Kopi Pagi: Nawa Cita Citata

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh Nusa Putra*

Sakitnya Tuh Disini
(Cita Citata)

Sakitnya tuh di sini Di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini Melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini Pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini Kau menduakan aku


Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku
Di depan mataku
Kau sedang bercumbu
**************************


Aku Mah Apa Atuh
( Cita Citata)


aku mah apa atuh
cuma selingkuhan kamu
aku mah apa atuh
cuma pacar gelapmu


sakit hatiku kau acuhkan aku
kau tak peduli denganku
kau bagi cintamu, kau permainkanku
kau berbuat semaumu


aku mah apa atuh, cuma selingkuhan kamu
aku mah apa atuh, cuma pacar gelapmu
aku mah apa atuh, cuma selingkuhan kamu
*******************

Lagu pertama berhasil melejitlambungkan Cita Citata sebagai penyanyi sohor. Lagunya bahkan digemari anak-anak balita. Mereka menyanyikannya sambil bergoyang. Lagu ini juga populer di kalangan ibu-ibu yang rajin senam. Dinyanyikan dengan gaya remix. Cita Citata langsung menjadi bintang cerlang dalam industri hiburan.

Lagu kedua mengokohkan keberadaan Cita Citata dalam persaingan jagat hiburan kita. Lagunya sangat digemari banyak kalangan dan berbagai usia. Menariknya dua lagu yang melambungkan nama Cita Citata bertemakan ketidaksetiaan, ingkar janji dan perselingkuhan.

Lagu yang dinyanyikan Cita Citata pastilah terkait hubungan cinta antarindividu. Mari kita bayangkan lagu Cita Citata dalam konteks hubungan rakyat dengan pemerintah yang telah merumuskan tujuannya dalam Nawa Cita.

Apakah pemerintahan dijalankan dengan semangat Nawa Cita yang merupakan janji yang diucapkan selama masa kampanye pilpres?Apakah kebijakan-kebijakan dan keputusan-keputusan selama Presiden Jokowi memerintah dalam waktu setahun ini mendorong tercapainya janji yang telah diungkap dalam Nawa Cita? Apakah rakyat yang ditempatkan sangat penting dalam Nawa Cita, dalam kenyataannya sungguh diperhatikan dan dijadikan pertimbangan utama atau hanya dijadikan alasan dalam politik pengatasnamaan sehingga pada hati rakyat muncul rasa sakitnya tuh di sini dan aku mah apa atuh?

Kebijakan energi Pemerintahan JKW-JK boleh jadi akan sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Tetapi faktanya meningkatkan angka kemiskinan pada saat ini. Sebab kenaikan harga BBM pasti sangat berpengaruh pada tingkat kemiskinan masyarkat.

Dalam kaitan ini Sindonews.com (1.10.2015) memberitakan: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo menyatakan, naik turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) akan berpengaruh pada kemiskinan dan upah buruh.

Hampir semua sektor membutuhkan energi, sehingga jika terjadi fluktuasi harga BBM atau harganya naik sedikit, akan berpengaruh juga pada harga kebutuhan lain bahkan berdampak pada daya beli masyarakat.

“Bahan makanan butuh angkutan, jadi enggak kena kenaikan. Hampir semua sektor membutuhkan energi pasti akan terjaga. Makanya setelah kenaikan BBM setahun dampaknya kerasa. Masalahnya kalau BBM naik yang lain ikut naik. Kalau turun itu menjaga yang lain enggak naik. Tapi enggak menurunkan harga juga,” katanya di Gedung BPS, Kamis (1/10/2015)‎.

Pada kesempatan lain, Sindonews.com (15.09.2015) menulis:  Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, penduduk miskin di Indonesia per Maret 2015 mencapai 28,59 juta orang atau meningkat 0,26% dari September 2014.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, data tersebut diambil berdasarkan 300.000 sampel yang disebar pihaknya ke berbagai provinsi.

Kedua berita di atas menegaskan bahwa pada masa awal pemerintahan, kebijakan Presiden Jokowi meningkatkan jumlah penduduk miskin. Tidak mengherankan bila ada pihak yang menuding Presiden Jokowi mulai mengingkari janjinya yang tertuang dalam Nawa Cita.

Mungkin saja, dan kita sangat berharap, pada masa akan datang Pemerintahan JKW-JK berhasil menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, faktanya sekarang ini yang terjadi adalah meningkatnya angka kemiskinan.

Saat JKW-JK memulai pemerintahannya, terjadi gangguan ekonomi yang bersifat global. Sejumlah negara mengalami penurunan nilai mata uang. Bukan hanya kita, Malaysia bahkan Jepang juga mengalami. Penurunan nilai tukar uang Malaysia lebih parah dibandingkan rupiah. Itulah sebabnya pejabat pemerintah termasuk JKW-JK dan partai pendukung JKW-JK menjadikan fakta masalah ekonomi global ini sebagai argumentasi untuk membela diri.

Sebagai rakyat kita cuma bisa bilang, sakitnya tuh di sini. Karena apapun argumentasi pemerintah dan partai pendukungnya, faktanya penurunan rupiah yang cenderung terjun bebas menggerus daya beli masyarakat. Juga menggerus devisa negara. Akibatnya rakyat miskin makin terpuruk.

Kita semua, tentu saja terutama para petinggi negara, sangat paham bahwa ekonomi kita rentan dan mudah terpengaruh oleh kondisi ekonomi global. Oleh karena itu kita tidak bisa terima jika kondisi ekonomi global yang dipersalahkan bila terjadi gangguan ekonomi dalam negeri.

