Beranda Views Kopi Pagi Kopi Pagi: Top

Kopi Pagi: Top

1094
BERBAGI

Nusa Putra

SEMUA pohon memiliki akar. Akar tunjang atau serabut sama saja fungsinya. Begitupun pohon keluarga. Ranting dan anak ranting keluarga yang terus bertumbuh, hanya dapat tumbuh karena ada akar sebagai sumber kehidupan.

Semua manusia berakar dari Adam dan Hawa. Kecuali yang percaya pada teori evolusi Darwin. Mereka keturunan monyet. Meski berakar dari manusia yang sama, namun dalam perkembangannya terjadi banyak perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Banyak faktor yang membuat perbedaan itu terjadi. Perbedaan antar manusia terjadi karena perbedaan gen. Kita sampai kini belum mengetahui dengan jelas dan pasti. Bagaimana manusia yang berasal dari gen Adam dan Hawa bisa sangat berbeda satu sama lain seperti yang kita saksikan sekarang. Ada orang Afrika yang hitam, dan orang Eropa yang putih. Meski sama sipit matanya, dan putih kulitnya, tetapi orang Cina, Jepang dan Korea itu berbeda. Bahkan terdapat perbedaan antara sesama orang Cina.

Boleh jadi perbedaan itu terjadi karena makanan, dan kondisi lingkungan memengaruhinya. Keturunan Adam yang hidup di pegunungan memakan makanan yang berbeda dengan yang hidup di pantai. Kondisi kedua lingkungan yang berbeda, membuat mereka tumbuh kembang dengan cara yang berbeda dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sama. Akhirnya lahirlah tradisi dan budaya yang berbeda. Ada pengaruh timbal balik antara manusia, lingkungan, tradisi dan budaya yang memunculkan segala perbedaan antarmanusia

Perbedaan akan terus berkembang dan beragam bila orang-orang yang berbeda ini kemudian melakukan pernikahan. Terjadi perpaduan gen yang melahirkan orang-orang dengan ciri fisik yang baru dan unik. Begitulah seterusnya.

Kita tidak tahu, akan jadi seperti apa manusia masa depan. Perbaikan gizi, perubahan iklim, kehadiran teknologi, perubahan cepat dalam segala bidang kehidupan pasti ikut menentukan manusia masa depan itu. Boleh jadi, manusia masa depan akan memperlakukan kita, seperti kita memperlakukan dinosaurus saat ini. Kita dianggap makhluk aneh dan hanya pantas dijadikan bahan cerita untuk komik dan film. Dalam cerita dan film itu ditunjukkan betapa bodoh kita. Makhluk purba yang tidak memiliki budaya.

Oleh karena itu perlu rasanya memberikan pemahaman kepada anak-anak kita tentang akar keberadaan mereka. Asal-usul dari mana buyut, kakek-nenek, dan ayah ibu mereka. Paling kurang, memperkenalkan asal-usul keluarga bisa memberi pemahaman dan penghargaan pada beragam perbedaan yang kini mereka lihat dan jalani.

Tidak semua orang beruntung sempat bertemu dengan kakek-nenek. Apalagi dengan buyut atau orang tua kakek neneknya. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang tidak pernah bertemu ayah atau ibu, bahkan keduanya. Sebab ayah ibu sudah mendahului kita, memenuhi penggilan Ilahi.

Dalam kerangka itulah, Idul Fitri kali ini kumanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan masa lalu. Meski berdoa dari jauh dengan keikhlasan akan membantu mereka yang sudah meninggal, dengan sengaja aku bawa anak-anakku ke makam kakeknya yang  meninggal 27.3.2015 di Lubuk Pakam, sebuah kota kecil yang berjarak satu jam dari Medan.

Kedua anakku beruntung karena pernah bertemu dengan ayahku, namun tak sempat bersua dengan ibuku. Mereka juga berkesempatan berinteraksi dengan bapak dan ibu istriku. Penting bagiku menjelaskan akar keindonesiaan mereka.

Ayahku merupakan anak kedua. Bapak ayahku orang Aceh dan ibunya berasal dari Pacitan. Sementara ibuku memiliki ayah-ibu Melayu Deli. Istriku memiliki ayah ibu asal Nganjuk, Kertosono. Itu artinya anakku memiliki asal Sumatera dan Jawa. Aceh, Melayu Deli, dan Jawa Timur.

