupan baru yang tak kalah menantang baginya. Lima tahun ke depan yang berat, akan menjadi lahan pembuktian bagi pebisnis perempuan yang menginspirasi banyak orang. Kehadirannya memberi warna di kabinet Jokowi. “Saya sudah bilang, kalau saya tidak nyaman karena banyak ditekan dan harus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani, saya akan tinggalkan posisi ini,” kata Susi. Nothing to loose.

Saya berharap Mbak Susi sukses dan selamat sampai akhir masa jabatan, terhindar dari masalah apapun, terutama masalah hukum.  Dia memberi pekerjaan rumah untuk saya, “tolong cari dong foto-foto saat di Aceh.”.  Tugas berat, karena saya bukan administrator foto yang baik.

Matanya berkaca-kaca saat menerima ucapan selamat dari pejabat, relasi dan kawan yang hadir kemarin. Perlahan air matanya makin deras mengalir. Dia memeluk erat satu persatu, termasuk mantan suaminya, Daniel Kaiser. “Kalian semua hebat, terima kasih selama ini sudah mendukung saya,” bisiknya sambil mengusap air mata dengan ujung selendang.

Berapa banyak yang justru mengatakan kepada dirinya, bahwa Susi Pudjiastuti adalah sosok perempuan hebat?