Pertanyaan kita adalah, apa yang dapat dan telah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi pengaruh negatif ekonomi global yang pasti terjadi itu? Pemerintah dinilai dari kemampuannya untuk mengatasi dan mengantisipasi pengaruh buruk ekonomi global yang pasti terjadi. Bukan malah menjadikan kondisi ekonomi global sebagai alasan untuk menyelamatkan posisi. Cara ini bukan saja tidak tepat, juga menunjukkan kelemahan tatakelola pemerintah terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Harus diakui dengan jujur, meski akhirnya Presiden Jokowi mengganti menteri-menteri yang terbukti tidak efektif dan gagal, serta mengambil langkah-langkah yang membuat rupiah menguat kembali. Namun, keterlambatan mengambil keputusan itu telah sangat merusak kondisi ekonomi kita dan membuat rakyat makin menderita.

Masalah yang juga sangat mengganggu pada masa awal Pemerintahan JKW-Jk adalah pembakaran hutan dan lahan, bukan kebakaran sebagaimana selama ini diberitakan, yang menimbulkan bencana kabut asap.

Saat dilantik 20 Oktober 2014, Pemerintahan JKW-JK sudah menghadapi persoalan kabut asap akibat pembakaran hutan. Saat itu Presiden Jokowi berjanji akan mengusahkan tak akan ada lagi kabut asap. Namun, menjelang satu tahun pemerintahannya, bencana kabut asap benar-benar dahsyat karena wilayah yang mengalami bencana sangat luas, sangat lama sampai membutuhkan bantuan asing untuk memadamkan api, dan merenggut korban nyawa.

Bencana kabut asap karena pembakaran hutan sudah sangat lama berlangsung, sejak zaman Orde Baru. Presiden berganti berkali-kali, namun tidak ada yang mampu mencegah terjadinya pembakaran lahan dan hutan. Padahal sangat jelas pola dan cara kerjanya. Setiap kali hutan dan lahan dibakar, lahan tersebut ditanami pohon kelapa sawit. Secara mudah bisa disimpulkan siapa yang membakar dan untuk keperluan apa pembakaran dilakukan.

Artinya, pembakaran lahan dan hutan sangat mudah dicegah bila pemerintah dengan tegas bertindak. Bayangkan, untuk mengumumkan perusahaan pembakar hutan saja pemerintah terus menunda. Mencari waktu yang tepat, katanya. Kita sama sekali tidak mengerti mengapa mengumumkan perusahaan yang diduga pembakar lahan dan hutan pemerintah terus menunda. Wajar bila muncul dugaan, ada ” batu di balik udang”.

Mestinya pemerintah berani dan segera bertindak tegas. Karena kerugian yang diderita rakyat akibat pembakaran lahan dan hutan sangat dahsyat. Bencana asap bahkan telah mengganggu masyarakat ASEAN. Bencana itu telah mengganggu Malaysia, Singapura, dan Thailand. Meskipun kali ini Malaysia dan Singapura tidak berteriak sekencang dulu. Sebab sebagian dari pembakar lahan dan hutan itu adalah pengusaha yang berasal dari negeri mereka.

Kita sungguh berharap, Presiden Jokowi menegaskan janjinya dalam butir pertama Nawa Cita yaitu kehadiran negara untuk menjamin keamanan bagi bangsa.

Catatan lain yang juga penting adalah pembunuhan sadis yang dialami aktivis lingkungan Salim Kancil. Pelakunya memang sudah ditahan dan dijadikan tersangka. Namun ada pertanyaan penting yang belum terjawab. Siapakah orang kuat yang mampu memerintahkan penambangan illegal yang jelas-jelas melanggar hukum dan merugikan rakyat dan negara? Mengapa bisa terjadi penambangan liar di tempat terbuka dan merusak lingkungan dalam jangka panjang? Mengapa aparat hukum baru bertindak setelah jatuh korban? Kemana negara pergi saat penambangan liar itu berlangsung?

Pembunuhan sadis Salim Kancil dan pembiaran penambangan liar yang jelas-jelas merusak lingkungan, merugikan rakyat, dan melanggar hukum menunjukkan bahwa butir kedua Nawa Cita tentang pemerintahan yang bersih, efektif dan terpercaya masih sangat jauh dari harapan. Negara yang diwakili pemerintah selalu datang terlambat. Setelah korban jatuh, sesudah ada yang tewas.

Kita sepenuhnya paham tidak ada presiden di dunia ini yang mampu mewujudkan semua janji-janji politiknya. Karena itulah janji-janji politik itu sering disamakan janji ABG yang lagi jatuh cinta. Gampang diucapkan, tetapi memang tidak ada keseriusan untuk dilaksanakan, karena merupakan cara gombal untuk menundukkan hati sang pacar.

Sejauh ini, selama masa kepemimpinan Presiden Jokowi, kita melihat ada suasana kayak begitu. Tentu saja kita juga mengakui tidak sedikit pencapaian yang telah ditunjukkan. Namun dibandingkan Nawa Cita yang hebat itu, apa yang dicapai belumlah seberapa. Boleh jadi karena pemerintah baru bekerja satu tahun.

Kinerja satu tahun Pemerintahan JKW-JK mendorong kita sebagai rakyat menyatakan, sakitnya tuh di sini. Aku mah apa atuh.

INDONESIA HEBAT JIKA PEMIMPINNYA TEGAS DAN KONSISTEN MEMENUHI JANJINYA.

*Dr. Nusa Putra, M.Pd, dosen Universitas Negeri Jakarta