Tentu saja, silaturahmi juga dilakukan dengan yang masih hidup. Kedua anakku bertemu dengan saudara-saudaranya yang berasal dari keluarga besar ibuku. Ada puluhan anak memanggil mereka ibu dan bapak. Anak perempuanku yang sudah kuliah di IPB dan bungsuku yang baru masuk SMA merasa kurang nyaman. Sebab mereka disapa dengan bapak dan ibu. Sedangkan dengan saudara-saudara ibunya di Jakarta  mereka dipanggil kakak dan abang. Maklumlah, banyak keponakanku yang telah memilik anak. Aku harus rela dipanggi kakek. Yang penting bukan kakek-kakek.

Kami ke makam nenek dan kakekku, setelah ke makam abang ipar, sepupu dan uwakku. Makam kakekku jauh di pedalaman. Kuburan keluarga yang hanya terdiri dari tiga kuburan. Penting bagiku membawa kedua anakku ke makam ini. Karena anakku tidak yakin bahwa kakekku bernama Top. Mereka mempercayainya setelah melihat nama yang tertulis di makam.

Perjalanan ini merupakan cara terbaik untuk melengkapi berbagai ceritaku tentang keluarga dan masa kecilku. Mereka mendengar kisah kehidupanku dari orang-orang yang pernah hidup bersamaku sejak kecil hingga remaja.

Kita memang tidak hidup dimasa lalu, dikelampauan. Kekinian kita bisa merupakan kelanjutan dari kelampauan atau merupakan arah baru atau titik balik dari kelampauan. Masa depan atau keakanan kita boleh jadi terhubung sangat erat dengan kelampuan dan kekinian. Bisa jadi merupakan cerita dan arah yang sama sekali baru. Mungkin bertentangan dengan kelampauan dan kekinian.

Namun, jika memiliki kesempatan untuk melongoknya barang sebentar untuk lebih memahami diri sendiri dan konteks keberadaan diri, mengapa tidak dilakukan?

Saat menyusuri jalanan ke makam kakekku yang merupakan buyut mereka, kami sungguh berada dalam suasana dusun. Masih terdapat rumah panggung kuno. Salah satunya milik adik kakekku yang kini ditempati cucunya. Saat SD dan SMP aku sering menginap di situ.

Terdapat lingkungan, suasana, cara bicara, dan makanan yang sangat berbeda. Ada sejumlah kosa kata yang sama sekali tak dikenali oleh istri dan dua anakku. Dalam suasana seperti ini sebenarnya terjadilah perbincangan antarbuadaya, bukan sekadar antarmanusia.

Tidak selalu gampang untuk menyesuaikan lidah dengan makanan baru, juga dengan cara ucap yang tidak biasa. Meski tidak selalu mudah, namun pengalaman ini sangat berguna bagi tumbuh kembang anak-anak untuk merajut rangkai persaudaraan dan keindonesiaan.

Anak-anakku bertemu dengan wajah-wajah baru yang sangat berbeda dengan wajah ayahnya. Pasti muncul sejumlah pertanyaan mengapa wajah-wajah orang yang memiliki ikatan persaudaraan ini bisa sangat berbeda. Padahal hubungan persaudaraannya sangat dekat?

Sepupu dan keponakannku ada yang menikah dengan keturunan India, Arab, Pakistan, Cina, Bule dari Boston, Batak, Karo, Padang, Melayu Malaysia, Palembang, Jadel atau Jawa Deli, Sunda, Aceh, Madura, Banjar, dan keturunan campur sari seperti aku dan anak-anakku.
Fakta ini menegaskan betapa indah perbedaan itu.

Jika ditilik kembali ke masa lalu, sungguh ini anugerah sangat indah yang harus disyukuri. Top, kakekku, nikah dengan nenekku yang merupakan tetangga dekat rumah. Anak, cucu, dan cicitnya kini terus bertambah berkat pernikahan campur sari dengan orang-orang yang tidak lagi sekampung halaman. Bahkan berlainan pulau dan benua.

Kami hidup dalam kegembiraan dan kebersamaan. Menikmati perbedaan sebagai keadaan yang niscaya. Karena hakikinya perbedaan adalah kodrat kemanusiaan yang paling mendasar.
Fakta ini mestinya menjadi daya dorong agar

POHON KELUARGA DIMEKARKAN MENJADI TAMAN PENUH WARNA.

* Dr. Nusa Putra, M.Pd .adalah dosen Universitas Negeri Jakarta

Loading...