Beranda Views Kopi Pagi Kopi Pagi: Negeri Salah Urus

Kopi Pagi: Negeri Salah Urus

238
BERBAGI

Dahta Gautama*

Sampah. Kata ini secara harfiah artinya barang yang tak berguna, busuk dan mengandung bakteri. Bisa menyebabkan gangguan kesehatan dan tak enak dipandang.

Dalam persfektif yang lebih luas, manusia yang tak ada nilai pakai, kotor (perilaku), busuk (tabiat) dan tidak menyenangkan adalah juga sampah. Artinya manusia yang secara fisik adalah makhluk tetapi secara manfaat adalah barang tak berguna. “Manusia sampah” barangkali adalah orang secara individu atau kelompok, bekerja dalam indikasi merugikan manusia lain. Ironisnya, manusia macam ini sangat padat.

Seseorang yang beraktivitas merugikan dengan modus merampas hak orang lain dengan cara khas (kasar) maupun dengan cara yang berintrik sangat santun juga adalah rampok. Sosiolog, Selo Sumardjan, pernah mengatakan bahwa seseorang terpaksa merampok karena hak-haknya untuk hidup telah dirampok orang lain.

Apa yang diungkapkan Selo Sumardjan, membuat saya mafhum, ketika ternyata dalam 24 jam rutinitas kehidupan ini, telah dirampok. Pikiran kita dirampok iklan-iklan dan sinetron di televisi yang dengan sangat asyiknya meminta kita untuk mengkhayal.

Dalam kontek lain, kita telah dirampok oleh salah yang dipelihara sejak kala. Misalnya, pungli, dari pungli yang dilakukan polisi di jalan sampai “pungli wewenang”  yang dilakukan pemangku jabatan, atas dana negara: mulai dari kepala sekolah sampai kepala dinas. Atau penggembosan uang pajak oleh pegawai kantor pajak. Tangan bertemu tangan dibawah meja.

Tidak pernah sepi order merampok di negeri ini, tak terlepas dari korelasi sejarah bangsa yang terjajah selama tiga setengah abad. Dalam tatanan birokrasi eksekutif, apa yang kini “santer” beredar ditengah masyarakat adalah penyesalan karena merasa telah salah memilih Presiden.

Dari urusan kusut di tingkat desa, sampai soal ratusan ribu buruh Sudra asal China didatangkan ke Tanah Air. Padahal, negeri ini, sangat “jembar” pengangguran.

Dari tingkat desa, terkini, seorang kepala desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, membantai warganya sendiri (Salim Kancil dan Tohan), dengan sebab yang kentara, ingin mengusai kekayaan sumber daya alam desa, dengan seluas-luasnya, segala cara jadi halal. Termasuk membunuh. Ini perkara yang “terang” karena tersebar di televisi. Yang tak populer, ribuan keadaan serupa ini, bisa saja terjadi saban hari.

Inilah  wajah buram Indonesia dalam bentuk yang nyata. Harga-harga tak sudi turun, miskin selama-lama, nganggur semau-mau, pungli sepuas-puasnya, listrik byar pet sesukanya dan orang-orang banyak yang gila atau bahkan bosan hidup: namun terpaksa harus hidup untuk menikmati susah dan nonton penderitaannya sendiri. ***

* Orang Biasa