Kopi Pagi: Menumbuhkan Keyakinan

  • Bagikan

Ukim Komarudin* 

Tadi pagi, ketika Pak Mustafa mengurai hikmah Al Quran, beliau mengulas hal terpenting dalam ibadah. Bagaimana menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman menjadi keyakinan. Sedikit uraiannya, tetapi dalam makna yang berhasil disampaikannya. Ia mengulasnya melalui sebuah cerita.

Dalam suatu ajang atraksi sirkus, ada seorang penghibur yang sangat atraktif. Ia mampu meniti titian tali yang kuat terentang hanya dengan mengandalkan palang penyeimbang. Tentu saja, tali yang direntangkan tertaut di ketinggian yang cukup menggetarkan. Hebatnya, penghibur mampu hilir mudik berulang kali melewati titian dengan mudahnya.

Seperti biasanya,  seorang yang ingin menyuguhkan yang lebih atraktif, penghibur tadi melepas palang penyeimbangnya. Tanpa palang pun, ternyata ia menunjukkan kemudahan dalam melintas. Ia malahan bisa bersalto di titian itu sehingga semua orang  berdecak  kagum atas kemampuannya. Penghibur rupanya ingin meningkatkan lagi kesulitan yang harus dilakukannya. Itu artinya, ia ingin menunjukkan betapa dirinya memang memiliki kemampuan yang lebih hebat lagi selain yang sudah dilihat oleh semua penonton. Maka, ia mewara keinginanya kepada khalayak, “Saya ingin penonton merasakan debar jantung  yang saya rasakan. Caranya, saya bersedia menggendong salah satu penonton  yang berkenan bersama saya meniti tali ini.” katanya sambil menatap  penonton seolah menyisir keberanian mereka. 

Semua terdiam. Bahkan, beberapa penonton ada yang tertunduk menerima tantangan  itu. 

Penghibur sedih atas tanggapan penonton yang tidak merespons ajakannya. Sekali lagi ia mengajak dengan suara yang lebih ramah. Tetapi tak satu pun yang turut ajakannya.  Untunglah kemudian ada yang mengangkat tangan dan maju ke arah sang penghibur. Suara gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah sang pemberani. Ketika ia memanjat titian tangga, semua orang baru menyadari kalau si pemberani itu seorang anak kecil.  Penonton makin berdecak atas keberanian anak tersebut. 

Kini keheningan tarasa mencekam ketika anak kecil itu berada di gendongan sang penghibur. Dengan agak gontai, mereka memulai langkah-langkah awal. Dengan langkah yang lambat mereka menyusur titian. Beberapa kali berhenti tetapi kemudian maju kembali meski dengan langkah gontai. Akhirnya, setelah begitu lama dalam kehati-hatian, keduanya mampu mencapai papan aman di penghujung titian. Gemuruh tepuk tangan kembali memecah ruangan yang tadi ditelan kesenyapan. 

Begitu sang anak turun, beberapa mendatangi dan menyalaminya. Semua berdecak dan salut atas keberaniannya. Bahkan, ada yang bertanya terkait keberaniannya mengajukan diri sebagai “penumpang” di gendongan sang penghibur. Uniknya, Sebelum menjawab, sang anak  malah balik bertanya. 

“Bapak dan Ibu  melihat penghibur tadi meniti tali dengan lihainya?” 

Semua mengangguk. 

“Tetapi, mengapa Bapak-bapak tidak mengikuti ajakannya?” 

“Masalahnya sederhana, Nak. Saya tidak yakin jika dia mampu meniti sambil menggendong saya,” jawab salah seorang Bapak. “Tapi, kamu sendiri mengapa mau mengikuti ajakannya?”

“Sebab ia ayah saya. Saya sedih ketika tak satu pun penonton merespon ajakan beliau.” 

Semua terharu mengetahui alasan anak tersebut. 

“Ketika tak ada satu pun yang berani, saya maju ke depan untuk mengobati kekecewaan ayah saya. Saya harus menolong ayah dengan menunjukkan kemampuannya sehingga penonton semakin terhibur olehnya. Sehingga pemilik sirkus akan tetap menggunakan jasa ayah. ” 

Semua terdiam. 

“Tetapi dari semuanya ada yang lebih penting.  Saya yakin kalau ayah tidak akan mencelakakan saya.”

Pak Mustafa, kemudian menutup cerita itu dengan menyampaikan kandungan maknanya.

“Demikianlah kondisi kita dalam beramal saleh. Kita seharusnya mampu meningkatkan amal kita dari sekedar tahu menjadi mampu melaksanakan segala titah-Nya dengan berbekal keyakinan. Bisa jadi, kita tahu bahwa tahajud itu amal terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang hamba. Kita juga tahu bahwa orang yang melakukannya akan mendapatkan tempat paling mulia oleh Allah SWT. Tetapi mengapa kita tidak mau melakukannya?  Karena kita tidak yakin atas apa-apa yang telah dijanjikan,  bahkan ditunjukkan kepada kita berupa karunia-Nya. ”

Semoga Allah menganugrahkan kayakinan kepada Allah sehingga kita menjadi orang-orang yang dimudahkan dalam beramal saleh. ***

* Ukim Komarudin adalah Kepala Sekolah SMP Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan

  • Bagikan