Kopi Pagi: Asap

Bagikan/Suka/Tweet:

Tomi Lebang

Hanya sesaat seusai awak kabin menyampaikan rencana pendaratan pesawat di Kota Palangkaraya, pagi ini, pilot mengumumkan penundaannya. Dari atas, nun di udara Kalimantan yang luas, daratan tak terlihat, landas pacu Bandara Tjilik Riwut berselimutkan kabut asap.

“Jarak pandang pendaratan hanya 400 meter. Kita berputar 30 menit sampai pandangan tak terhalang sejauh 800 meter,” kata sang pilot. Suaranya terdengar ramah, yakin dan tenang. Setelah itu, Garuda menanjak ke awan gemawan.

Musim kemarau panjang, kebakaran hutan di mana-mana, disengaja dan tak disengaja, di Kalimantan dan Sumatera. Lalu asap merambah kota, menghalau keindahan pagi, meniadakan lembayung di senjahari, juga menunda kedatangan saya di Palangkaraya, pagi ini.

Setiap kali asap kebakaran hutan jadi berita, saya ingat Jusuf Kalla semasa jadi wakil presiden di samping SBY, 2004-2009. Suatu hari, ia berpidato di depan khalayak kampus Universiti Kebangsaan Malaysia, ketika Kuala Lumpur sedang bersaput kabut asap dari Sumatera. Orang-orang negeri jiran bermasker di jalanan. Dan JK enggan meminta maaf. “Anda tak boleh marah ke Indonesia karena asap dari kebakaran hutan yang berlangsung hampir sebulan ini. Bukankah Anda juga tak pernah berterima-kasih kepada Indonesia ketika selama sebelas bulan lainnya, kami mengirim udara segar dari hutan-hutan yang lebat dan hijau di Sumatera dan Kalimantan?”

Indonesia, negeri besar yang dari ujung ke ujung berjarak tujuh jam penerbangan, 17.000 pulau, lautan yang luas, manusia yang ber-Tuhan, apa yang engkau risaukan?

Saya ingat tiga tahun lalu, saya berkereta cepat sejauh 700-an kilometer dari Moskow ke Saint Petersburg di Rusia, negara dengan wilayah terbesar di dunia. Sepanjang jalan, di sela-sela salju yang menggigilkan ada pepohonan, tapi hanya satu jenis pohon. Hanya pohon pinus semata-mata.

Atau perjalanan dari Paris ke Amsterdam, Paris ke Stuttgart, hanya melintas di hutan-hutan kecil — mungkin hanya dihuni tupai-tupai — dan rerumputan, gulungan merang serta ladang-ladang gandum. Pernah juga bermobil sejauh hampir seribu kilometer dari Hiroshima ke ujung Niigata di Jepang, hanya tanaman kerdil dan bebatuan di mana-mana.

Tak usahlah membayangkan perjalanan darat di Timur Tengah, negeri-negeri gersang yang mengandalkan hidup pada minyak. Naik bis sejauh 500-an kilometer dari Madinah ke kota Mekkah, dari Islamabad ke kota Peshawar, dan kota-kota lain, yang terlihat hanya tanah gersang semata-mata. Gurun-gurun yang terberkati, tapi sebagian kini diamuk perang.

Garuda berputar lagi selama 45 menit di udara Palangkaraya, pagi ini, karena pekat asap kebakaran hutan yang menghambat pandangan. Kami akhirnya mendarat dengan selamat dan tanpa guncangan.
Kota masih berkabut.

Saya mensyukuri hidup di negeri yang besar, yang sungguh kaya, yang tak diamuk huru-hara. Mungkin Koes Ploes berlebihan ketika melantunkan lirik: “…. tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Tapi segala melankoli dan sentimentalia memang hanya lahir dari batin yang terbuka, bukan mata hati yang terkatup.

Selamat pagi, Indonesia!